MASJID DARUSSALAM, PUCANGANOM SANDEN (3), Membuka Kawasan Membakar Hutan

hari Senin, 19 Juni 2017 19:32:00 Kearifan
Kompleks makam Nyai Pucangsari.

RA Kencasari kemudian meninggalkan Grogol, perjalanannya diiringkan oleh 20 orang murid Syeh Maulana Maghribi. Iring-irngan ini menembus kegelapan suasana Subuh. Perjalanan mereka diterangi suluh. Setelah hari jadi pagi Syeh Maulana Maghribi naik di atas bukit di wilayah Grogol.

DARI atas bukit inilah Syeh Maulana Maghribi melepaskan anak panah ke arah sisi barat (muara) Sungai Opak. RA Kencanasari bersama para pengiringnya memperhatikan melesatnya anak panah dan juga menyimak ke mana arah jatuhnya anak panah tersebut. Ternyata anak panah itu memang jatuh pada sebuah hutan yang keletakannya memang dekat dengan muara Sungai Opak.
“Anak panah itu ternyata jatuhnya dekat dengan soge ‘tempat tumpahnya air’ air Sungai Opak ke Laut Kidul.” Demikian gumam para pengiring RA. Kencanasari. Mereka pun menuju kea rah jatuhnya anak panah itu. Setelah diketemukan mereka pun mulai membabat tempat itu serta membakarnya.
Setelah api padam dan tempat mulai terbuka maka didirikalah gubuk di atasnya. Oleh karena itu maka temoat tersebut menjadi padukuhan atau dusun. Dusun itu pun dinamakan Dusun Soge sesuai dengan melimpahnya air Sungai Opak yang masuk ke Laut Selatan.
Setelah Dusun Soge bisa berdiri para murid dari Grogol itu pun kembali ke tempat gurunya di Grogol. Sementara RA Kencanasari tinggal di Soge.
Setelah beberapa saat tinggal di Soge bencana pun menimpa wilayah itu. Bencana itu berupa bencana banjir. Ternyata di musim penghujan Dusun Soge penuh dengan air. Dusun ini terbenam air yang tidak saja berasal dari Sungai Opak, tetapi juga dari Sungai Bedog yang alirannya juga tidak jauh dari Soge. Bencana banjir yang nyaris menenggelamkan Soge ini tentu saja tidak menyenangkan hati RA Kencanasari. RA. Kencanasari kemudian berniat pindah dari Soge.
Pada musim kemarau RA Kencasari berniat membabat hutan lagi di sisi barat dari Soge. Di hutan yang dibabatnya itu RA. Kencanasari mendapakan bantuan dari orang-orang yang lebih dulu bermukim di seputaran hutan tersebut.
RA Kencanasari dan orang-orang tersebut akhirnya juga membakar hutan yang dimaksud. Membakar hutan ini dalam istilah Jawa disebut dengan istilah dilagar ‘dibakar’. Kelak bekas hutan yang dilagar itu dinamakan Dusun Klagaran.
Setelah hutan tersebut terbakar dan  menjadi tempat terbuka, maka arang dan abunya dibuang. Bekas arang dan abu ini oleh orang Jawa sering disebut sebagai tegesan (semacam puntung). Kelak di kemudian hari tempat orang membuang tegesan ini dinamakan Dusun Tegesan. Sekalipun tegesan atau sisa pembakaran ini telah dibuang, namun ternyata api terus merembet ke sisi sebelah barat. (Albes Sartono)

 

Related Post