Ikuti Labuhan Sura, Warga Berebut Ageman Paku Alam X

Minggu, 01 Oktober 2017 20:35:10 Kulon Progo
MERAPI-AMIN KUNTARI
Prosesi labuhan Sura yang digelar Puro Pakualaman di Pantai Glagah, Minggu (1/10).
 
TEMON (MERAPI) - Puro Pakualaman menggelar upacara Labuhan Sura di Pantai Glagah Kecamatan Temon, Kulonprogo, tepat pada tanggal 10 bulan Sura penanggalan Jawa, Minggu (1/10). Dalam upacara tersebut, berbagai ubo rampe, sesaji, tiga gunungan hingga ageman (pakaian) bekas milik Paku Alam X dilarung ke tengah laut. 
 
Ribuan masyarakat dari berbagai wilayah rela berdesakan di lokasi untuk menyaksikan langsung prosesi labuhan ini. Diawali doa bersama di Pesanggrahan Pakualaman demi memohon keselamatan, prosesi labuhan dilanjutkan dengan iring-iringan bregodo menuju Joglo Labuhan. Dibalut dengan pakaian adat Jawa, para bregodo, sejumlah kerabat Puro Pakualaman, abdi dalem dan masyarakat turut mengawal jalannya arak-arakan ubo rampe dan sesaji ke tepi laut. Setibanya di tepi laut, berbagai ubo rampe dan sesaji kemudian dilarung ke tengah laut. Staf Panitra Kadipaten Puro Pakualaman, 
 
Mas Riyo Sestro Dirjo menjabarkan, tiga gunungan yang dibawa bregodo berisi hasil bumi, padi, serta ageman Paku Alam X yang sudah tidak dipakai. 
 
"Labuhan diibaratkan sebagai tindakan membuang hal-hal buruk, kemudian memohon keselamatan dan kebaikan sebagai penggantinya," kata Mas Riyo.
 
Upacara labuhan di Pantai Glagah, lanjutnya, merupakan kegiatan rutin yang digelar setiap tahun oleh pihak Puro Pakualaman. Upacara ini menjadi salah satu upaya untuk melestarikan warisan leluhur dan terangkum dalam Hajat Dalem.
 
Begitu kembali ke tepian, ubo rampe dan sesaji yang sempat dilabuh langsung diperebutkan warga. Mereka rela berdesakan demi mendapat salah satu bagian ubo rampe sebagai upaya ngalap berkah. "Kami percaya, ubo rampe ini akan membawa berkah," kata Sri Maryanti (57), warga Toyan, Desa Ngestiharjo, Kecamatan Wates yang hadir menyaksikan upacara labuhan. 
 
Setiap tahun, Sri selalu menyempatkan diri menyaksikan upacara labuhan yang digelar pihak Puro Pakualaman. Ia juga ikut berebut ubo rampe dan sesaji bersama warga lain yang datang dari berbagai daerah. "Tahun ini bahkan dapat tongkat bambu berbalut kain kafan yang digunakan untuk memikul gunungan. Nanti dipakai untuk tiang penyangga rumah karena bisa mendatangkan berkah," jelasnya. (Unt)
 
 

Related Post