PPDB Jalur SKTM Tak Efektif

Sugiyanto@ Senin, 10 Juli 2017 15:25:31 Kulon Progo
Ombudsman Perwakilan DIY memantau penyelenggaraan PPDB di Kulonprogo.

WATES (MERAPI) - Jalur penggunaan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) pada penyelenggaraan Penenerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di Kulonprogo belum efektif akibat minimnya sosialisasi dari pihak terkait. Akibatnya, para siswa yang tergolong miskin tidak menggunakan jalur ini.
Hasil pantauan yang dilakukan tim dari Ombudsman RI Perwakilan DIY di Kulonprogo menyebutkan, di SMK N 1 Pengasih ada jalur untuk SKTM sebanyak 20 persen, namun belum digunakan secara efektif karena prosedur verifikasi data di Dinas Sosial dan Disdikpora menyita waktu. Di sisi lain, calon siswa merasa tidak tersosialisasi mengenai jalur ini berikut berbagai persyaratannya, sehingga banyak yang tidak menggunakan jalur ini meski tergolong miskin.
Selain persoalan SKTM, di SMK N 1 Pengasih juga ada masalah dengan sistem di website PPDB online. Daftar nama yang terpampang lebih kecil dari total kuota seharusnya yakni kuota siswa miskin ditambah siswa reguler. Dampaknya, siswa yang namanya berada mendekati batas akhir dan tidak terpampang menjadi khawatir apakah akan mencabut dan memindah ke jurusan lain atau tetap menunggu sampai diumumkan.
Menurut anggota tim pemantau dari Ombudsman RI, Budhi Matshuri, pihak sekolah juga menerima keluhan dari orang tua calon siswa terkait adanya peraturan dinas bahwa siswa yang sudah keluar atau mencabut berkas dari sistem online tidak dapat mendaftar kembali.
Tim pemantau juga mendapati persoalan sebagian nama siswa yang terdaftar tidak ditampilkan pada web PPDB online.
Di SMKN 1 Pengasih, pada salah satu jurusan, kuota kelas mampu menampung 64 siswa dengan 20 persen di antaranya siswa miskin. Namun dalam sistem, yang ditampilkan hanyalah 62 siswa atau terdapat dua nama siswa yang tidak ditampilkan meski belum tereliminasi dari sistem.
Koordinator PPDB online SMK N 1 Pengasih, Sukijo mengatakan, kelemahan sistem membuat panitia PPDB kerepotan. Pihaknya berharap hal ini bisa segera ditindaklanjuti.
"Banyak orang tua siswa yang merasa kecewa. Kami juga kerepotan karena sudah melakukan input namun tidak ditampilkan sehingga solusinya kita anjurkan ke sekolah plihan kedua," katanya.
Salah satu orangtua siswa, Ramijo (50) merasa kecewa dengan sistem online yang digunakan. Ia berharap pihak terkait melakukan evaluasi. "Para orangtua kesulitan memantau. Apalagi jika nanti namanya sudah tidak kelihatan tapi statusnya belum tereliminasi," katanya.(Unt)

Related Post