Baru 57 Persen Sekolah Miliki Laboratorium

Rabu, 27 September 2017 20:32:20 Bantul
Kepala DIsdikpora DIY, Kadarmanta Baskara Aji saat meluncurkan program Professor Goes To School.


 
BANTUL (MERAPI) - Sejumlah pekerjaan rumah dunia pendidikan Bantul harus segera diselesaikan. Selain prestasi yang harus terus digenjot, berbagai kekurangan sarana dan prasarana pendidikan di kabupaten ini juga menjadi perhatian. Salah satunya keberadaan laboratorium di sekolah yang dinilai minim. Bahkan Dewan Pendidikan Bantul mencatat baru 57 persen sekolah di wilayah ini yang memiliki sarana praktikum siswa tersebut.


Ditemui di sela Peluncuran Program Professor Goes To School di Pendapa Rumah Dinas Bupati Bantul, Wakil Ketua 1 Dewan Pendidikan Bantul, Ardi Rispurwanto menyebut kekurangan laboratorium itu akan menjadi kendala dalam pembelajaran siswa. Bahkan sekolah berstatus negeri pun disebutnya masih ada beberapa yang belum memiliki laboratorium. Terlebih sekolah swasta yang terkendala pendaan. Pasalnya untuk mendirikan laboratorium ini, Ardi menyebut satu sekolah membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. "Laboratorium yang representatif memang bisa miliaran," terangnya, Rabu (27/9).


Dalam peluncuran yang dihadiri sejumlah profesor dari perguruan tinggi dan Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji ini, Ardi  juga mengatakan kualitas tenaga pengajar di Bantul menjadi sorotan. Alasannya tahun ini banyak guru yang memasuki masa pensiun. Dengan begitu program peningkatan kapasitas pengajar harus banyak digulirkan untuk menjaga kualitas guru. Termasuk Professor Goes To School yang digadang-gadang mampu menggenjot kualitas pendidikan.

Ardi menjelaskan para profesor ini nantinya akan membantu dan mendampingi sekolah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan. "Semua sekolah nanti bisa mengakses, di sanalah kemudian akan dipetakan kekurangan dan potensi sekolah yang bisa dikembangkan," sebutnya.


Terkait sorotan terhadap sejumlah pekerjaan rumah tersebut, Kepala Disdikpora Bantul Didik Warsita mengakui perlu kerja keras dari banyak pihak. Termasuk soal minimnya sarana laboratorium di sekolah. Didik mengatakan selama ini sudah berusaha menghimpun kerjasama dengan sejumlah perusahaan. Program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan tersebut bisa diarahkan untuk kebutuhan pendidikan. Bukan tidak mungkin menurutnya sebuah perusahaan membantu membangun laboratorium sekolah.

"Kita juga masukkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah (RPJMD) dengan harapan ada alokasi lebih dari APBD Bantul. "Memang biayanya besar sehingga harus bertahap dan diprogramkan setiap tahun," imbuhnya. 


Sementara, Kepala MTs Al Muhsin 2, Alfan Aliyafi mengakui sekolahnya belum memiliki laboratorium yang representatif. Kondisi ruang kelas sendiri menurutnya belum optimal untuk proses belajar mengajar. Padahal hingga kini pihaknya sudah melayangkan setidaknya 10 proposal ke beberapa perusahaan untuk meminta bantuan dari program CSR.

Harapannya perusahaan tersebut bisa memfasilitasi kekurangan sarana di sekolahnya termasuk laboratorium. Namun begitu, Alfan mengatakan belum ada tanggapan terhadap seluruh pengajuan yang dilayangkan tersebut. Melalui Professor Goes To School ini Alfan menaruh harapan besar.

Dengan bantuan dari pihak yang berkompeten bisa memberikan akses mendapatkan laboratorium. "Kita sudah berinisiatif untuk mengajukan bantuan dari program sosial perusahaan, tapi belum ada respons," sebutnya. (C-1)
 
MERAPI-RIZA MARZUKI
Kepala DIsdikpora DIY, Kadarmanta Baskara Aji saat meluncurkan program Professor Goes To School.
 

Related Post