PUISI

Sugiyanto@ Jumat, 05 Mei 2017 22:00:59 Hiburan

Hamid Nuri

Mimpi Sutawijaya di Parangtritis
   
Dengan gaya bagaikan aktor di panggung Broadway
kau cerita tentang mimpi Sutawijaya setelah berhasil
membuka hutan Mentaok menjadi tanah Mataram.

“Paman akan kubuat pantai selatan menjadi pelabuhan besar
lengkap dengan galangan kapal yang besar
hingga membuat orang-orang berpaling pada Mataram,”
dan menurut kau waktu  Ki Juru Mertani hanya tersenyum
mendengar mimpi besar anak Ki Ageng Pemanahan.

Maka digamitnya sang keponakan berkuda ke Pantai Selatan
dan ditunjukkan pantai dengan ombak yang ganas
seganas meriam Portugis yang mengangkangi tanah Malaka
dan gagal diusir armada Demak si penguasa laut Jawa.
   
Melihat ombak besar bergulung di Pantai Selatan
pupuslah sang Senopati menundukkan samudera laut selatan
dan dikaranglah sebuah cerita tentang Ratu Kidul
jin penguasa samudera nan sakti.

Sambil menyeruput kopi jos di dekat stasiun
kau tersenyum sambil bersiul lirih sekali
dan aku tak bisa menebak apa arti senyummu,

Yogya, 2016


Imaji Alun-alun Mataram

Inilah Alun-alun kerajaan Mataram
dengan pohon beringin kembar
yang ditanam Sunan Kalijaga di sebelah barat.
 
Bayangkan di tanah itu dulu para kawula bersila
di tanah berpasir
dengan takzim menunggu titah penguasa
atau berhasrat mendapatkan setitik keadilan.

Tapi Alun-alun kini telah menjadi belantara beton
rumah-rumah berhimpitan
tempat dulu kawula untuk pepe
bisa jadi berubah jadi kamar mandi
karena tembok cepuri
yang dijebol Raden Rangga
jadi tempat untuk selfie

Ah, kau masih tetap bermimpi
tentang merpati peliharaan Panembahan Senopati
yang kini masih tetap membual
tentang masa lalu.

Yogya, 2016.


Ziarah Sendang Kasihan*

Di Sendang Kasihan, Juru Martani berbisik pada Pembayun
dari tempat ini petualangan akan dimulai
putri Mataram itu mengangguk,  membasuh muka
sembari berharap aji pelet mendatanginya.

Ini terjadi ratusan tahun sebelum Margaretha Geetruidda*
agen ganda di Perang Dunia I  menyaru jadi penari eksotis
bernama Matahari, lagi-lagi kau membuka diskusi.

Padahal aku lagi tak suka cerita masa lalu
aku lagi ingin membaca puisi tentang
daun-daun tertiup angin.
Tentang gemercik air dan kicauan burung yang membuai.
   
Namun bagaikan troubador kau nekat melanjutkan cerita
tentang cerita petualangan Pembayun si penari keliling,
keberhasilannya memikat Mangir Wonoboyo, musuh Mataram
hingga kursi pelaminan.

Mulutku menguap berusaha menahan kantuk
lagi-lagi kau melanjutkan
bagaimana Mangir akhirnya menerima Pembayun
si anak Senopati, bedebah yang mengaku jadi raja.

Cerita berlanjut hingga pasangan Mangir-Pembayun
menghadap Senopati sang mertua.
   
Dan kemudian tragedi terjadi
saat kepala sang menantu dibenturkan
tapi kamu jangan menghakimi
karena politik itu ibarat anggur merah
yang bisa diubah menjadi darah.

Aku benar-benar tertidur
bermimpi di panggung sendirian
sunyi.

Yogya, 2016
 

*Konon sebelum menyamar menjadi rombongan tledhek, rombongan dari Mataram itu dengan salah satu penarinya, Pembayun, putri Panembahan Senopati berkumpul dan mengadakan ritual di Sendang Kasihan, yang kini berada di Desa Kasihan, Kabupaten Bantul.



Hari Ini Tak Ada Puisi

Mendorong troli di sebuah mal terkenal
seorang ibu bertanya pada pramuniaga
adakah puisi yang dijual hari ini?
Kalau ada berapa harganya dan juga nama merknya?

