PUISI : Yulianto Adi Nugroho

Sugiyanto@ Jumat, 07 Juli 2017 15:53:03 Hiburan

Di Pintu Kamar Ibu

seikat pelangi sedang menggantung
di pintu kamarmu
setiap kali matamu membiru
mewangi udara kerinduan

gerimis semakin reda
rintik tinggal satu dua
sementara suaramu kian menjauh
doa-doamu berjejal
meminta tempat
di sudut-sudut amsal

kesunyian adalah bagian dari pertemuan
seperti kita dan kemalangan
seperti luka dan ingatan
meskipun tenggelam di laut paling bawah
tetap membekas seumpama kawah

 

Di Sebuah Angkringan

sebelum subuh menganga
malam segera menghabisi gelap
udara sejuk mengikat sisa
kehendak penuh sia-sia
lelah tengkuk dan keinginan
:merangkai jalan pertemuan

di sebuah angkringan
yang kopinya tak pernah tepat waktu
ia lemparkan kesedihan dengan syahdu
kepada bangku-bangku bambu
yang jajar dan jarak bilahnya
lebih longgar daripada kerelaan

matanya nampak sunyi
sepotong kenangan yang tak lagi utuh
membara dan membekas
sama seperti kemungkinan,
yang selalu ia bayangkan
tak mau berhenti sebelum tuntas

ia cermati setiap gerak titik bara merah
yang perlahan menghitam
lenyap sebelum menemui tanah

ia setia menunggu
barangkali ada seseorang yang lupa
meninggalkan irama kepulangannya

sebelum rindu kembali menyesaki dada
satu tarian asap terakhir
ia dekatkan pada mulutnya
kedua bibirnya bersekutu
membangun kekuatan penuh
melepas sisa-sisa peluh


Di Sebuah Halte

ketika itu mata kita saling bertemu
dan isyarat saling membaca
aku seperti berpapasan
dengan setubuh harapan

aku mengerti, sejak saat itu
nasib mulai bekerja
saat itu, semoga
doa kita sama


Idrak

kita sering lupa
terlampau jauh merancang hari lusa
sebagai murid yang gemar melukis pohon
kita suka merimbunkan dahan
menegakkan batang
dan memanjangkan ranting
tapi lupa menaruh daun kuning


Membaca Kemarahan

aku menyukai marah milik mereka
penggila jalan pedang yang malam-malam
menghianati rindu dengan menggauli buku
ketika matanya khusyuk membalik halaman
dan ingatannya tekun mengadu pengalaman
tiba-tiba listrik padam
padahal hujan baru saja redam

aku menyukai marah milik mereka
para ibu di sore itu
yang membiak semangat
memasak untuk berbuka puasa
namun tiba-tiba listrik padam
padahal beras baru saja direndam

aku menyukai marah milik mereka
yang di sela umpatannya
berbisik pada Tuhan
“seperti doa, dosa adalah kebutuhan.”


Yulianto Adi Nugroho. Lahir di Blora, 13 September 1997. Saat ini sedang menempuh S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Surabaya, bergiat aktif di komunitas sastra KRS (Komunitas Rabo Sore) Surabaya. Pernah menjadi pemenang ketiga dalam Festival Bahasa Indonesia 2016 kategori menulis puisi. Selain itu beberapa puisi saya telah masuk antologi bersama, di antaranya antologi sayembara Pena Kita Jateng “Sebuah Cerita Tentang Menangkap”.
 

Related Post