SAYAP-SAYAP TERKEMBANG (366)

Sugiyanto@ Selasa, 16 Mei 2017 14:22:25 Cerita Bersambung

TETAPI kedai itu dibuka disebuah rumah di depan pasar.
“Beruntunglah orang-orang yang tinggal di dekat pasar,“ berkata Jati Wulung, “mereka dapat memanfaatkan halamannya untuk mendirikan sebuah kedai. Ternyata kedai itu cukup banyak dikunjungi orang.”
Sambi Wulung mengangguk. Sambil melangkah ke arah pintu kedai itu, ia berkata, “berhati-hatilah. Kita belum mengenal kebiasaan ditempat ini.”
“Aku kira kebiasaan disini tidak akan berpaut banyak dengan kebiasaan dimana-mana. Bagi seorang pengembara, hal itu tidak akan banyak berpengaruh,“ jawab Jati Wulung.
Tetapi sebenarnyalah bahwa ia telah menangkap isyarat Sambi Wulung. Karena itu, maka Jati Wulungpun harus bersiap-siap. Mereka berdua telah sepakat untuk menimbulkan kesan kepada Puguh, bahwa disepanjang jalan, mereka masih akan dapat selalu bertemu dengan hambatan-hambatan. Dengan demikian, maka Puguh merasa bahwa ia memang memerlukan kawan untuk pulang sampai kerumahnya atau mendekati rumahnya.
Di kedai yang paling ramai kemungkinan yang dikehendaki itu akan lebih besar daripada di kedai-kedai yang lebih kecil.
Demikianlah, maka merekapun telah memasuki kedai itu. Ruangannya memang cukup luas. Beberapa lincak bambu teratur rapi dihadapkan pada paga-paga bambu rendah untuk meletakkan beberapa jenis makanan.
Jati Wulung yang berada dipaling depan tertegun ketika dilihatnya sebuah ruangan yang khusus dibatasi oleh sebuah rana yang tidak terlalu tinggi.
Pengenalannya atas tempat-tempat seperti itu mengatakan kepadanya, bahwa tempat-tempat khusus itu hanya disediakan untuk tamu-tamu yang sangat khusus pula.
Namun justru karena itu, maka Jati Wulung telah melangkah langsung menuju ke tempat itu. - (Bersambung)

Related Post