PUISI : Daruz Armedian

Sugiyanto@ Senin, 19 Juni 2017 20:47:25 Hiburan

Pulang (1

aku pulang hari itu dan rumahku masih seperti dulu
pintu menghadap utara dan jendela
yang hanya tumbuh di kepala orangtua
dapur tanpa cerobong
tungku yang menyalakan api dari kayu
lalu asapnya melahirkan usuk-usuk gosong

beranda semakin sempit diapit rumah tetangga
yang semakin mundur dua langkah
hanya memberi ruang bagi temali memanjang
tempat biasa berjemur baju-baju, rok ibu,
celana panjang, kutang, dan celana dalam
di bawahnya mengalir kecil air comberan
membawa sisa-sisa busa sabun kamar mandi

kalau aku menghadap pintu
sebelah kiri rumah ini berdiri kandang sapi
dan kandang ayam
sebelah kanan rumah ini
bersedia menampung kamar mandi,
tempat sampah, tai sapi, tai orang
dan gang kecil untuk kaki berjalan

aku pulang hari itu dan kemarau sudah berlalu
hujan deras di luar dan sebagian kecil dalam rumahku
dan tangan ibu yang sibuk menaruh bak,
basi, panci yang mengundang bunyi mengusir sunyi

bapak masih sering di luar rumah
mungkin sedang duduk di warung kopi
atau menarik becak yang hampa
sementara kepalaku masih berputar
menerka-nerka apa yang hilang dan apa yang datang

oh, almari yang bertahun-tahun berdiri sendirian
di samping pintu dapur kini punya teman
teman yang sama dengan dirinya, menyimpan pakaian-pakaian
dan bukan uang atau berlian
oh, seekor sapi yang kini tinggal sendirian
      kata ibu, kami butuh uang

dan kau tahu, di dinding kamarku masih sama sebelum kepergianku
tertempel tanggalan yang berlalu, jam, dan bingkai rajutan
menuliskan namaku
dengan di bawahnya nama singkatan seseorang
mungkin orang itu sudah pergi
tapi aku menolak untuk lupa terhadap kenangan

aku pulang hari itu dan kamarku masih kamarku
di sana, bantal-bantal berserakan
dan pakaian yang belum dirapikan
aku suka, karpet merah muda itu masih ada
karpet yang mengajariku cara menulis kata-kata:
      kata-kata pertama orang jatuh cinta
      kata-kata terakhir kali orang sebelum mati

aku pulang hari itu dan saat ini aku enggan mengulanginya
mungkin ibu tengah merindukanku
dan aku pasti merindukannya
tetapi aku sedang benci kampungku sendiri
kampung tempat kuhabiskan masa kecil bermain,
menerbangkan layang-layang dan menerabas angin
mencari ikan dan berbicara dengan hujan
membuat orang-orangan dari tanah dan menggenggam
kelereng dengan tangan
kampung berubah jadi tanah yang membangun kota-kota
merawat mesin-mesin yang bising
dan memupuk anak-anak nakal
serta memberi kehidupan pada ketakacuhan

aku tahu tempat yang baik adalah asal mula
tetapi aku tak ingin lagi dihantam rindu
dan berangan-angan menjadi bayi yang lucu
tak mengenal sakitnya menjadi dewasa
atau anak-anak yang gemar menendang bola
tertawa riang bersepeda dan memanjat pohon
yang dianggap mencapai puncak angkasa

aku pulang hari itu dan saat ini aku ingin di sini
di kamar berdinding buku atau beranda yang jauh dari kota
dari ramainya jalan raya
mungkin sebagian besar orang-orang
menganggap hidupku membosankan
tanpa liburan, tanpa aroma pantai, tanpa aroma puncak gunung
tanpa keramaian pasar malam, dan tanpa apa-apa
yang menurut mereka liburan

kalau kau tahu, aku di sini sedang menuliskan ini
tanpa perasaan sendiri
tanpa merasa kesepian meski yang terdengar hanya jarum jam
mungkin hari sudah malam
tetapi aku merasa kepalaku tak pernah alpa
menerbitkan matahari dan putih awan
mungkin kamarku membosankan
tetapi di kepalaku seperti berdongeng sendiri
mengajakku untuk berdiskusi dengan tokoh-tokoh cerita
yang menganggap aku sebagai Tuhannya

jika tertawa bersama tokoh cerita adalah perbuatan gila
aku ingin menjadi gila selamanya
mungkin orang-orang terlalu sibuk membahas kenyataan dunia
yang membosankan dan memuakkan ini
sehingga lupa di dalam kepalanya tersimpan bayi
bayi kecil yang lucu dan selalu membuat rindu
dan membuatnya nyaman sepanjang hari

aku ingin di sini dan sedang merencanakan pulang
      ke kampung halaman
      atau tempat yang lebih abadi dari itu
sebuah kepulangan
yang itu entah kapan.
      yang itu entah kapan.

2016


(1 Puisi ini Pemenang I Lomba Cipta Puisi bagi Remaja DIY yang diselenggarakan oleh Balai Bahasa Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2017. Dewan Juri dalam lomba ini terdiri Joko Pinurbo, Ulfatin Ch dan Latief S Nugraha.

Daruz Armedian atau Ahmad Darus Salam, lahir di Tuban, Jawa Timur. Penulis tetap di tubanjogja.org, alumnus kampus fiksi angkatan 20, alumnus Sekolah Menulis Balai Bahasa DIY angkata I. Sekarang bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta dan masih tercatat sebagai mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Nomor ponsel: 085743043329 alamat Pos-el: armediandaruz@gmail.com


 

Related Post