Kuntilanak Cantik Ngebet Kawin

Sugiyanto@ Senin, 19 Juni 2017 20:29:51 Cerita Misteri
Wewe ngebet mencari pasangan

TETANGGA kiri-kanan Pak Ndiman (bukan nama sebenarnya) ubur, wewe penghuni pohon kepel di pekarangannya sering menampakkan diri dan mengganggu orang. Awalnya Pak Ndiman ra percaya, sampai suatu kali di mengalami sendiri. Dia kena timpuk buah kepel beberapa kali. Terutama ketika sedang mandi di kulah yang terbuka (tanpa atap). Padahal kali itu tengah malam. Mana mungkin ada orang berani memanjat pohon kepel yang rimbun itu. Banyak tetangganya juga mengalami begitu.
Sejak dulu Pak Ndiman dikenal sebagai orang kendel. Pemberani dalam hal apa saja. Juga ketika harus berhadapan dengan makhluk jagad alus. Karenanya meski tetangganya ubur sejak dulu bahwa rumah dan pekarangannya angker dia cuek bebek. Karena makhluk-makhluk halus itu sudah tahu siapa sebenarnya Pak Ndiman, pemilik pekarangan yang mereka tinggali atau nunuti (meski di jagad alus).
Wewe atau kuntilanak itu memang ayu. Seringakali menampakkan diri tidak berkutang, payudaranya sakhohah. Kuning langsat memang kulitnya, rambutnya berombak terurai panjang ke bawah. Rambutnya itulah yang sering digunakan untuk menutupi tubuhnya di bagian depan.
Belakangan jahil methakilnya si wewe sudah sampaI pada tingkat keterlaluan. Pak Ndiman seringkali diprotes para tetangga. Untung belum sampai pada tingkat demo.
“Trus, kepriye menghadapinya…?” pikir Pak Ndiman, pria pemberani tetapi lugu. “Baik, aku akan bertanya pada Mbah Basyir (nama samaran) yang ahli dalam urusan lelembut.”
Suatu petang Pak Ndiman jadi menghadap Mbah Basir.
“Sekarang ini mangsa ketiga, Man. Wewe baru ngebet mencari pasangan. Ingin kawin. Pada nafsunya sedang berkobar-kobar seperti itu malah mudah dibekuk. Caranya….” Mbah Basyir lalu membisiki cara menghadapi kuntilanak yang sedang terpikat pada lelaki itu. “Ini ada kayu setigi, bawalah menghadapi wewe itu.”
Benar, malam itu kebetulan malam Jumat Kliwon, Pak Ndiman berniat menghabisi si kuntilanak bahenol malam itu juga. Dia duduk di sebuah batu dengan telanjang bulat. Tak lupa mengokang senjatanya sambil menghadap pohon kepelnya yang rimbun.
Tak berapa lama terdengar suara tawa perempuan, cekikikan senang. Sambil mendesah-desah. Kemudian si wewe berkata keras: “Mas Ndimaaaaan, Mas Ndimaaan!” Sambil berlari mendekat ke Mas Ndiman, kedua tangannya dipentang lebar-lebar, siap memeluk lelaki itu. Tetapi…
Begitu si kuntilanak ada di dekatnya, kayu setigi yang dipegang Pak Ndiman lalu digebukkan ke tubuh si kuntilanak. Kontan kuntilanak itu nglumpruk minta ampun. “Jangan kamu ulangi lagi tingkah konyolmu mengganggu tetanggaku, ya! Tahu!” (Hendro Wibowo)

Related Post