TULUS AJARKAN ALQURAN BERBUAH KEMULIAAN

Minggu, 27 Agustus 2017 18:55:57 Kearifan
SADAR diri. Itulah yang dilakukan oleh Bernowo (semua nama disamarkan). Sadar jika dia memiliki pendidikan yang minim. Karena ketidakmampuan perekonomian keluarga, ia hanya lulus dari bangku SMP. Setelah itu ia bekerja. 
Meski pendidikan kurang, tapi tidak dengan urusan agama. Ini tidak lain dari didikan bapaknya yang sangat mengedepankan agama dalam keluarga. "Kita boleh kurang dari segi ekonomi dan pendidikan duniawi. Tapi tidak dengan pendidikan agama. Harus tetap belajar tinggi," kenang Bernowo yang saat ini usianya sudah menginjak kepala lima. 
Ya, ia diberi pendidikan agama dengan porsi yang besar dari seorang kiai yang terkenal di desanya. Di sela kesibukannya sebagai buruh panggul di pasar, setiap hari Bernowo remaja belajar Alquran dan hadis. 
***
Karena usia yang sudah tua, ia diminta ikut anaknya yang kini sudah sukses di kota. Anaknya tinggal di sebuah perumahan elite. Awalnya Bernowo menolak untuk diajak hidup dengan anaknya. Tapi setelah dipaksa, akhirnya Bernowo bersedia. Ini tak lain karena Bernowo kini tinggal sendirian di desa. Anaknya tidak tega melihat bapaknya hidup sendirian.
Di kompleks elite, Bernowo seperti dipandang sebelah mata. Ia tak pernah diikutsertakan dalam rapat warga karena sudah ada anaknya, Hino. 
Alhasil ia seperti sepi di tengah keramaian. Sebab, tidak ada orang yang bisa diajak ngobrol. Perumahan itu sepi karena penghuninya bekerja. Sehari-hari ia pun menyibukkan diri dengan salat berjemaah di musala perumahan sekaligus ikut membersihkan rumah ibadah itu.
"Biar saja. Aku senang kok bisa salat, bersihkan musala, dan azan. Sayang yang salat jemaah sedikit," kata Bernowo saat diperingatkan anaknya agar tidak capai-capai membersihkan musala.
Meski kadang ia sendirian atau paling banyak 2 makmum yang salat di musala, ia tetap istikamah meramaikan musala. Di musala itu ia kenal dengan ketua dewan kemakmuran musala bernama Mahmud. Setelah ngobrol akhirnya mereka berdua bersepakat untuk membuka kelas belajar Alquran bagi anak-anak secara gratis. "Barangkali ini bisa menjadi sarana agar musala kita semakin ramai," usul Mahmud. 
Tapi Mahmud mengaku, pekerjaannya di perusahaan menerapkan sistem shift. Dengan demikian ia tak bisa diandalkan untuk rutin mengajar. "Hanya saat shift saya tidak berbenturan saya pastikan bisa mengajar," kata Mahmud. 
Bernowo meminta teman barunya itu untuk santai saja. "Insya Allah saya siap untuk mengajar anak-anak," kata dia, mantap. 
Pengumuman pun disebar ke seluruh warga yang beragama muslim. Awalnya hanya 3 anak saja yang belajar ngaji bersama Bernowo. Kini sudah lebih dari sepuluh anak. Karena hanya dia sendiri dan kadang-kadang dibantu Mahmud, maka belajar pun digilir. Setiap anak dapat jatah belajar sepekan tiga kali selang-seling. 
Karena memiliki kemampuan baca Alquran yang baik, Bernowo bisa menyampaikan materi dengan mudah. Anak-anak pun jadi cepat bisa. Bahkan, ada beberapa orangtua yang belum bisa baca Alquran dan meminta agar dibantu belajar. 
"Tidak perlu malu kalau belum bisa belajar Alquran. Ayo nanti kita sama-sama belajar," ajak Bernowo yang diminta mengajar ngaji dua tetangga perumahan yang sudah berusia 50-an.
Karena budi baiknya ini, Bernowo kini <I>diajeni<P>. Tidak sedikit warga yang memberi uang ucapan terima kasih. Meski ia menolak, warga tetap memaksa agar Bernowo menerima uang tersebut. "Ini rezeki Pak Bernowo. Mohon jangan ditolak," kata Hadi, salah satu orangtua santri, yang juga tetangga di perumahan. 
Berkat ketulusan mengajarkan Alquran, kini Bernowo mendapatkan kemuliaan. Ia tak lagi dipandang sebelah mata. Meski demikian, Bernowo tetap sederhana dan seperti biasanya. Bagi dia ilmu harus harus diajarkan, utamanya terkait dengan belajar baca dan tulis Alquran. (Oin)
 

Related Post