PUISI : Dwi Rahariyoso

Sugiyanto@ Kamis, 22 Juni 2017 21:29:10 Hiburan

Ramadan

ia puasa di dalam kulkas sebab ramadan terasa panas
di dalam tubuhnya yang kering
kata-kata menjadi es batu dan segelas sirup buah
yang melampaui seribu bulan telah mencair
tapi tuhan tidak bicara ke siapa-siapa
ia begitu dingin dan asing di dalam sunyi
mengganti bulan di langit beberapa kali
dan kulkas yang menggeram lelah
karena biaya listrik naik

2017



Sol Sepatu

Ia menjahit kakiku dengan benang yang putus sepanjang jalan
kaki kecil yang aus oleh gang-gang sempit kota
di mana ribuan saudaraku tergerus dalam labirin nasibnya
tiap malam
Ia menjahit kakiku dan menyulamnya bersama jejak-jejak
ingatan, jarak dari perjalanan yang mengental di kepala
sebuah kampung halaman di kaki yang dialiri sungai
betapa naif hidup yang dihabiskan sendiri
Ia menjahit kaki dan kepalaku seperti menjaga hidup
dari revolusi yang hangus oleh kenyataan
dan tidak pernah ada kemenangan bagi perantau
kecuali pulang pada kenangan yang nostalgik

2017


Di Hadapan Buku


di hadapan buku, dunia menjadi televisi yang bersandiwara
tentang lakon tanpa nama
kau menonton dirimu sedang memuntahkan hewan-hewan
purba dalam suatu drama satu babak
lalu, segala yang teringat tentang kedai kopi, sarapan nasi bungkus,
dan juga biaya listrik mulai meleleh memenuhi sudut mata
ironi yang gersang tengah dibacakan oleh seseorang di masa lalu
yang dilarang seorang pegawai kelurahan
manusia-manusia adalah negara yang terbelah di hadapan buku
sebelum mereka benar-benar selesai merindu
di hadapan buku, sebuah pabrik bahasa tengah bekerja
cerobongnya yang menganga siap menghisap segala upaya
untuk menciptakan tafsiran-tafsiran hampa

2017


Setiap Kamis, Ia Mencukur Kumis
 
setiap Kamis ia mencukur kumis dan melakukan perjalanan
seperti pasasir
ia mencukur kumis dalam sebuah perjalanan musafir
ke arah debu-debu yang menghuni gurun
sebuah perjalanan musafir dikabarkan untuknya sebagaimana
tahun-tahun yang senyap dalam almanak masehi
debu-debu yang menghuni gurun seperti tidak berpintu
dan tidak berpenjuru
angin menutup tubuhnya dengan badai sepanjang masehi
yang kering oleh kopi dan roti
ia mencukur kumis tujuh hari sekali dalam kesunyian
dan tuhan merangkulnya lewat bisikan-bisikan
yang menghuni gurun
ketika ia mencukur kumis kesekian kalinya,
tubuhnya lebur bercampur debu-debu 
dan terbang ke segala penjuru

2107  


Kejadian Ganjil Seorang Buruh

sebagai buruh yang bekerja, namamu tidak ada di daftar gaji. buruh
meminjam kursi untuk duduk di atas rasa letih yang dihasilkan
jam-jam lembur kantor yang berisik.
kedua kakimu terkulai seperti sungai yang keruh dan dipenuhi
endapan sampah dari pagi hingga petang.
atasanmu adalah mandor yang malas tapi baik. ia memberimu
pekerjaan dan upah sukarela.

di kontrakan yang sempit, bohlam sepuluh watt menyala temaram
dan dipan yang keras meringkik disertai nyeri rematik.
gas tiga kilogram kembang kempis
memanaskan sisa sayur kemarin. rasa lapar
dan dinginnya hujan bercampur seperti teka-teki
yang tidak pernah kau mengerti.

