PUISI, Muhammad Husein Heikal

Sugiyanto@ Kamis, 01 Juni 2017 18:30:32 Hiburan

Airmata yang Terbakar

Alangkah getir: takdir menghampir
Dirongga jiwa yang kerontang
Dimana segala resah bersarang
Dan gelisah telah bercangkang

Ada yang ingin aku ceritakan
Bukan lagi tentang luka, duka
Ataupun kobaran nestapa
Tak selamanya dongeng itu
Berulang-ulang ditembang: lara

Ada yang belum kudengar
Aroma buku-buku yang terbakar
Berpacu, mengembara ke sabana
Hingga purnama anggun lekang
Dan suara ayam kokok hilang

“Ada yang lebih ingkar dari sekedar
Reruntuhan ingatan musim kelabu”

Kembali hadir, mengalirkan takdir
Tak henti-henti menggurat getir
Membakar aku bagai sihir

Medan, 2016


Kedalamanmu

pada kedalaman matamu
aku mengukir kenang
melinang ratap
meluruh waktu
denyut kelabu
sirna pada kedalaman
jiwamu: jiwa yang utuh

pada tubuh rapuh
menyumpal dendam
membasuh suram
dan aku tenggelam
kian kedalam

Medan, 2016


Terjebak

kita masih saja bernyanyi
selamanya bernyanyi

biar khianat mengentalkan lekat
tak lama darah kan terhambat
barangkali kita ada diantara itu
sedang tubuhku belum menyatu
dengan deru seribu geriak rindu

kita selamanya tak kemana-mana
berdiam diri dalam mimpi sejati

Medan, 2016


Ilusi Tak Henti

kita lahir dari mimpi: karena itu kita ilusi

walau kita membias kegelapan, dengan
sebelanga airmata yang disulut, dengan
seribu lafaz doa pengharapan

yang sirna telah pergi: dan tak ‘kan kembali

mulai kini, mulai kita membias mimpi
agar kelak kita membakar segala ilusi
yang menikam palung sanubari

Medan, 2016

 
     

Perjalanan Ilusi (2)
     
      kutub__utara)(selatan
kembali ke alaska, bercengkrama
dengan beruang-beruang kutub
bulunya anggun setebal rimbun
dibalik itu cakarnya mengintai!
hai, grizzly hari sudah pagi,
tidurkan kembali mimpi

Aceh, 2016
     
    

Perjalanan Ilusi (3)
     
      samudera__pasifik)(hindia
menyelam dalam lautan
dalam menguyah rumput laut
dan cumi-cumi. Hati-hati ada hiu disini
taringnya dapat melumatkan jari-jari
Jadikan insang pada tubuhmu
menyatukan air tanpa udara

Aceh, 2016



Dongeng Puisi

penyairku, kisahkan aku
tentang imajinasi yang
mendecak tintamu!

menetaskan bayangan
butir-butir ilusi
lahir dari rahim imajinasi
merekahkan puisi!


Padangbulan, 2016



Kita Lahir Dari Mimpi

kita lahir dari mimpi sayang,
terbuai bintik-bintik embun
kala elegi berdansa menari
seirama alunan zikir pagi
menyemarakkan rinai mentari

hari sudah terang, bangunlah sayang
kita sambut keceriaan hari-hari
bagai penyair yang ilusi
rebah pada pucuk-pucuk melati

kita lahir dari mimpi sayang,
datang dari dasar hati
yang paling suci

kita lahir dari mimpi sayang,
karena itu kita tak abadi

Medan, 2016




Selamat Tinggal (1)

aku disini masih mengingatmu
diantara wanita yang tak terkira banyaknya
wajahmu masih lekat dalam ingatan anganku
meneduhkan aku dalam tidur siangku

ini dunia penuh cerita
walau tak selamanya ceria mendera
kadangkala aku disini dan kau disini
kita tak bertemu, hanya bayangmu berkelebat
dalam pandangan hilir mudikku

aku hidup dalam kehidupan
yang melintasi waktu demi waktu
sebenarnya aku tak larut
dalam irama memuakkan itu

Medan, 2016




Selamat Tinggal (2)

aku bosan: lalu lalang manusia
riuh gelak manusia,
gerak riak manusia,
tiada kisah yang layak diceritakan

barangkali kau tak tahu
dunia telah memenggal jiwa mereka
memenggal kasih mereka
maka, aku ucapkan selamat tinggal

untukmu, untuk dunia, untuk selamanya
dalam kepergianku tak lekang
anganku mengingatmu

Medan, 2016




Muhammad Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menempuh studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara. Berbagai karyanya termuat di media massa nasional dan daerah, serta media online. Juga sejumlah antologi seperti Merindu Tunjuk Ajar Melayu (Riau Pos 2015), Merenda Hari Esok (Aksara 2016), Perayaan Cinta (Puisi Dwi-bahasa 2016),Ketika Tubuhmu Menjadi Mawar (Sabana Pustaka 2016), Perempuan yang Dipinang Malam (Negeri Kertas 2016), Pasie Karam (Temu Penyair Nusantara 2016) dan Matahari Cinta Samudra Kata (Hari Puisi Indonesia 2016).








 

Related Post