Pramuniaga tersenyum penuh perhatian
dengan ramah berkata, maaf ibu beribu maaf
hari ini tak ada persediaan puisi
karena goa tempat penyair bersemedi jadi tempat rekreasi
sang penyair tak bisa bikin puiisi.

Ibu tua terus mendorong troli
sambil berharap ada puisi terselip
dan bisa menjadi ganjal almari.




Pledoi, Karna Si Malin Kundang

Ibu, sorga bisa jadi ada di telapak kakimu
itu  telah dikabarkan dalam kitab-kitab suci.
   
Betapa mulianya perempuan  menjadi ibu
karena dari belahan dadanya mengalir air kehidupan.
belaian kasih sayang ibu mengenalkan tentang manisnya hidup\
(kitab-kitab suci mencatat tentang keagungan ibu)
   
Bahkan perjuangan ibu melahirkan anak
laksana keberanian pahlawan saat berperang membela kebenaran.

Ibu, di tepi Bengawan dekat Padang Kurusetra
kau menemuiku mengajak berpihak pada para Pandawa
karena aku adalah bagian dari Pandawa lima
dan ibu tak ingin pertumpahan  antar saudara sedarah dalam bharatayudha
(waktu itu ibu memeluk kakiku dan tak akan melepaskan sebelum aku berkata ya!)

Aku terdiam, dalam hati mengutukmu
melontarkan ribuan  serapah
karena ibu melahirkanku lewat telinga
dan dengan tega memasukkan  dalam peti
kemudian terbawa aliran bengawan.

Kau tetap memeluk kakiku, ibu yang agung
dan mendesak untuk berbalik berpihak pada Pandawa
saat itu hatiku telah memilih jadi Malin Kundang
bukan karena tak berpihak pada kebenaran
tapi  demi dharma ksatria.

Ibu, Dewi Prita
bisa jadi dulu simbok Adirata t
tak pernah memberiku susu
dari kedua payudaranya
tapi belaian dan kasih sayangnya
membuatku tak menyesal
disebut si Malin Kundang.

Yogya, 2015.
   

Hikayat Kala

Akulah Kala
kama dewa yang terlempar
dari sepasang dewa-dewi yang bercumbu di angkasa

Dari noktah kecil kemudian diberi mantra Dewa Wisnu dan Brahma
lahirlah aku, raksasa si maha kegelapan
karena keisengan dewa lahirlah aku
maka kulabrak kahyangan untuk sekadar bertanya
kenapa aku terlahir tanpa kuharap

Tapi bukan jawaban malah mereka mengadang
meminta aku kembali ke bumi
satu persatu dewa kuhadapi termasuk Yamadipati
   
Aku berharap si dewa maut bisa membunuh
mengembalikan ke alam kelanggengan.

Tapi bukan mati yang kudapatkan
malah dewa itu ketakutan
katanya hidupku abadi kalau bisa
menyantap bulan dan matahari.
   
Namun dewa-dewa tak menepati
setiap bulan dan matahari akan kusantap
disuruhnya orang-orang membikin tetabuhan
bulan dan matahari  melesat pergi.
   
Para dewa di kahyangan akan kulabrak lagi
dengan tuntutan kematian abadi.

Yogya, 2016

Hamid Nuri, lahir di Yogyakarta 8 Desember 1964. Saat ini jadi kontributor sebuah majalah berbahasa Jawa terbitan Surabaya dan  penulis lepas. Ikut dalam : Antologi Puisi Di Bawah Lampu Mercuri  terbitan Sanggar Sastra Kotagede 1981, menyumbang tulisan untuk buku Dari Qaimuddin menjadi  Kauman 1999. Menulis buku: Keliling Jogja dengan Transjogja t(erbitan Lokomotif 2010,  bersama Budhi Wuryanto, tim penulis buku Toponim Kotagede (terbitan Dirjen Cipta Karya dan JRF, 2011). Dua cerita cekak (cerpen berbahasa Jawa) masuk dalam antologi Dalan Mujur Ngetan, terbitan Alta Pustaka, Malang 2016). Penulis bisa dihubungi di HP 0895 3980 40679.
   
Hamid Nuri ,     Prenggan KG II/926,     Yogyakarta 55172

 

Related Post