Membaca Fenomena Fiksi Islami : Oleh Gunoto Saparie

Sugiyanto@ Jumat, 07 Juli 2017 15:50:57 Hiburan

PADA dekade terakhir Indonesia diramaikan oleh munculnya penulis muda berusia di bawah 30 tahun serta maraknya pertumbuhan kantong-kantong sastra di sejumlah kota dan daerah. Salah satu yang dianggap fenomenal adalah munculnya Forum Lingkar Pena (FLP) yang dipimpin Helvy Tiana Rosa pada tahun 1997. Dalam waktu yang relatif singkat, organisasi yang memiliki cabang di hampir 30 provinsi dan di mancanegara ini telah beranggotakan sekitar 5000 orang, hampir 70% anggotanya adalah perempuan. Dari jumlah ini, 700 di antaranya menulis secara aktif di berbagai media.
Visi FLP yaitu membangun Indonesia cinta membaca dan menulis serta membangun jaringan penulis berkualitas di Indonesia. FLP sepakat untuk menjadikan menulis sebagai salah satu proses pencerahan masyarakat/umat.
Misi FLP di antaranya menjadi wadah bagi penulis dan calon penulis. Selain itu, meningkatkan mutu dan produktivitas (tulisan) para anggotanya sebagai sumbangsih berarti bagi masyarakat. Termasuk turut meningkatkan budaya membaca dan menulis, terutama bagi kaum muda Indonesia. Bahkan menjadi organisasi yang turut membidani kelahiran penulis baru dari daerah di seluruh Indonesia.
Bagaimana pun FLP membawa fenomena baru dalam penulisan sastra religius kontemporer dan peduli terhadap kemunculan penulis baru dari berbagai kalangan di Indonesia. Karya-karya FLP juga mendapat perhatian dan penghargaan dari para peminat sastra. Harian <I>The Straits Times<P> yang terbit di Singapura menyebut FLP sebagai kelompok fenomenal yang terus menerus melakukan training, workshop dan aneka kegiatan lainnya tanpa henti untuk mendukung lahirnya penulis baru.
Maman S. Mahayana pun memuji FLP, "Dalam sejarah sastra Indonesia, belum ada satu pun organisasi atau komunitas (sastra) yang kiprah dan kontribusinya begitu menakjubkan, sebagaimana yang pernah dilakukan FLP. FLP telah membuat catatan sejarah sastra Indonesia dengan tinta emas!”. Sedangkan Taufiq Ismail mengatakan, "Forum Lingkar Pena sangat fenomenal. FLP adalah hadiah Tuhan untuk Indonesia." 
Helvy Tiana Rosa menjadikan sastra sebagai sarana dakwah yang bukan saja memberikan pencerahan fikriyah namun juga pencerahan ruhiyah bagi para pembacanya. Di sinilah peran sastra sebenarnya yakni turut mengambil bagian dalam membenahi masyarakatnya. Koran Republika menulis; FLP membawa fenomena baru dalam penulisan sastra kontemporer di Indonesia, sehingga karya-karya FLP mendapat perhatian dan penghargaan dari para peminat sastra.
Menurut Helvy Tiana Rosa, label islami itu memberikan batasan pada pembaca bahwa isi buku tersebut; (1) tidak melalaikan pembacanya dari Tuhan, (2) tidak syirik (menyekutukan Tuhan), dan (3) tidak mendeskripsikan hubungan badani, kemolekan tubuh perempuan atau betapa ‘indahnya’ kemaksiatan, secara vulgar dengan mengatasnamakan seni atau aliran sastra apapun.
Dengan kemasan ngepop-nya, fiksi islami seperti karya-karya Helvy, Asma Nadia, Habiburrahman El Shirazy, Abidah El Khalieqi, dan Muthmainnah, tampil sebagai chiklit dan teenlit yang menawarkan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau para pembacanya, yang sebagian besar remaja itu, menyambutnya dengan meriah. Para pembacanya rata-rata adalah mereka yang bergiat dalam aktivitas dakwah Islam, seperti organisasi mahasiswa Islam, kader partai Islam, dan remaja masjid yang sebelumnya merupakan masyarakat nirsastra, bahkan cenderung alergi terhadap karya sastra.

Sepi dari Kritik
Akan tetapi, seperti halnya fenomena novel pop —yang juga pernah mengalami booming pada awal 1980an— yang kini bermetamorfosa menjadi <I>chicklit<P> dan <I>teenlit<P>, kehadiran fiksi islami yang telah berkembang menjadi fenomena itu pun tidak begitu mendapat sambutan gegap gempita dari kalangan pengamat sastra, kritikus, dan media massa.  Fenomena fiksi islami, yang melibatkan puluhan, bahkan ratusan penulis, terkesan sepi dari perbincangan di media massa.
Meskipun tidak menyodorkan kontroversi, karya-karya para penulis fiksi islami kemudian memang juga ikut mengalami ‘kapitalisasi’. Akan tetapi, hal itu terjadi setelah FLP dan jaringan penerbitnya berhasil membuktikan bahwa potensi pasar fiksi Islami ternyata begitu besar dan luas. Penerbit besar seperti Gramedia, juga Mizan, kemudian ikut menerbitkan fiksi-fiksi islami, setelah kenyataan pasar membuktikan bahwa buku-buku fiksi islami banyak yang best seller.
Fiksi islami sesungguhnya dapat dianggap sebagai genre sastra tersendiri, karena memiliki karakter atau ciri yang bersifat tetap. Ia juga dapat disebut sebagai ‘genre sastra FLP’, karena organisasi penulis inilah yang memperjuangkan kehadiran, perkembangan dan eksistensinya dalam khasanah sastra Indonesia. Genre sastra adalah jenis karya sastra yang memiliki bentuk (pola), gaya atau ciri estetik, ataupun isi (tematik) yang bersifat tetap (sama) pada banyak karya sastra dalam suatu ragam atau jenis sastra.
Memang, fiksi-fiksi islami karya para penulis FLP memiliki ciri dominan bergaya romantik, dengan pendekatan islami. Fiksi-fiksi mereka, baik cerpen maupun novel, umumnya berisi pengungkapan yang penuh rasa dan idealisme untuk mencapai tujuan yang luhur. Romantisme karya-karya para penulis FLP dan simpatisannya bukan romantisme sekuler, tetapi romantisme yang islami, yang lebih dekat dengan semangat romantisme Hamka dalam novel <I>Tenggelamnya Kapal Vander Vijk<P>. Ada jalinan cinta di sana, tapi cinta dalam koridor nilai-nilai etika dan moral islami.

Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT)
 

Related Post