Ribuan Bunga Matahari Mendadak Ngehits Untuk Selfie

Minggu, 01 Oktober 2017 19:27:10 Bantul
Ribuan bunga matahari Tegalsari Desa Srigading Sanden Bantul yang menjadi spot foto selfie dadakan.

DEMAM selfie atau swafoto tidak hanya tengah melanda anak muda saja, bahkan hampir segala usia selalu berburu spot baru untuk mengabadikan dirinya dengan kamera. Tak ayal berbagai spot unik terus dikembangkan di berbagai tempat wisata yang bertujuan menarik minat pengunjung.
Namun sedikit berbeda dengan ribuan bunga matahari di Srigading Sanden ini. Sang pemilik lahan awalnya menanam bunga matahari untuk melindungi tanaman cabai dari terpaan angin. Tak disangka, kini bunga-bunga berwarna kuning cerah tersebut menjadi tujuan ratusan warga untuk berswafoto.
Dua pekan terakhir ada kesibukan lain yang nampak di Jalan Jalur Lintas Selatan (JJLS) tepatnya sisi utara Pantai Samas, Tegalsari, Desa Srigading, Sanden. Beberapa warga nampak sibuk mengatur parkir kendaraan yang datang dan pergi silih berganti. Pengunjung yang juga berasal dari luar daerah ini tumplek blek di dalam dua petak ladang yang dikelilingi bunga yang bernama latin Helianthus Annuus L. “Saya lihat di instagram, ada kebun bunga matahari untuk selfie,” sebut Reni yang datang Jumat (29/9) petang.
Mahasiswi sebuah universitas di Yogyakarta itu memang selalu berburu lokasi foto. Tak ayal beredarnya foto-foto dengan background bunga matahari langsung menarik perhatiannya. Gadis asal Nganjuk Jawa Timur ini bersama beberapa teman lengkap dengan peralatan fotografinya. Tidak menunggu lama, sesampainya di area pertanian lahan pasir itu Reni lantas menyiapkan kamera, tripod, dan beberapa properti foto lainnya. “Kalau ada tempat bagus seperti ini kita sengaja <I>hunting<P> foto untuk instagram,” tutur gadis 20 tahun ini.
Meski berjumlah ribuan akan tetapi sebenarnya tanaman bunga matahari ini hanya berada di pematang sawah yang mengelilingi lahan cabai seluas seribu meter persegi. Pengelola lahan, Etik Purwanti mengatakan penanaman bunga matahari itu memang bukan untuk budidaya atau pun membuat tempat swafoto. Sekitar empat bulan yang lalu dia dan putrinya menabur benih bunga matahari di tepian ladang agar nantinya bisa melindungi tanaman cabai dari terpaan angin laut yang berhembus kencang di daerah itu. “Kalau kena angin bunga cabainya rontok dan tidak bisa berbuah,” ungkapnya.
Sebelumnya untuk menghalau angin, ibu dua anak tersebut menanam bunga lain seperti kenikir. Namun saat itu putri pertamanya yang masih duduk di bangku kelas VIII SMP N 1 Sanden ingin menanaminya dengan bunga matahari agar bisa digunakan berselfie. Etik tidak menyangka keinginan putrinya itu bisa terwujud. Bahkan kini setiap hari Etik harus berjaga melayani ratusan pengunjung yang setiap hari datang. Etik khawatir jika hanya dibiarkan banyaknya pengunjung akan merusak tanaman cabai yang belum sempat dipanennya tersebut. “Yang datang pasti saya peseni supaya hati-hati tidak menginjak tanaman cabainya,” jelasnya.
Mengurangi risiko kerusakan, kini Etik mulai memberlakukan tarif bagi warga yang berkunjung ke ladangnya sebesar Rp 5000 perorang. Namun begitu dia tidak lantas mewajibkan setiap pengunjung harus membayar, jika pelajar atau masyarakat sekitar Etik membiarkan masuk secara cuma-cuma. Pada hari biasa, Etik mengaku bisa mengumpulkan uang dari pengunjung sekitar Rp 300-500 ribu. Sedangkan pada hari libur, uang yang menurutnya akan digunakan untuk perawatan lahan itu terkumpul lebih dari Rp 1 juta.  “Alhamdulillah, nanti dipakai beli benih cabai,” ucap Etik kepada Merapi. (Riza M)
 

Related Post