MASJID DARUSSALAM, PUCANGANOM SANDEN (4), Pucang Anom Menikahi Kencanasari

Sugiyanto@ Senin, 19 Juni 2017 20:18:36 Kearifan
Pucang Anom Menikahi Kencanasari

Setelah hutan terbakar dan menjadi tempat terbuka, maka arang dan abunya dibuang. Bekas arang dan abu ini ini sering disebut sebagai tegesan (puntung). Di kemudian tempat ini dinamai Dusun Tegesan. Namun demikian ternyata api terus merembet ke sisi sebelah barat.

DENGAN demikian orang-orang yang membakar hutan, RA Kencanasari, dan orang-orang yang bermukim di sisi barat pun bingung serta khawatir. Oleh karena itulah mereka kemudian bahu-membahu mencoba mematikan api tersebut dengan menyiraminya dengan air.
Aktivitas penyiraman air pada api yang berkobar ini dalam istilah Jawa disebut nggunturi. Sedangkan api disebut dengan istilah geni. Oleh karena itu tempat orang-orang melakukan penggunturan geni ini kelak dinamakan Dusun Gunturgeni.
Berdasarkan peristiwa-peristiwa itu, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Dusun Soge, Tegesan, Klagaran, dan Gunturgeni di Bantul lebih dulu ada atau lebih tua dari pada Dusun Pucanganom karena ketika semuanya itu terjadi Dusun Pucanganom  memang belum terbentuk.
Setelah peristiwa-peristiwa itu RA Kencanasari pun kembali mencari-cari tempat yang sekiranya pantas atau baik untuk tempat tinggal. Setelah beberapa waktu ia melihat-lihat, akhirnya ia memutuskan untuk tinggal di sebuah wilayah yang tidak terlalu jauh dari Gunturgeni.
Di tempat baru itu ia mendirikan gubuk atau rumah dengan dibantu oleh para pengikutnya. Para pengikutnya pun kemudian juga membuat rumah tidak jauh dari rumah RA Kencanasari.
Tidak lama kemudian ada seorang pengembara yang bernama Kyai Pucang Anom datang ke dusun tempat RA Kencanasari tinggal. Kyai Pucang Anom ini berasal dari Dusun Pucang Anom di Panggang, Gunung Kidul.
Di dusun ini Kyai Pucang Anom meminta ijin untuk ikut bermukim dan hal itu dikabulkan. Setelah beberapa saat Kyai Pucang Anom juga menyatakan diri ingin mempersunting RA. Kencanasari. Hal itu juga diterima oleh RA Kencanasari karena RA Kencanasari waktu itu memang belum menikah dan bisa dikatakan menjadi perawan kasep.
Setelah keduanya menikah Kyai Pucang Anom berganti nama menjadi Kyai Pucangsari dan RA Kencanasari juga bergani nama menjadi Nyai Pucangsari. Tidak jelas benar mengapa mereka menggunakan nama itu. Ada dugaan bahwa mungkin di masa lalu tempat tinggal keduanya banyak ditumbuhi pohon pucang (jambe/pinang) sehingga mereka menggunakan nama itu. (Albes Sartono)

Related Post