LANGGAR PEMERIKSAAN HERKEURING, 2 Pedagang Daging Kena Tipiring

Sugiyanto@ Minggu, 18 Juni 2017 14:53:28 Yogyakarta

UMBULHARJO (MERAPI) - Menjelang Lebaran pengawasan produk daging di pasar-pasar tradisional diintensifkan. Secara umum, kualitas daging yang dijual cukup terjaga mutunya. Namun ditemukan dua pedagang yang menjual daging tanpa dilengkapi bukti pemeriksaan ulang daging atau <I>herkeuring<P>, sehingga dikenai tindak pidana ringan.
Kepala Bidang Pengawasan Kehewanann dan Perikanan Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta, Endang Finiarti mengatakan, pedagang yang tidak memiliki bukti <I>herkeuring<P> itu ditemukan pada satu pedagang daging sapi di Pasar Beringharjo dan satu pedagang daging kambing di Pasar Ngasem. “Pedagang tidak dapat menunjukkan bukti herkuiring. Mereka langsung jual daging dari luar kota itu. Tidak dibawa ke Rumah Potong Hewan Giwangan untuk diperiksa ulang,” papar Endang, Jumat (16/6).
Kewajiban pedagang daging mengurus <I>herkuiring<P> itu diatur dalam Perda Nomor 21 tahun 2009 tentang pemotongan hewan dan penanganan daging. Mengacu perda itu, daging dari luar daerah Kota Yogyakarta wajib memiliki Surat Keterangan Kesehatan Daging (SKKD) dari daerah asal dan sebelum diperdagangkan wajib diperiksa ulang oleh intansi terkait. Jika itu tidak dilakukan pedagang terancam pidana kurungan paling lama 3 bulan atau denda paling banyak Rp 50 juta.
“Dari sisi kualitas daging yang dijual, bagus. Tapi karena tidak memeriksakan ulang daging, sehingga diproses tindak pidana ringan (tipiring),” ujarnya.  
Dia menyampaikan pemeriksaan kesehatan daging itu merupakan kegiatan rutin, sehingga akan terus dilakukan. Termasuk saat masa lebaran. Pengawasan daging telah dilakukan di beberapa pasar tradisional di antaranya Pasar Beringharjo, Pasar Kranggan, Pasar Prawirotaman, Pasar Ngasem, Pasar Giwangan, Pasar Kotegede dan Pasar Gedongkuning.
Kepala Seksi Pengawasan Kehewanan dan Perikanan Supriyanto Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Supriyanto menambahkan, untuk daging glonggongan tidak ada temuan. Pemeriksaan daging glonggongan kini memakai standar alat pengukur daya ikat air pada daging. Menurutnya, sampai kemarin jumlah produk daging yang dijual dan diperiksa tidak ada peningkatan signifikan.
“Masyarakat sebaiknya membeli produk daging di depot maupun kios yang sudah terlegalisais dengan bukti surat keterangan kesehatan daging. Konsumen berhak menanyakan surat itu,” papar Supriyanto.
Secara terpisah Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogyakarta Maryustion Tonag mengatakan, pedagang pasar yang tidak menjual produk sesuai ketentuan akan mendapatkan pembinaan. “Kalau sudah dibina masih melanggar, ya kita beri surat peringatan. Kalau masih <I>ndableg<P> bisa dicabut izin dan kartu bukti pedagang,” ucap Tion. (Tri)
 

Related Post