Sedhut Senut Blusukan ke Kampung

Senin, 09 Oktober 2017 19:28:27 Hiburan
Pentas Kelompok Sedhut Senut di kampoeng Mataraman, Jumat (6/10)  malam



<B>SENI<P> teater terasa mulai menggeliat, dari namanya secara etimologis teater mengandung arti gedung pertunjukan. Sehingga wajar ketika pementasan teater ini sangat erat kaitannya dengan gedung-gedung pertunjukan megah dengan kursi penonton berderet.


Nawun beda halnya dengan yang dilakukan oleh Kelompok Sedhut Senut yang menghadirkan teater dalam ruang yang sangat sederhana sehingga semua kalangan masyarakat mampu  menikmati dengan cara mereka masing-masing tanpa harus berfikir membayar kursi penonton.
Seperti halnya yang dilakukan kelompok yang sebelumnya bernama Komunitas Sego Gurih ini, Jumat (6/10) malam di Kampoeng Mataraman Panggungharjo Sewon. Beberapa pendapa dan satu pendapa panggung di lokasi itu luput dari kelompok ini sebagai arena pentas.
Sedhut Senut hanya mendirikan satu unit tenda kecil di sudut kompleks bernuansa jawa tersebut. sedangkan pendapa yang dilengkapi dengan penerangan lampu minyak dan petromak itu disiapkan sebagai arena menonton yang nyaman. “Kita selalu merespon setiap tempat menjadi ruang pentas, tidak harus dipanggung megah. Arena yang menurut warga tidak bisa digunakan malah kita manfaatkan untuk memberikan hiburan,” ungkap Elyandra Widharta, salah satu koordinator Kelompok Sedhut Senut.
Lakon demi lakon yang terus diangkat kelompok ini juga berkutat pada isu-isu akar rumput. Bukan lagi soal politik atau kekuasaan, mereka malah mengangkat persoalan perselingkuhan, hidup bertetangga, asmara di desa, persaingan dagang pasar, dan beberapa masalah kerakyatan lainnya. seperrti halnya uang dipentaskan saat itu, lakon Bubur Mbak Minuk mengungkapkan persaingan tidak sehat antar edagang pasar dengan menyebar provokasi penggunaan bahan kimia hingga penglaris untuk meningkatkan usaha. “Isu-isu kerakyatan ini menjadi menarik saat kami pentaskan dari kampung ke kampung,” tegas Ely, sapaan Elyandra Widharta.


Tak ayal, setiap kali penentasan dilakukan pasti dipenuhi dengan ratusan penonton yang duduk lesehan menunggu lelucon dan aksi jenaka dari para pemainnya. Ely menjelaskan, pentas seperti ini sudah dilakukannya hampir 20 tahun. Pada tahun 1996 kelompok ini terbentuk oleh sejumlah siswa Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) yang kini berubah nama menjadi SMK N 1 Kasihan.


Saat itu bernama Komunitas Sego Gurih yang akhirnya berproses dan mulai mengangkat lakon mereka sendiri sejak tahun 2002. Dia menyebut sejumlah lakon seperti KUP, Bleg-Bleg Thing, Purik dan beberapa lakon lain berhasil dipentaskan. Bahkan lakon Purik yang muncul tahun 2013 lalu bisa dipentaskan hingga 30 kali dengan blusukan ke beberapa daerah di DIY dan Jawa Tengah.
“Kata orang-orang Purik sangat digandrungi karena mengangkat kehidupan rumah tangga yang kerap terjadi di masyarakat,” tandasnya.


Sementara, salah satu anggota tertua Kelompok Sedhut Senut, Ibnu Gundul Widodo mengatakan berjalannya waktu Komunitas Sego Gurih mulai diisi oleh pemain dan kru dari luar SMKI. Hingga akhirnya perubahan nama terjadi pada awal 2017 menjadi Kelompok Sedhut Senut. Perubahan naman ini dibarengi dengan memasukkan semangat Ketoprak Tobong yang kini sangat sulit ditemukan.


Semangat ketoprak ini diwujudkan dalam background panggung atau tonil monokrom. Tonil yang digulung dan digelar dalam pergantian adegan ini menurut pria yang biasa dipanggil Gundul ini menggambarkan proses Ketoprak Tobong yang tidak sederhana. “Semangat Ketoprak Tobong dengan prosesnya kita coba campur dengan semangat Sego Gurih dengan blusukan antar kampung itu,” sebutnya.


Ditemui usai menyaksikan pentas, Lurah Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi mengaku sangat terhibur. Menurutnya hiburan rakyat tempo dulu sangat kental dalam pementasan kelompok ini. Terlebih dari penyajiannya, Sedhut Senut menghadirkan berbagai simbol kerakyatan seperti pengeras suara berupa toa dengan suara khasnya dan alat musik yang dilengkapi dengan beberapa elemen gamelan. “Ini kesenian kampung sekali meskipun kwalitas pementasan mereka  tidak kampungan dan sangat menghibur,” pungkasnya. <B>(C1)<P>

MERAPI-RIZA MARZUKI
Pentas Kelompok Sedhut Senut di kampoeng Mataraman, Jumat (6/10)  malam.
 

Related Post