PUISI : Tjahjono Widarmanto

Sugiyanto@ Kamis, 22 Juni 2017 21:31:44 Hiburan

Musim Seperti Telur

musim pelan-pelan gontai mengikuti arah matahari: menuju batas paling barat
diam-diam angin telah khianat membiarkannya tersuruk tersesat
tak mungkin lagi ada waktu untuk berpaling ke belakang
jejak-jejak kaki di lumpur-lumpur becek telah dihapus tandus
waktu dan kalender mengeriput dengan cepat

kita semua terluka
ingin kembali memintal waktu
namun hujan mempercepat curahnya berganti kemarau
matahari telah menyiapkan kafan bagi sungai-sungai

sisa musim adalah telur yang terkelupas dari cangkangnya

: kita masih saja mendebatkan makna setia, cinta dan kangen
  sedang bayang-bayang maut telah menjulur-julurkan lidahnya!




Perempuan-perempuan Hantu

siapa bisa menafsirnya?
legenda-legenda itu kekal mencatatnya
menjadi semacam sajak atau mantra

rimba gaib yang lahirkan perempuan-perempuan hantu
yang sembunyi di kulit pohon dan akar belukar
pentilnya terbuka. lonjong. bergoyang-goyang
menari hingga keringat leleh jadi sungai
menyeret perahu-perahu –bukan milik nuh—
di dalamnya ada ranjang pengantin kembang tujuh aroma

: ayo bercumbu, perempuan-perempuan hantu
sodorkan pentil lonjongmu. bukankah kita pecumbu abadi!


Kasihmu Ibu


kasihmu ibu, tak sanggup bisa kubayar
sekalipun kupetik seribu matahari seribu bulan
sebab kasihmu adalah cahaya samudera abadi
cahaya dan gelombang airnya mengalir hingga sampai
sungai  -sungai kecil di nadi dan aortaku

kasihmu, ibu
adalah sejuta ikan
yang berdoa dan menari
adalah sejuta burung
yang menghibur dan melipur lara
saat luka dan resah merajam hati


Kunang-kunang

malam adalah rumah yang hangat
tak perlu senja apalagi siang

pada malamlah kau berkisah
tentang bulan tersedu sendiri
tentang kelopak randu yang gagal jadi bunga
atau nyanyi bambu-bambu yang hanya disimak sepi

hanya di tiang-tiang  malam
kau nyalakan seribu lampu
sebab kau tahu
dalam gelap ada yang tak tahu arah
tersesat meraba kelam
engkaulah tunjukkan jejak tak sesat


Cinta Monyet

kuketuk pintu rumahmu
dengan tangan dan hati gemetar
semoga bapakmu tak ada

kuketuk pintu rumahmu
dengan tangan dan hati gemetar
semoga kamu yang buka pintu

saat pintu rumahmu terbuka
gagap aku bilang, aku mau pinjam buku

padahal, aku ingin melihat rembulan
tersangkut di alis matamu

     
Tjahjono Widarmanto, lahir di Ngawi, 18 April 1969. Meraih gelar sarjananya di IKIP Surabaya (sekarang UNESA) Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, sedangkan studi Pascasarjananya di bidang Linguistik dan Kesusastraan diselesaikan pada tahun 2006, saat ini melanjutkan studi di program doktoral Unesa.
Buku puisinya PERCAKAPAN TAN dan RIWAYAT KULDI PARA PEMUJA SAJAK (2016) mendapat penghargaan buku puisi Hari Puisi Indonesia 2016
Bukunya yang lain yang telah terbit terdahulu :  PENGANTAR JURNALISTIK: Pandual Penulis dan Jurnalis(2016), MARXISME DAN SUMBANGANNYA TERHADAP TEORI SASTRA: Menuju Pengantar Sosiologi Sastra (2014), SEJARAH YANG MERAMBAT DI TEMBOK-TEMBOK SEKOLAH (2014), MATA AIR DI KARANG RINDU (buku puisi, 2013), MASA DEPAN SASTRA: Mozaik  Telaah dan Pengajaran Sastra (2013), DI PUSAT PUSARAN ANGIN (buku puisi, 1997), KUBUR PENYAIR (buku puisi:2002),  KITAB KELAHIRAN (buku puisI, 2003), NASIONALISME SASTRA (bunga rampai esai, 2011),dan  DRAMA: Pengantar & Penyutradaraannya (2012), UMAYI (buku puisi, 2012).
Menulis esai, cerpen dan sajak di berbagai media massa seperti HORISON, BASIS, Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, Media indonesia, Pikiran Rakyat, Sinar Harapan, Lampung Post, Banjarmasin Pos, BAHANA (Brunai), Jurnal Perisa (Malaysia). Beberapa sajaknya pernah diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Jerman dan Inggris.
Selain menulis juga bekerja sebagai Pembantu Ketua I dan Dosen di STKIP PGRI Ngawi, serta menjadi guru di beberapa SMA  Sekarang beralamat di Perumahan Chrisan Hikari B.6 Jl. Teuku Umar Ngawi.

Related Post