SEMBUH DARI LUMPUH SETELAH BERDAKWAH KELILING

Kamis, 24 Agustus 2017 10:37:22 Kearifan
DURHAIM (49) tidak pernah membayangkan dirinya harus duduk di kursi roda seperti. Tidak jelas apa penyebab lumpuh yang dideritanya seja. Padahal sebelumnya ia sosok perkasa, pekerja ulet dan penuh teladan bagi banyak orang, di lingkungan kantor maupun tempat tinggalnya.
 
Yang dia ia ingat, sekitar lima tahun lalu di suatu pagi mendapatkan kondisi tubuhnya yang kaku, mulut pun terkunci. Lumpuh kategori permanen ini membuatnya harus meninggalkan pekerjaan kantoran. Sedangkan kendali ekonomi diambil alih istrinya dengan banting stir dari sekadar ibu rumah tangga menjadi penjual nasi yang dititipkan di warung-warung.
 
Durhaim pernah putus asa. Pada tahun pertama kelumpuhannya lebih memilih mengurung diri di dalam rumah. Ia bahkan pernah merasa ketidakadilan tuhan,  lalu mencoba bunuh diri meminum racun serangga. Beruntung, usaha bunuh diri berhasil digagalkan oleh istrinya yang setia mendampingi di rumah. 
 
“Apakah hidup mesti berakhir di atas kursi roda ini, Bune,” tanya Durhaim kepada istrinya. Pertanyaan serupa sering dilontarkan di setiap kesempatan. Tapi istri senantiasa mengajaknya bersabar dan berserah diri. Bukan malah mengeluh dan memaki-maki tanpa arah, apalagi menjauh dari kewajiban sebagai seorang hamba.
 
Durhaim yang sejak 30-an tahun tidak menjalankan salat itu kali ini manut. Ia mulai menjalankan salat. Bukan hanya di rumah, tetapi juga di asjid. “Bapak ada kemajuan. Alhamdulillah sudah berani salat di masjid, tidak rendah diri lagi,” ujar istri Durhaim.
 
***
 
Di suatu magrib yang ditingkah rinai gerimis , suara semayup adzan mampir di telinga Durhaim. Ia gemetar menggerakkan kursi roda menuju tembok ruang tengah rumahnya. Direkatkannya telapak tangan nyake tembok untuk tayamum. Ia kemudian mengajak anak dan istrinya salat jamaah. Ya, kali ini ia menjadi imam bagi keluarganya.
 
Durhaim meneteskan airmata seusai mengucap salam dan berdoa. Dengan kekuatan penuh ia pun mencoba berdiri ingin memeluk istri dan anak-anaknya. Sebuah kejaiban terjadi, Durhaim bisa berdiiri, setapak demi setapak, merengkuh seluruh anggota keluarga. Hingga luruh airmata mereka dalam dekap erat dan lafaz serupa koor: Alhamdulillah. 
 
Sejak itu ia memilih menjadi penghotbah. Ia hidup bagai musyafir dari satu kota ke kota lain untuk memberikan wejangan tentang hikmah. Wejangan utamanya selalu bertumpu pada QS Albaqarah ayat 153: <I>yaa’ayyuhalladzina’amanusta’inuu bi sabri wassalati, innallaha ma’ashabiriin<P> (Hai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar).  (Met)

Related Post