Konstruksi Jembatan Layang Lempuyangan Aman

Selasa, 26 September 2017 11:59:05 Yogyakarta




UMBULHARJO (MERAPI)- Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPKP) Kota Yogyakarta memastikan konstruksi jembatan layang di Lempuyangan aman dan layak dilewati kendaraan. Hal tersebut menanggapi adanya isu kekhwatiran keamanan jembatan layang di Lempuyangan yang salah perhitungan konstruksi dan isunya beredar di media sosial.
“Sejak dulu dibangun tidak ada konstruksi yang salah. Kalau dikatakan retak, kenyataannya aspal yang melapisi atasnya tidak retak. Artinya tidak masalah,” kata Kepala Bidang Binarmarga Dinas PUPKP Kota Yogyakarta Umi Akhsanti kepada wartawan, Senin (25/9). Sebelumnya beredar isu di media sosial jika Jembatan Layang Lempuyangan retak dan terlihat patah di bagian bawah. Pesan berantai itu kemudian berkembang dan menimbulkan pertanyaan sebagian warga Yogya.
Umi Akhsanti mengatakan, belum lama ini PUPKP juga melaukan assessment terhadap kondisi jembatan layang Lempuyangan. Secara visual, lanjutnya, kondisi jembatan masih aman. Tidak ada pergeseran gelagar jembatan. Tapi untuk laporan hasil assessment secara tertulis masih dalam proses.
Jembatan layang Lempuyangan dibangun Pemda DIY dan Kementerian Pekerjaan Umum tahun 1988 dan sudah dibangun sesuai perencanaan. Dia mengakui idealnya jembatan layang memiliki area lurus atau permukaan datar sebelum turunan maupun tanjakan jembatan. Tapi karena kondisi keterbatasan lahan di Lempuyangan, maka jembatan layang langsung dibuat melengkung.
“Tahun ini kami juga lakukan perawatan jembatan seperti pengecatan biar tidak karatan. Kondisi konstruksi baik-baik saja dan aman untuk dilewati kendaraan kalau lalu lintas lancar,” paparnya.
Namun pihaknya mengkhawatirkan terkait rencana penutupan jalan pada perlintasan sebidang kereta api di bawah jembatan layang Lempuyangan. Pasalnya lalu lintas kendaraan di bawah jembatan akan beralih ke atas jembatan layang. Akibatnya menambah beban jembatan dan ada beban statis lantaran kendaraan berhenti di atas jembatan.
Rencana penenutupan jalan perlintasan sebidang kereta api di bawah jembatan layang sendiri akhirnya ditunda sampai 2 tahun ke depan. Kepastian penundaan rencana penutupan perlintasan KA di Lempuyangan itu didapat setelah jajaran Pemkot Yogyakarta dan Komisi C DPRD setempat berkonsultasi ke Dirjen Perkeretapian Kemnterian Perhubungan (Kemenhub) pada Selasa (19/9) lalu.
Secara terpisah Kepala Bidang Perhubungan Udara dan Keselamatan Transportasi Dinas Perhubungan DIY Didit Suranto juga menilai penutupan jalan di perlintasan sebidang di bawah jembatan layang di Lempuyangan sulit direalisasikan. Mengingat kondisi lalu lintas di kawasan itu cukup padat. Terutama saat liburan dan akhir pekan. Oleh sebab itu perlu kajian dan pengalihan <I>traffic light<P> atau lampu lalu lintas dan konstruksi jembatan.
Menurutnya, kendala di jembatan layang Lempuyangan adalah adanya <I>traffic light<P>  di utara dan selatan jembatan yang jaraknya sekitar 400 meter. “Kami menduga kalau <I>traffic light<P> sama-sama merah di utara dan selatan, akan jadi beban konstruksi di atas jembatan. Makanya pada waktu rapat awal dengan kementerian kami juga sampaikan itu,” terang Didit.
Pihaknya mengusulkan adanya pemasangan palang pintu perlintasan otomatis pada jalan di perlintasan sebidang kereta api Lempuyangan. Hal itu untuk mengantisipasi masyarakat yang kurang sadar terhadap pintu perlintasan kereta api.
Dia kemudian memastikan perlintasan sebidang yang akan ditutup dalam waktu dekat adalah jalan di perlintasan sebidang kereta api di bawah Jembatan Layang Janti, Banguntapan, Bantul dan perlintasan di Sentolo Kulonprogo. Dalam waktu dekat Dishub DIY segera memasang sanduk rencana penutupan di sekitar perlintasan Janti.
“Ini baru kami lakukan observasi terkait rencana penutupan jalan lintasan sebidang di Janti. Rencana penutupan akan diujicobakan pada 12 Oktober 2017,” tambah Didit.
Dia menyampaikan penutupan perlintasan kereta api sebidang merupakan program nasioanal untuk mengurangi tingkat kecelakaan pada lintasan sebidang kereta api. Terutama pada lintasan sebidang yang terdapat jembatan layang. Kendaraan dialihkan melewati jembatan layang.
“<I>Fly over<P> di Janti sejak awal dibangun direncanakan untuk pengalihan kendaraan dari bawah ke atas, otomatis konstruksinya sudah dalam perencanaan. Kalau di Janti kemungkinan kendaraan stagnan kecil karena <I>traffic light<P> masih jauh dari jembatan,” pungkasnya.(Tri)
 

Related Post