Pemuda Harus Jadi Pioner Tangkal Hoax

Selasa, 26 September 2017 11:32:13 Sleman
Mandir Ahmad Syafi'i dalam saat pelatihan antihoax.

Pemuda Harus Jadi Pioner Tangkal Hoax

<B>DEPOK (MERAPI) -<P> Potensi penyebaran berita hoax di kalangan pemuda semakin besar. Seharusnya pemuda mampu lebih teliti memilah informasi melalui media sosial. Dengan demikian berita hoax dapat ditangkal, tidak sekadar diam untuk tidak menyebarkan.
Hal ini disampaikan Kabid Organisasi Kepemudaan Kemenpora RI, Mandir Ahmad Syafi'i dalam Pelatihan Manajemen dan Pengembangan Organisasi di Hotel LPP Garden Depok Sleman, Sabtu (23/9).
Dalam pelatihan yang diikuti oleh 70 pemuda perwakilan organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP), Mandir Ahmad mewanti-wanti agar lebih selektif menyebarkan informasi. Menurutnya pemuda wajib mengonfirmasi kebenarannya terlebih dahulu. Kemenpora dalam hal ini memberikan ruang bagi pemuda untuk bersama pemerintah menangkal sebaran berita hoax. "Semua harus besinergi, pemuda digaris depan," tegasnya.
Ketua penyelenggara sekaligus Direktur Moeda Intitute, Aziz Asy'ari menyebut pelatihan sengaja mengangkat tema 'Menjadi Kreatif dan Idealis Dalam Berorganisasi Dengan Media Sosial'. Pihaknya mengundang perwakilan dari OKP dari Yogya, Solo, Purworejo, dan beberapa daerah lain untuk dibekali kemampuan menangkal hoax. Namun begitu sebelumnya peserta diajak untuk memahami media. "Sebelum mereka (peserta) bisa menangkal, harus paham dulu media itu bagaimana," terangnya.
Beberapa narasumber didatangkan untuk memberi kuliah singkat, di antaranya Koordinator Nasional Densus 26 Umarudin Mardar, Kusno Setyo Utomo dari PWI Yogyakarta, dan Boy T Harjanto dari Jakarta Times. Aziz mengatakan Moeda Institut terus menggali potensi pemuda melalui berbagai programnya, termasuk potensi menangkal hoax secara masif. Dicontohkan dalam pelatihan tersebut disimulasikan secara bersamaan untuk memposting penolakan hoax melalui #mudaantihoax. Hastag ini ternyata sempat menjadi trending topik di twitter. "Kalau bersama-sama kekuatan pemuda ini besar, kita masih punya PR agar pemuda ini mulai bergerak secara masif," imbuhnya.
Sementara, salah satu peserta Riska Fitri mengaku mendapat kesempatan yang jarang didapatkan. Memahami media sosial menurutnya tidak mudah, karena sikap menyepelekan akan menjadi penggunanya lengah, sehingga seringkali tidak sadar ikut menyebarkan berita-berita hoax. "Baru tahu, ternyata harus hati-hati. Setiap satu postingan kita berisiko," ungkapnya. <B>(C-1)<P>

 

Related Post