DAMAR ASIH, Makin Terkuak, Romo EG Willem Pau Pr

Sugiyanto@ Senin, 19 Juni 2017 19:00:38 Kearifan

TIKNO menatap nanar pusara almarhum ayahnya. Diiringi semilirnya tempat pemakaman itu, ia menutup matanya. Bagaikan film, satu per satu kebaikan ayah kepadanya tampil di ingatannya. Banyak sekali. Air matanya menitik karena terharu. Ia membuka matanya sejenak. Bayangan-bayangan itu pun hilang lagi. Pusara ayahnya yang terlihat. Ia menghela nafas. Kemudian ia menutup kembali matanya. Bayangan semua yang dilakukan almarhum ayah kembali tampil. Hatinya tercekat. Setengah menangis ia berseru lirih: “Terimakasih, ayah”.
Selama almarhum ayah masih hidup, ia jarang memikirkan kebaikan ayahnya. Ia menganggap semua itu sudah biasa. Kan sudah kewajiban dari seorang ayah untuk menyayangi anak-anaknya, termasuk menyayangi Tikno. Entah bagaimana, beberapa hari terakhir, bayangan kebaikan ayahnya itu dapat muncul berderetan, bertubi-tubi memenuhi ingat dan lamunannya.
Dan yang muncul ternyata tidak hanya yang langsung dialaminya. Ia mendengar dari saudara-saudarinya, dari teman-teman ayahnya, bagaimana ayah sungguh mengasihi keluarganya, khususnya mengasihi Tikno. Semakin terkuak berbagai kebaikan ayah kepadanya, semakin haru hatinya, semakin berterimakasih dan bersyukur atas hidupnya.
Tikno kembali membuka matanya. Ada banyak pusara bertebaran di tempat pemakaman itu. Di beberapa tempat tumbuh pohon-pohon perindang. Kebetulan ada juga sungai kecil yang terus mengalirkan air. Sejenak Tikno diam merenung. Kalau, tentang ayahnya saja ada begitu banyak kebaikan yang baru terkuak setelah wafat, mungkinkah ada begitu banyak kebaikan dari semua yang sudah terbaring di tempat pemakaman itu, yang baru terkuak setelah kematiannya?
Ayahnya, dan semua yang sudah terbaring di tempat itu, adalah makhluk ciptaan. Kalau pada setiap makhluk ciptaan itu sudah dapat disingkapkan begitu banyak kebaikan, apalagi pada Sang Pencipta. Tiba-tiba hatinya seperti tercerahkan: tak heran bahwa ada yang menyebutNya: Hyang Widi, Hyang Manon, Hyang Maha Pengasih, Hyang Maha Penyayang, Hyang Maha Besar, Hyang Maha Esa, dan berbagai sebutan lainnya. Dalam setiap sebutan itu Sang Pencipta menyapa manusia dan manusia memahami dalam keterbatasan dan kelemahannya. Dan Sang Pencipta dapat terus menerus semakin menguak rahasia DiriNya. Tikno terdiam. Hatinya penuh syukur. ***

Romo EG Willem Pau Pr
Rohaniwan KAS


 

Related Post