MASJID DARUSSALAM, PUCANGANOM SANDEN (1), Didirikan oleh Cicit Damarwulan

Sugiyanto@ Kamis, 15 Juni 2017 15:04:14 Kearifan
Masjid Pucanganom dilihat dari selatan.

Masjid-masjid kuno ternyata banyak terdapat di berbagai daerah. Di bekas kerajaan-kerajaan pasca Majapahit banyak didirikan masjid sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem atau titik mandala penempatan bangunan yang penting bagi kompleks keraton.

MULAI zaman Demak hingga Mataram dan sesudahnya bangunan masjid menjadi bagian vital untuk pemenuhan kebutuhan spiritual masyarakatnya yang sebagian besar memang terdiri dari kaum muslim.
Bahkan bukan hanya di seputaran keraton-keraton Islam saja masjid tersebut didirikan. Tokoh-tokoh penting dalam bidang keagamaan atau pemimpin-pemimpin daerah tertentu juga banyak yang mendirikan masjid.
Di Bantul sendiri ada beberapa masjid kuno. Ada masjid di Pajimatan Imogiri, masjid di kompleks Pasareyan Giriloyo, masjid di Banyusumurup, masjid di Kauman Pijenan, Masjid Kategan, Masjid Pleret, dan juga Masjid Darussalam Pucanganom.
Masjid-masjid kuno di Jawa ini umumnya bergaya khas Jawa. Umumnya berbentuk joglo dan memiliki gaya atap tumpang tajug. Mustaka biasanya bergaya mahkota distilir atau berbentuk penggada distilir. Umumnya mustaka-mustaka kuno terbuat dari gerabah atau yang lebih kemudian dibuat dari plat seng atau tembaga.
Keberadaan Masjid Darussalam di Pucanganom, Murtigading, Sanden, Bantul tidak lepas dari kesejarahan berdirinya Dusun Pucanganom sendiri. Dusun Pucanganom didirikan oleh seorang tokoh yang bernama Kyai Pucanganom atau sering disebut juga Kyai Pucangsari.
Keberadaan Kyai Pucanganom sendiri tidak lepas dari peran dan keberadaan Nyai Pucangsari yang merupakan salah satu cicit dari Raden Damarwulan.
Nyai Pucangsari ketika muda bernama Raden Ayu Kencanasari. Oleh karena Majapahit runtuh oleh berbagai konflik yang menggerogotinya, RA. Kencanasari pun akhirnya keluar dari wilayah Keraton Majapahit dan pergi ke arah barat. Tidak dikisahkan bagaimana beratnya medan yang ditempuhnya demi menghindarkan diri dari ontran-ontran di Majapahit.
Perjalanan panjang RA Kencanasari pun akhirnya sampai di Pantai Selatan Yogyakarta, tepatnya di Dusun Grogol (wilayah Kretek-dekat Pantai Parangtritis, Bantul). Di Grogol inilah RA Kencanasari bisa bertemu dengan saudara sepupunya yang bernama Syeh Maulana Maghribi yang berasal dari Gresik, Jawa Timur. Syeh Maulana Maghribi sendiri merupakan murid dari Syeh Maulana Malik Ibrahim. <B>(Albes Sartono)

Related Post