CEGAH KASUS BUNUH DIRI DI GUNUNGKIDUL, SATGAS BERANI HIDUP DIBENTUK

Senin, 07 Agustus 2017 13:47:43 Gunungkidul
WONOSARI (MERAPI)- Meskipun Pemkab Gunungkidul sudah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Berani Hidup untuk mencegah terjadinya kasus bunuh diri <I>(suicide)<P>, tetapi kasus mengakhiri hidup sendiri  masih  terus terjadi. Kali terakhir menimpa Par Palio (54) warga  Desa Balong, Kecamatan Girisubo yang ditemukan gantung diri di pohon belimbing  Minggu (6/8).  
 
Dengan terjadinya kasus ini maka belum genap 8 bulan jumlah kasus bunuh diri sudah mencapai 26 kasus atau mencapai rekor dibanding 10 tahun terakhir. .
 
Kepolisian  Gunungkidul mencatat dari tahun  2009- 2016  tercatat 190 orang tewas bunuh  diri atau dalam rata-rata setiap tahun 25 orang. Tetapi saat ini baru memasuki bulan ke 8 jumlahnya sudah mencapai 26  kasus. “Dari 26 kasus, terdapat 2 orang berhasil diselamatkan,” kata Kasubag Humas Polres Gunungkidul Iptu Ngadino Minggu (6/8).
 
Meningkatnya kasus bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul ini memang sudah terlihat sejak awal tahun 2017 lalu. Sejak Januari hingga memasuki  triwulan pertama jumlahnya sudah mencapai lebih 4 kasus   mengakhiri hidup sendiri. Memasuki tri wulan II hingga dalam hitungan satu semester    (6 bulan)  melonjak  menjadi  21 kasus  dan dari jumlah tersebut  terus meningkat hingga awal Agustus tahun ini sudah mencapai 26 kasus.  
 
Dari seluruh kasus yang terjadi, mereka mengakhiri hidup dengan cara gantung diri, sedangkan 2 korban diselamatkan dengan cara mencebur sumur dengan kedalaman 20 meter.Dari jumlah tersebut digolongkan dalam tingkat umur korban terbanyak masih didominasi pada kriteria usia antara 70- 85 tahun dan termuda  berusia 26 tahun.
 
Sementara  penyebab korban nekat mengakhiri hidup untuk  usia  70-85 tahun  tersebut  akibat putus asa lantaran menderita sakit tidak kunjung sembuh, 23  korban  akibat  depresi dan 1 korban lain akibat tekanan ekonomi dan lainnya mengalami gangguan jiwa.  
 
Dari sebanyak 26 korban tewas diketahui  1 korban pria berusia muda nekat mengakhiri hidup lantaran putus asa akibat gagal menikah. Diakui bahwa upaya menekan terjadinya bunuh diri bukan mutlak menjadi tanggung jawab kepolisian.
 
Bahkan saat ini pemerintah juga sudah membentuk Satgas Berani Hidup, tetapi satgas bentukan pemerintah kabupaten tersebut hingga kini  belum  banyak memberikan dampak. Karena kasus bunuh diri masih terus terjadi dan terjadi hampir setiap minggu.
 
Terkait dengan upaya menekan angka bunuh diri kepolisian sudah menggalang kerja sama dengan seluruh pihak. Selain dengan pemerintah kabupaten, kepolisian juga mengajak Tokoh Agama (Toga) dan Tokoh masyarakat (Tomas) untuk mencegah bunuh diri tersebut.
 
“Kita berharap kasus bunuh diri bisa ditekan dan  kami minta peran seluruh masyarakat  terus ditingkatkan," terangnya. (Pur)

 

Related Post