STOK MELIMPAH, Petani Mengeluh Harga Cabai Merosot

Sugiyanto@ Minggu, 18 Juni 2017 16:47:37 Bantul
 Petani mengeluhkan harga cabai yang anjlok dan terserang hama.

SANDEN (MERAPI) Jelang Lebaran tahun ini para petani harus mengencangkan ikat pinggang. Terlebih petani cabai yang tengah mengeluhkan anjloknya harga komoditas tersebut di pasaran. Sejak awal Ramadan yang lalu harga cabai terus merosot. Belum lagi sejumlah kendala hama dan penyakit yang menyerang lahan pertanian cabai semakin membuat para petani gigit jari.
Salah seorang petani di Sanden, Kirdiman mengaku saat ini dia hanya mampu menjual cabai besar seharga Rp 6 ribu perkilogramnya. Padahal harga sebelumnya bisa mencapai Rp 35 ribu perkilogram. Sementara untuk harga cabai rawit bekisar Rp 12 ribu perkilogram. Turun drastis dari harga sebulan lalu yang mencapai Rp 65 kilogram. "Saya jual ke warung-warung sekitar sini aja, sedikit-sedikit," sebutnya, kemarin.
Warga Srigading Sanden ini memggarap lahan sekitar 2400 meter persegi. Seluruhnya ditanami cabai besar dan cabai rawit. Bulan Juni ini merupakan masa akhir panen sejak dimulai pada Mei 2017 yang lalu. Lantaran turunnya harga cabai ini, Kirdiman mengaku akan segera mengganti tanaman cabainya dengan sayuran lain usai masa panen. "Setelah Lebaran saya mau tanam bawang merah saja," ungkap pria 50 tahun tersebut.
Kendala yang tengah dihadapi petani saat ini tidak hanya soal harga, namun juga banyaknya serangan hama dan penyakit tanaman. Kirdiman mengaku harus banyak memilah cabai yang hendak dipanen. Akibat hama tanaman, buah cabainya banyak yang rusak dan membusuk. Untungnya, Kirdiman juga menanam sayur jenis slada diantara tanaman cabainya. "Slada lumayan karena harganya dulu seribu rupiah, seminggu ini naik jadi dua ribu rupiah perkilo," sebutnya.
Sementara, Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Bantul, Pulung Haryadi mengatakan melimpahnya stok cabai diduga menjadi penyebab anjoknya harga di pasaran. Luas lahan cabai di Bantul saat ini mencapai seratusan hektare. Sedangkan angka produksinya menjapai 7 sampai 9 ton per hektarenya. "Perkiraan harganya turun nanti bulan Agustus, saat itu lahan cabai akan berkurang," jelas Pulung di ruang kerjanya.
Pulung menambahkan program 18 ribu tanaman cabai di lahan pekarangan warga yang pernah diluncurkannya akan panen pada bulan Juli mendatang. Hal ini menurutnya akan mengurangi pembelian cabai warga di pasaran. "Kalau di rumah sudah ada, pembelian cabai di pasar pasti akan menurun," pubgkasnya. (C1)

 

Related Post