Panitia Diksar Maut Divonis 6 Tahun

Jumat, 29 September 2017 16:41:05 Berita Utama
Angga dan Yudi mengenakan seragam mapala saat mendengarkan vonis di PN Karanganyar.


KARANGANYAR (MERAPI)- Dua terdakwa kasus diksar maut Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Angga Septiawan dan M Wahyudi menjalani sidang vonis kasus kematian 3 mahaiswa UII, yakni Ilham Nurfadmi Listia Adi, Muhammad Fadli dan Syaits Asyam di PN Karanganyar, Kamis (28/9).

Terdakwa Angga dijatuhi hukuman penjara 6 tahun penjara, sedangkan M Wahyudi 5 tahun 6 bulan. Hukuman tersebut lebih ringan dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Karanganyar, yakni delapan tahun penjara.
“Mengadili dan memutuskan terdakwa M Wahyudi dan Angga Septiawan terbukti sah dan meyakinkan melakukan penganiayaan dan menyebabkan kematian,” kata Ketua Majelis Hakim, Mujiono di ruang sidang Candra PN Karanganyar.
Sidang pembacaan putusan itu diawali pembacaan keterangan 40 lebih saksi dari peserta diksar, panitia, keluarga korban, dan saksi ahli forensik. Hakim Mujiono dalam penyampaiannya menyebutkan, bantahan terdakwa terhadap tuduhan penganiayaan bertentangan dengan keterangan saksi dan alat buktinya.

Mereka hanya mengakui beberapa perbuatan saja seperti menampar dan memukul dengan ranting. Sehingga, majelis hakim memilih merespons keterangan saksi daripada terdakwa. Selain itu, keterangannya diragukan seperti tidak mengakui menendang, namun hanya mendorong. Majelis hakim semakin yakin keduanya bersalah lantaran mereka sempat mencabut keterangan yang disampaikannya ke penyidik di muka pengadilan. Para terdakwa juga dianggap sengaja menyakiti para korban, sulit mengendalikan emosi dan sadar saat menganiaya. Sesuai prosedur di diksar, ternyata hanya dibenarkan panitia menghukum berupa situp, pushup dan jalan jongkok, bukannya melakukan kekerasan.
“Terdakwa mencabut keterangannya. Ini merupakan salah satu petunjuk bahwa terdakwa bersalah,” katanya mengutarakan pertimbangan menjatuhkan vonis.


Secara bergiliran, berita acara pemeriksaan (BAP) saksi dibacakan Mujiono dan dua anggota majelis hakim, Veni Wahyu Mustikarini dan Muhammad Nafis. Dalam BAP itu dibacakan terkait penyebab kematian ketiga korban. Korban Ilham Nurfadmi Listia Adi mengalami pendarahan hebat di saluran pencernaan, luka memar di limpa dan hati akibat benda tumpul. Sedang Syaits Asyam mengalami pendarahan di rongga otak, serta sindrom akut di paru-paru. Kemudian kematian Muhammad Fadli serupa dua rekannya itu dengan luka meradang di dinding lambung.
Vonis keduanya didasari pasal 351 ayat 1 ke 3 jo pasal 55 ayat 1 KUHP tentang penganiayaan menyebabkan kematian dan turut melakukan perbuatan pidana.


Kasi Pidum Kejari Karanganyar, Toni Wibisono menyayangkan tindakan kekerasan di muka umum dan bersama-sama sebagaimana diatur pasal 170 KUHP tidak terbukti di pengadilan. “Kita menghargai keputusan majelis hakim. Diberi waktu sepekan untuk pikir-pikir untuk menyikapi vonis itu,” katanya. Ia menilai putusan berbeda dua terdakwa karena masing-masing memiliki peran berlainan dalam melakukan penganiayaan korban.
Sedangkan kedua terdakwa melalui kuasa hukumnya juga akan mempertimbangkan langkah hukum selanjutnya selama sepekan diberi waktu berfikir atas vonis tersebut.


Seperti diketahui, Diksar The Great Camping XXXVII Mapala UII digelar di bukit Tlogodringo, Gondosuli, Tawangmangu, Karanganyar, Januari 2017 lalu. Peristiwa tersebut mengakibatkan tiga korban meninggal dunia, yaitu Syaits Asyam, Muhammad Fadli dan Ilham Nur Padmy akibat aksi kekerasan oleh panitiannya. Tak berapa lama, dua panitia yang dianggap paling bertanggyng jawab, Angga Septiawan dan Wahyudi ditangkap dan dijadikan tersangka. Polisi melengkapi berkas perkara Angga Septiawan dan Wahyudi pada April 2017. Sedangkan sidang perdana dilakukan pada 18 Mei 2017. Selama ini, sudah ada 57 saksi yang dihadirkan dalam persidangan. (Lim)

 

Related Post