2017

Aku dan Kau

di hadapan bahasa, aku adalah nomina
sebuah rindu yang tidak dimiliki bahasa

di sebuah kenangan
kau adalah aku yang dibedakan konsonan
dan disatukan vokal di sebuah sepi yang terjal
sebab di antara bibirmu ada aku
dan sebuah verba
yang diasingkan bahasa

Mei, 2017

Alkisah

Seorang temanku yang burung gereja. Ia menghuni kabel listrik
dan sampai ke rumahmu.
Kau menonton kesendirianmu di televisi yang menyiarkan
sekawanan burung gereja di langit kota tua
yang dindingnya senja.

Ia melihatmu dari dalam televisi abu-abu
yang mendengkur. Burung-burung bermigrasi
ke dalam dirimu
menjadi gereja yang teduh. Ketika adzan berkumandang,
kota di dalam tubuhmu semakin tua dan lengang.
Suara-suara bergemuruh ditelan keheningan
mereka kehilangan tuhan dan ingatan.

April-Mei, 2017


Pegawai Honorer

pegawai honorer yang rajin
adalah mereka yang berangkat
usai para muazin
mengumandangkan pagi

di kantor, keringat mereka
melap koridor-koridor yang kotor
dan meja-meja tempat molor
para senior

hidup bergerak sepanjang jam
dan honor seperti nyala kompor
yang kelam

negara yang diam dan berat
seperti mesin yang bergemuruh sekarat
menjepit lorong-lorong sempit
bersama malam yang pahit
bulan-bulan panjang terasa rapuh
menerawang langit dengan gerimis yang jauh
kredit, cicilan, dan angsuran
bertubi-tubi dirayakan

demi bertahan dari kesedihan
yang dipercaya
kelak melahirkan kebahagiaan

2016-2017


Aku dan Saudaraku

aku dan saudaraku berasal dari kipas angin
yang hujan dan dingin
 
saudaraku mirip denganku; kurus, miskin, dan layu
ia kembali dari masa lalu yang pahit,
sebab kepergian seperti kabel putus
yang dimakan tikus
aku datang dari masa depan yang tua,
ketika harapan membentangkan doa
dalam sebuah lorong panjang
tanpa nama

di persimpangan tanpa lampu lalu lintas
yang pergi dengan huruf-huruf nyeri
aku dan saudaraku bertemu bahasa
yang gagap oleh kenangan dan kepergian
sebab ia mudah diucapkan
namun selalu luput dihadirkan

Mei, 2017


Berbicara pada Kucingku

Meong, katamu.
Rasa lapar tidak bisa digantikan.
Di atas piring, tertinggal ikan asin dan seporsi nasi kering.
Bulan menua dan pucat dari jendela, sepuluh hari lagi
lebaran.
Semut-semut hilir mudik mengerubungi sisa kopi.
Tidak ada yang tersisa pada dunia yang ganjil dan asing,
sebab segala hal semakin mahal.
Meong, katamu lagi. Kubilang, sabar.
Tunggu hingga dini hari, sepi terasa lebih sakral
ketika lapar benar-benar melezatkan lidah.
Ngeong, parau suaramu.
Kuberi segelas air putih,
mata cekungmu menatap meja makan.
Malam terasa lambat. Dingin melilit perut
dan keringat dingin menguar di sekujur tubuh.

Ramadhan, 2017

Merantau

pulang dari merantau ia begitu kurus
kulit seperti kayu yang rapuh dan tirus
mata cekung seperti sumur mengering
yang kelam dan asing
bis yang mengantar telah hilang ditelan petang
tiga belas tahun di seberang

kampung halaman telah ramai,
orang-orang mudik sebab lebaran seperti
sedu sedan yang mencekik
dan pulang seperti batu akik
yang mengkilap diterpa terik
  
badanmu goyah pada kenangan yang terpisah
dan hidup masih seperti mula
sawah-sawah menyempit
zaman semakin pahit
dan ingatan lapuk di pos ronda
“wahai ibu, aku kembali sebagai duda
meminta maaf segala khilaf
sebelum pusara di kampung lenyap
di dalam diri aku berucap”
 
2017

Dwi Rahariyoso, lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 5 September 1981. Saat ini bermukim di Jambi.

Related Post