Ketika Penyair Merayakan Penderitaan, Oleh A. Yusrianto Elga

Sugiyanto@ Minggu, 21 Mei 2017 20:48:27 Hiburan

Biarkan kucium penderitaan dan malapetaka Dengan bibirku yang pucat ini
(Muhammad Ali Fakih, “Akan Kucium Penderitaan dan Malapetaka”, 2016)

Seorang penyair yang menyusuri indahnya taman-taman kehidupan, hingga segala yang getir dirasakannya lezat, tak akan pernah gentar sedikit pun oleh berbagai gelombang duka. Bahkan ribuan penderitaan dirayakannya dengan penuh kegembiraan. Tak ada ruang bagi apa pun yang bernama bencana atau malapetaka dapat mengusik keheningan batinnya. Bahkan dengan jantan ia berkacak pinggang di atas duka!
Itulah sebabnya, dalam bait puisi di atas, penyair Muhammad Ali Fakih menyeru setengah menantang: Biarkan kucium penderitaan dan malapetaka/ Dengan bibirku yang pucat ini.
Bait-bait itu tentu saja meluncur dari keheningan batin penyair yang mengakrabi kesunyian. Puisi bertajuk “Akan Kucium Penderitaan dan Malapetaka” itu terpahat dalam antologi tunggalnya: “Di Laut Musik Puisi” (2016).
Membaca bait-bait puisi itu, saya seperti memasuki lautan jiwa manusia yang sesungguhnya lebih luas dibandingkan dengan samudra. Saya seperti diterbangkan ke cakrawala ketakterhinggaan di mana penderitaan hanyalah buih yang tidak memiliki kekuatan apa pun untuk memenjarakan hati manusia.
Dalam konteks inilah, saya mulai memahami bahwa segala penderitaan dan malapetaka tak lebih hanyalah soal cara pandang manusia.

***

Konon, Syekh Abu Abdullah Husain bin Mansur Al-Hallaj mampu menganggap segala derita yang datang kepadanya sebagai sebuah episode kehidupan yang teramat indah untuk dilupakan. Bahkan, sufi-penyair itu tak pernah gentar ketika mendengar kabar ihwal hukuman tiang gantung yang dijatuhkan khalifah kepadanya.
Kabar duka itu dihadapinya dengan senyum syukur, seolah hari-hari terindah dalam hidupnya akan segera datang. Maka disambutlah hukuman yang mengerikan bagi kebanyakan orang itu dengan penuh kegembiraan. Diam-diam ia merayakannya dengan penuh kebahagiaan, saat sahabat-sahabatnya dirundung duka karena tidak tega melihat Al-Hallaj difitnah hingha berujung siksa.
Sa’id Abdul Fattah dalam Qishat Al-Hallaj Wama Jara Maa Ahli Baghdad (2000) melukiskan bagaimana getar-getar cinta meluap dari batin sufi-martir itu. Bait-bait cinta keluar begitu saja dari hening batinnya. “Aku fana dalam kenikmatan cinta yang meluap, tapi di sini pula aku didera derita yang sungguh hebat,” katanya. Tak ada cemas sebagaimana kecemasan orang-orang pada umumnya. Tak ada secuil pun duka melintas di wajahnya. Al-Hallaj sepenuh-penuhnya gembira: seluruh penderitaan dan malapetaka diciuminya dengan syukur yang tiada habisnya.
Bahkan, sebagaimana dicatat oleh Sa’id Abdul Fattah, setelah tangan dan kaki Al-Hallaj dipotong dengan begitu sadisnya, bait-bait cinta mengalir dari jiwanya yang agung: Bunuhlah aku dan bakarlah aku pada tulangku yang hancur lebur. Kalian akan  menemukan rahasia cintaku di antara lipatan-lipatan yang masih tersisa.    
Itulah rahasia ketika kesunyian hati menjelma taman bunga, segala derita dan malapetaka hanyalah kengerian yang dikonstruk oleh cara pandang yang terbatas. Apa yang menurut pandangan kebanyakan orang sebagai duri, baginya adalah melati. Karena itu, hidup sesungguhnya adalah kegembiraan yang harus dirayakan. Hidup adalah kemerdekaan. Pantangan bagi kita berkecil hati di hadapan duka dan malapetaka.
Ketika hidup sepenuhnya menjadi kegembiraan, lalu adakah ruang bagi adanya kemungkinan untuk sedih kecuali terpisah dengan Maha Kekasih?

***

Dalam kenyataan hidup yang kita saksikan sehari-hari, betapa banyak hati yang mudah tergores oleh berbagai penderitaan dan malapetaka. Air mata begitu mudahnya ditumpahkan oleh kenyataan-kenyataan pahit yang mencekam. Lagu-lagu kemurungan begitu nyaring didendangkan. Hidup seolah menjadi antologi kesedihan.
Bagi siapa pun saja yang sanggup menyulap kepingan-kepingan penderitaan menjadi aneka taman bunga yang indah sekaligus menyejukkan, maka tak ada apa pun yang keluar dari bibirnya kecuali senyum ketulusan, atau – meminjam bait puisinya Chairil Anwar – “keridhaanmu menerima segala tiba”.

Perkenankan, Tuan, perkenankanlah
Kuhirup harumnya aroma
Penderitaan dan malapetaka


Menghirup harumnya aroma penderitaan dan malapetaka, sebagaimana bait-bait puisi yang ditulis Muhammad Ali Fakih tersebut, hanya mungkin dilakukan ketika kita mampu berdamai dengan apa pun yang menimpa hidup kita: pahit atau manis, sedih atau senang, semuanya menjadi sama. Tidak ada yang beda. Karena itu, dengan jantan ia menantang: <I>Perkenankan, Tuan, perkenankanlah/ Kuhirup harumnya aroma/ Penderitaan dan malapetaka<P>.
Kedewasaan atau kematangan jiwa tampak dalam bait-bait itu. Segala hal yang getir tidak saja ditatapnya dengan penuh kesabaran, namun juga dengan keberanian yang maksimal. Dikatakan berani karena hakikat segala sesuatu sesungguhnya “manis”, biar pun itu dibungkus oleh “duka” dan nasib yang “pahit”.
Merayakan penderitaan dan malapetaka adalah wujud kedewasaan dalam menyusuri perjalanan panjang kehidupan. Ada mutiara-mutiara berkilauan di balik segala derita, sebagaimana juga ada lautan kebahagiaan di balik segala malapetaka. Sufi-penyair legendaris Jalaluddin Rumi dalam sebait puisinya dengan jantan bersenandung: Wahai duka, jika kau punya nyali datanglah ke mari!

A Yusrianto Elga, esais, tinggal di Yogyakarta.


 

Related Post