HIDAYAH-SAKIT INGATKAN ANISA BERBAKTI KEPADA ORANGTUA

Minggu, 13 Agustus 2017 19:10:11 Kearifan
UNTUK urusan salat berjemaah 5 waktu, Anisa (semua nama disamarkan) adalah juaranya. Meski wanita tidak wajib salat berjemaah di masjid, Anisa selalu rutin salat di masjid tak jauh dari rumahnya. 
Ia juga rutin mengikuti pengajian baik di masjid atau di kumpulan jemaah. Tidak hanya itu, Anisa juga rutin menyedakhkan uangnya untuk kepentingan Islam. 
 
"Ini saya titip uang Rp 100.000 untuk tambah biaya konsumsi pengajian rutin hari Minggu besok di masjid," kata Anisa sembari menyerahkan uang kepada perwakilan takmir masjid. 
 
Kebaikan yang acap kali dilakukan Anisa rupanya tak terbawa sampai ke rumah. Kebetulan bapaknya yang sudah sepuh tinggal serumah dengannya. Lantaran sudah tua, kerap kali lupa menaruh sesuatu. Nah, di kala itulah Anisa sering memarahi bapaknya itu. 
 
"Makanya kalau menaruh sesuatu itu diingat-ingat to pak. Kalau seperti ini kan aku yang repot," kata Anisa dengan nada tinggi kepada bapaknya, Mahmud. 
 
Mahmud yang memang sudah tua renta hanya terdiam saja sambil menghela napas panjang. Ini bukan bentakan yang pertama pada hari itu. Setidaknya Anisa sudah menghardik bapaknya dua kali. Itu terjadi hampir setiap hari ketika Mahmud melakukan kesalahan. 
 
Namun, Mahmud sadar diri. Ia sudah tua renta dan tak memiliki siapa-siapa lagi selain Anisa. Oleh karenanya ia tetap bersabar.
 
"Ya Allah SWT mohon ampuni dosa anakku. Mohon pula buka hatinya untuk tidak seperti itu kepada bapaknya sendiri," rapal Mahmud setiap kali selesai salat lima waktu berjemaah di masjid.
 
Rupanya doa Mahmud itu diijabah oleh Allah SWT. Beberapa waktu kemudian Anisa mendapatkan cobaan sakit tipes yang mana harus opname di rumah sakit. Meski Mahmud kerap jengkel karena perilaku anak perempuannya itu, dia tak tega melihat anaknya di rumah sakit. 
 
Ia pun menawarkan diri kepada anak dan suami Anisa untuk ikut gantian jaga. "Aku jaga pagi saja, supaya kalian bisa kerja dan sekolah," kata Mahmud kepada suami Anisa. 
 
Dalam kondisi tak berdaya Anisa melihat betapa bapaknya yang sudah renta itu masih bersedia menunggui saat sakit. Mahmud juga tak sungkan mengambilkan minum atau makanan. Dengan perawatan yang optimal, setelah dirawat sekitar 2 pekan akhirnya Anisa diperbolehkan pulang. 
 
Nah saat sudah di rumah ia membuka perbincangan dengan Mahmud. "Pak, maafkan sikapku selama ini kepada bapak. Beri kesempatan aku untuk bisa berbakti," kata Anisa menangis sesenggukan sembari sungkem di lutut bapaknya. 
 
Melihat hal itu, Mahmud segera menegakkan anaknya itu. Ia berujar, yang lalu biarlah berlalu. Mahmud meminta agar Anisa mengubah hal yang buruk dan membuka lembaran baru. "Bapak sudah memaafkanmu nak. Mungkin sakitmu kemarin menjadi penggugur dosanya sekaligus menjadi momentum Allah SWT mengingatkanmu," kata Mahmud. 
Setelah kejadian itu, Anisa merawat bapaknya dengan total. Setiap hari segala kebutuhan bapaknya itu dicukupi. Ia juga tak pernah menghardik. Kini Anisa bisa lebih sabar menghadapi bapaknya yang kian uzur. 

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sakali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkatan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS Al Isra' : 23). (Oin)
 

Related Post