KELANGKAAN GAS MELON MELUAS, HARGA MELAMBUNG TINGGI

Jumat, 08 September 2017 19:38:42 Bantul
MERAPI-RIZA MARZUKI
Tumpukan tabung gas melon kosong di pangkalan. 

PLERET (MERAPI) - Kesulitan warga Dlingo mendapatkan gas elpiji 3 kg belum teratasi, kini warga di beberapa kecamatan lain juga mengalami hal yang sama. Selain kecamatan Dlingo, warga di Kecamatan Pleret dan Kasihan juga sulit mendapatkan bahan bakar utama memasak ini. Mirisnya, akibat kelangkaan ini harga gas melon melambung tinggi. 
 
Bahkan warga sempat mendapati pangkalan gas elpiji yang menjual gas melon jauh di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditentukan pemerintah. Tidak tanggung-tanggung harga jual dari pangkalan mencapai Rp 21 ribu pertabung padahal HET gas bersubsidi ini hanya sebesar Rp 15.500 pertabungnya.
 
Dian, warga Desa Wonokromo, Pleret mengaku kesulitan mendapatkan gas melon dari warung-warung langganannya. Kondisi ini terjadi sejak sepekan terakhir atau pasca Idul Adha. Setiap kali pasokan gas datang di warung langsung habis dibeli warga yang khawatir tidak mendapatkan gas melon. Padahal harga jual gas tersebut Rp 23 ribu pertabung. “Tidak sampai sehari habis, kalau gasnya datang warga langsung antri nukar tabung kosong,” ungkapnya, Kamis (7/9) pagi.
 
Meskipun harganya terbilang tinggi, namun warga tetap membeli setelah dipastikan tidak mendapatkan gas di pangkalan resmi. Dian mengatakan pasokan gas di pangkalan yang masih satu dusun dengan tempat tinggalnya itu datang sepekan sekali. Namun sekali datang, banyak warga yang memborong dengan membeli lebih dari dua tabung. Bahkan beberapa di antaranya menggunakan motor dengan keranjang untuk kulakan gas tersebut. “Bakul-bakul bawa kronjot itu pasti sudah nunggu. Selesai diturunkan langsung diborong,”sebutnya.
 
Hampir sama seperti yang dialami Dian, salah seorang warga Kasihan Bantul sudah tiga hari ini kesulitan mendapatkan gas elpiji. Bahkan, menurut pria yang mewanti-wanti agar identitasnya dirahasiakan ini beberapa pangkalan gas resmi bertindak curang. Semenjak ketersediaan gas sulit, harga jual gas dari pangkalan naik derastis. Satu tabung gas yang seharusnya dijual sesuai HET, oleh pemilik pangkalan dijual Rp 18 ribu. “Pangkalan lain ada yang jual Rp 20 ribu dan Rp 21 ribu,” bebernya.
 
Sementara, saat dikonfirmasi, Koordinator Agen Gas Alpiji Bantul Ronny Hendro Wibowo mengaku heran dengan kelangkaan tersebut. Pasalnya kuota gas melon di wilayah Bantul tidak berkurang sama sekali. Sedikitnya kuota gas melon mencapai 22 ribu tabung perharinya. Namun begitu Ronny menduga kelangkaan yang terjadi ini akibat stok dari Bantul yang masuk ke daerah lain. “Wilayah lain kan juga ada kelangkaan, nah efeknya penjual dari daerah lain itu ambil gas di Bantul. Makanya disini (Bantul) ikutan sulit,” terangnya kepada Merapi.
 
Ronny mengatakan dugaan itu muncul lantaran kondisi ini pernah terjadi sebelumnya. Dampak kelangkaan yang terjadi di wilayah luar Bantul pasti akan berimbas pada ketersediaan gas di wilayah ini. Meski begitu pihaknya tengah melakukan pengecekan dengan koordinasi dengan agen yang memasok gas ke Bantul. Selain itu Ronny juga terus melakukan pengecekan di lapangan atas laporan warga yang mengalami kelangkaan. “Ini kita sedang kroscek-kroscek terus, yang pasti kuota gas tetap tidak ada pengurangan,” tegasnya. (C-1)

 


 

 

Related Post