Ingin Damai, Anak Korban Pembunuhan Maafkan Pelaku

Jumat, 06 Oktober 2017 11:20:07 Kulon Progo
Tersangka memeragakan agedan menendang yang akhirnya menewaskan korban.



NANGGULAN (MERAPI) -Polres Kulonprogo menggelar rekonstruksi kasus perkelahian dua kakek yang berujung maut di Dusun Lengkong, Desa Donomulyo, Kecamatan Nanggulan, Kulonprogo, Kamis (5/10). Rekonstruksi memperagakan 28 adegan untuk menemukan titik terang kasus perkelahian yang menewaskan Ngatiman alias Setronadi (80) setelah terlibat duel dengan tetangganya sendiri, tersangka WW (87) pada 8 September 2017 lalu.
Dalam rekonstruksi terungkap ada pemukulan di bagian kepala korban oleh pelaku, serta tendangan ke bagian perut korban. Pelaku juga mencekik korban dan menendangnya hingga jatuh tersungkur.
"Tindak pidana terjadi pada adegan 23 hingga 27, saat keduanya berkelahi. Tindakan pelaku inilah yang diduga menjadi penyebab awal hilangnya nyawa korban," kata Kepala Satreskrim Polres Kulonprogo, AKP Dicky Hermansyah, usai rekonstruksi.


Atas perbuatannya, tersangka dijerat Pasal 338 KUHP tentang menghilangkan nyawa orang lain dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Menurut Dicky, hasil olah TKP dan keterangan saksi sebenarnya sudah cukup untuk menjadi bukti menjerat tersangka, namun pihaknya merasa perlu mendalami penyebab pasti meninggalnya korban dengan menggelar rekonstruksi.
"Apakah karena sesak nafas atau bagaimana, kita perlu tahu pasti," imbuh Dicky.
Empat saksi yang melihat duel maut kakek ini turut dihadirkan dalam proses rekonstruksi. Dalam rekonstruksi juga terungkap bahwa tersangka WW menderita gangguan jiwa. Anak tersangka, Tumiran menyampaikan,  bapaknya sedang menjalani rawat jalan atas penyakit gangguan jiwa yang diidapnya. Tersangka kerap berperilaku agresif juga galak.
"Sebenarnya kalau tidak diladeni, tidak akan dilayani sama dia. Mungkin karena saat kejadian itu, korban melayani sehingga terjadi perkelahian," jelasnya.


Meski demikian, gangguan jiwa yang diidap WW dipastikan tidak akan menghalangi proses hukum. Tindakan tersangka menghilangkan nyawa orang lain dinilai sebagai tindak pidana yang tetap harus diproses.
Menurut AKP Dicky, hakim pengadilan yang nantinya akan memutuskan, ada atau tidaknya unsur tindak pidana dalam kasus ini. Polisi tetap menjalankan proses sesuai ketentuan, meski kondisi kejiwaan tersangka bisa menjadi bahan pertimbangan tersendiri dalam proses hukumnya.
"Hukumannya mungkin tidak akan maksimal," imbuh Dicky.


Sementara itu, keluarga korban menyatakan tidak akan memperpanjang peristiwa meninggalnya Setronadi. Anak korban, Sogol (44) menegaskan, pihak keluarga ingin berdamai saja dengan pihak tersangka tanpa ada rasa dendam.
"Kami tidak menuntut, keluarga sudah memaafkan semua. Kalau bisa, kami juga tidak menginginkan adanya otopsi oleh kepolisian dengan cara membongkar makam. Keluarga siap jika dimintai keterangan oleh polisi, biar almarhum tenang," tambahnya.


Namun, menurut AKP Dicky, otopsi tetap diperlukan dalam proses hukum untuk kelengkapan pembuktian penyebab kematian korban. Visum yang dilakukan dokter saat olah TKP belum cukup karena hanya visum luar. Karena itulah, perlu dilakukan rekonstruksi kejadian disusul dengan otopsi jasad korban untuk menemukan bukti lebih lanjut penyebab kematiannya.


"Rencananya kita akan bongkar makam untuk keperluan otopsi. Kalau keluarga menolak, itu termasuk menghalangi proses hukum," kata AKP Dicky. Seperti diketahui, pada 8 September lalu, korban dan pelaku ribut di halaman rumah WW. Pemicunya, pelaku menuduh korban meminjam alat pertanian. Namun korban membantah tuduhan itu hingga terjadi cekcok dan duel pecah. Duel ini menewaskan korban Ngatiman alias Setronadi.(Unt)

MERAPI-AMIN KUNTARI
Tersangka memeragakan agedan menendang yang akhirnya menewaskan korban.

Related Post