SAYAP-SAYAP TERKEMBANG (360)

Sugiyanto@ Minggu, 07 Mei 2017 23:14:21 Cerita Bersambung

BEBERAPA kali Sambi Wulung memang membubuhkan obat di luka Puguh yang memang cukup dalam. Darahnya memang sudah pempat, tetapi pengaruh pada tubuhnya masih terasa sekali. Tubuhnya dengan cepat merasa letih dalam perjalanan yang lambat. Bahkan rasa-rasanya perasaannya kadang-kadang seperti melayang tanpa dapat dikendalikan. Seperti mimpi meskipun disadarinya.
“Apa yang terjadi dengan diriku,“ berkata Puguh.
“Kau kenapa?“ Sambi Wulung dan Jati Wulung menjadi cemas.
“Rasa-rasanya kesadaranku tidak utuh. Kadang-kadang aku merasa seperti mabuk tuak. Juga pening dan mual. Rasa-rasanya sulit untuk mengendalikan diri,“ berkata Puguh.
“Tetapi kau masih sadar sepenuhnya,“ berkata Sambi Wulung, “usahakan agar kau tetap sadar dan tidak kehilangan penalaran. Kita akan menempuh perjalanan panjang.”
Puguh mengangguk. Karena itu, dengan sisa kesadarannya ia telah berjuang untuk tetap dalam kesadaran. Ia tidak mau pingsan atau seperti seorang yang mabuk. Lupa diri dan tidak tahu apa yang telah dilakukannya sendiri.”
“Baiklah,“ berkata Sambi Wulung selanjutnya, “jika demikian maka kau harus segera sampai ketujuanmu. Tetapi kau belum mengatakan, kita akan pergi ke mana. Bagi kami berdua, kemanapun kami pergi tidak akan ada permasalahan. Tetapi bagi kau tentu lain.”
Puguh benar-benar merasa dirinya sulit untuk dikuasainya. Namun ia masih tetap sadar untuk tidak mengatakan sesuatu tentang tempat tinggalnya. Namun ia mengerti, bahwa ia memang harus segera sampai ketujuan.
Karena itu, maka Puguh hanya sekedar memilih arah. Dengan nada rendah ia berkata, “Kita menuju ke Gantar.” - (Bersambung)
 

Related Post