PRODUKSI TAMPAH UNTUK HIDUPI KELURAGA, Teplu, Difabel Mandiri yang Pantang Berpangku Tangan

Sugiyanto@ Selasa, 02 Mei 2017 03:02:00 Kulon Progo
Teplu di kediamannya, Dusun Ponces, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo.

KETERBATASAN fisik bukan menjadi penghalang bagi Sugiyono, difabel yang tinggal di Dusun Ponces, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo. Tak ingin hidup dari belas kasihan orang lain, pria berusia 35 tahun yang kerap dipanggil Teplu ini berhasil membantu pemenuhan kebutuhan keluarga dengan memproduksi tampah.
Saat ditemui di rumah sederhananya yang berdinding kayu dan berlantai tanah, Teplu menyambut ramah. Tak sedikitpun terlihat keputusasaan di wajahnya, meski kehidupan yang dijalaninya saat ini tidak seberuntung orang lain.
Teplu memang punya kepercayaan diri yang kuat. Baginya, keterbatasan fisik tidak boleh membuatnya merasa minder atau bahkan mengucilkan diri. Berbeda dengan sebagian disabilitas yang meminta belas kasihan orang lain, Teplu tidak demikian. Ia selalu berusaha mandiri, bahkan bertekad menghidupi keluarganya tanpa berkecil hati.
"Saya tinggal bersama ibu di sini. Dalam hati selalu bertekad untuk tidak berharap pada belas kasihan orang lain," tegas putra Suparmi ini.
Kedua tangan dan kaki Teplu memang tidak berukuran normal seperti orang lain. Meski demikian, Teplu tak mau berpangku tangan. Belajar secara otodidak, ia menjadi perajin tampah berbahan dasar bambu.
"Tidak ada yang melatih. Saya beli tampah di pasar, kemudian dibongkar di rumah agar tahu bagaimana cara membuatnya," ujar Teplu.
Diakui Teplu, tidak mudah merangkai kembali potongan-potongan bambu agar menjadi tampah. Namun berkat ketekunan dan kerja kerasnya, Teplu berhasil membuat tampah lalu menjalnya ke pasar.
"Sejak itulah, saya punya penghasilan sendiri," ujarnya.
Dengan kondisi terbatas, Teplu bisa menyelesaikan tampah berbahan dasar bambu dengan diameter satu meter dalam waktu satu minggu. Tampah tersebut kemudian dihargai Rp 15.000.
Hampir seluruh proses pembuatan tampah dilakukan Teplu secara mandiri. Ia memotong batang bambu dari pohonnya, membelah bambu menjadi beberapa bilah hingga menjadi lebih kecil dan tipis sesuai ukuran agar bisa dianyam. Namun terkadang, ibundanya turut membantu.
Usaha keras yang dilakukan oleh Teplu terkadang membuat ibundanya terharu. Apalagi menurut Suparmi, keterbatasan fisik yang diderita putranya bukan bawaan lahir. Kedua kaki dan tangan Teplu mulai mengecil setelah ia mendapat suntikan polio, saat masih berusia dua tahun.
"Keluarga sudah mengupayakan berbagai macam pengobatan, tapi semuanya tidak berhasil," ujarnya sedih.
Meski demikian, baik Teplu maupun Suparmi tak patah arang. Keduanya tetap berusaha mencari nafkah halal demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. (Unt)

Related Post