KORBAN FIRST TRAVEL DI YOGYA HARAP-HARAP CEMAS

Jumat, 11 Agustus 2017 19:28:34 Hukum
YOGYA (MERAPI) - Bos biro perjalanan First Travel (FT), Andika Surachman dan istrinya Anniesa Hasibuan dibekuk aparat Bareskrim Mabes Polri terkait dugaan penipuan ribuan calon jemaah umrah, Rabu (9/8). Meski bos biro perjalanan itu sudah dibekuk, ratusan korban FT di Yogya masih harap-harap cemas. Mereka khawatir nasib pengembalian dana semakin tidak jelas. Meski begitu, para korban mengaku lega karena pemerintah hadir dalam kasus ini. 
 
"Ya kami cemas sekaligus lega. Di satu sisi kami cemas terkait nasib uang kami. Di pihak lain kami juga lega akhirnya negara bisa hadir dalam masalah ini. Saya berharap dengan hadirnya negara, semuanya jadi lebih terang benderang dan ada solusinya," kata salah satu korban FT, A Basuki, yang tinggal di kawasan Kraton, Yogya kepada Merapi, Kamis (10/8). Dia mengaku tahu informasi penangkapan bos FT dari media online. 
 
Seperti diberitakan, ratusan calon jemaah umrah di Yogya tertipu promo umrah murah yang ditawarkan biro perjalanan First Travel. Mereka tergiur karena ongkosnya tergolong murah, yakni Rp 14,3 juta. Di seluruh Indonesia, korban diduga berjumlah ribuan. 
 
Korban FT lain, Zein Musta'in warga Ngestiharjo, Kasihan, Bantul menambahkan, pilihan dana kembali atau menunggu keberangkatan yang tidak pasti merupakan opsi yang sama-sama tidak mengenakkan. Ia masih menunggu itikad baik dari Andika Surachman yang berjanji memberangkatkan total 10.000 jemaah pada bulan November dan Desember 2017. 
 
"Kabarnya, kawan-kawan yang mengajukan refund (pengembalian dana) sejak April 2017 hingga saat ini belum juga cair. Padahal sudah lebih dari 90 hari kerja seperti yang dijanjikan pihak FT. Jika sampai tahun 2017 habis saya dan istri tidak diberangkatkan, kami akan menempuh jalur hukum," kata Zein. Zein mengaku mengapresiasi kepolisian yang saat ini telah memblokir rekening milik Andika Surachman. Ia meminta agar polisi juga menyita aset-aset milik FT sehingga jika nanti dinyatakan pailit, maka aset-aset itulah yang dibayarkan kepada korban.
 
Muh A Khusna, salah satu agen FT di Yogya berharap agar setelah penangkapan oleh kepolisian, ada percepatan solusi terhadap nasib para jemaah. 
 
"Kami sebagai agen hingga saat ini hanya diberi janji oleh Andika Surachman dan tak pernah terealisasi. Termasuk soal pengembalian dana (refund). Bahkan hingga 90 hari kerja seperti yang dijanjikan FT, hingga kini juga tidak pernah cair," kata Khusna, sapaan akrabnya.
 
Khusna mengimbau kepada seluruh korban FT agar tetap tenang. Sebab, kepolisian telah memblokir rekening milik Andika. Selain itu, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) juga telah masuk dalam kasus ini sehingga aliran dana dari para korban dapat dilacak. 
 
Dia mengaku geram FT masih terus promosi dan pencitraan di media sosial meski OJK telah membekukan bisnis jasa umrah dan Kemenag telah mencabut izin umrah. Pihaknya hanya meminta kepada FT untuk mengembalikan dana secepatnya atau memberangkatkan umrah dengan disertai bukti booking seat yang terkonfirmasi maskapai. "Kami lelah hanya diberi janji-janji yang tidak pasti," imbuhnya.
 
Sita Aset
 
Di Jakarta, Luthfi Yazid dari Tim Advokasi Penyelamat Dana Umrah (TPDU) mengapresiasi kepolisian yang telah menangkap bos First Travel. Dia juga meminta agar kepolisian juga menyita aset-aset First Travel untuk jaminan.
 
"Penahanannya sudah oke. Kami minta polisi juga sita aset-aset First Travel, untuk jaminan ke korban," kata Luthfi Yazid. Luthfi juga meminta agar polisi menggunakan kewenangannya termasuk menyita dan menelusuri aset. 
 
Kabag Penum Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul di Mabes Polri menuturkan, bos First Travel dan istrinya, Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari, ditahan penyidik Bareskrim Polri terkait dengan kasus penipuan perjalanan umrah. Tak hanya soal penipuan, Polri juga akan menelusuri ada-tidaknya pencucian uang.
 
"TPPU kita akan sidik. Karena paling gampang temukan aset melalui penyelidikan TPPU-nya," kata Martinus Sitompul. 
Polri akan menyelidiki tindak pidana pencucian uang agar lebih mudah menelusuri aset-aset tersangka. "Dengan TPPU, kita bisa telusuri aset. Misal dia punya bank apa saja. Bank A, misalnya, kita blokir, baru kita sita. Itu dengan TPPU. Kalau cuma dengan (pasal) penipuan, penggelapan, tidak bisa," ujar Martinus.
 
Martinus menambahkan, polisi juga akan menyita aset. Namun, hanya aset yang berhubungan dengan tindak pidana penipuan yang akan disita. Sementara itu, untuk mengembalikan uang jemaah, Martinus mengatakan hal itu akan diputuskan pengadilan. Polri baru akan menyita aset tersebut sebagai bukti di pengadilan.
 
"Aset akan kita sita. Misalnya kalau ini penipuan, penggelapan uang jemaah yang disetor, dilihat uang ini jadi apa, kalau dalam bentuk uang kita sita, tapi tidak bisa langsung dikasih ke jemaah. Karena untuk penyidikan, barang bukti, pengadilan nanti yang tetapkan," imbuhnya.
 
Dalam kasus ini, Polri baru menjerat kedua tersangka dengan Pasal 55 jo Pasal 378 (penipuan) dan 372 (penggelapan) KUHP serta UU No 19 Tahun 2016 tentang ITE. 
 
Martinus juga mengungkapkan, sebanyak 35.000 calon jemaah belum diberangkatkan umrah. Total jemaah yang mendaftar ke First Travel sekitar 70.000 orang. Sebanyak 35.000 jemaah telah diberangkatkan, sisanya masih menunggu kepastian keberangkatan.
 
Ia mengatakan bukan hanya jemaah yang resah tidak dapat berangkat ke tanah suci. Para agen yang direkrut juga ikut cemas akibat diprotes jemaah lainnya.
 
"Jadi yang resah itu itu bukan cuma jemaah. Tapi para agen juga, sehingga bukan jemaah yang melapor. Tapi inisiatif agen, dia menyampaikan yang dia laporkan itu karena dia dikejar-kejar," kata Martinus.
 
Sebelumnya, Andika Surachman dan Anniesa Desvitasari, ditangkap Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri. Keduanya ditangkap di kompleks Kemenag pada Rabu, 9 Agustus, pukul 14.00 WIB. Kini keduanya ditahan di Rutan Bareskrim cabang Polda Metro Jaya.(Oin)
 

Related Post