PENANGKARAN BENIH UNTUNGKAN PETANI TEGALREJO, Sukses Tanam Padi Langka di Lahan Terbatas

Sugiyanto@ Selasa, 11 Juli 2017 19:17:55 Yogyakarta
Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti dan para petani Tegalrejo memanen padi bersama. Padi yang ditanam adalah padi gogo segreng yang hasilnya digunakan

TEGALREJO (MERAPI)- Di tengah terbatasnya lahan pertanian di Kota Yogyakarta, sebagian petani masih bisa memetik hasil pertanian di kota pelajar ini. Salah satunya di Kelompok Tani Ngudirejo di Kelurahan Tegalrejo. Bahkan mereka menjadi petani yang berhasil melakukan penangkaran benih padi. Mulai dari benih padi berkualitas sampai benih padi yang kini sulit dicari seperti padi gogo segreng.
Ketua Kelompok Tani Ngudirejo Sugiyanto menuturkan, tidak ada kesulitan bagi para petani dalam menanam dan mengolah tanaman padi yang hasilnya untuk benih padi petani lain itu. Kegiatan penangkaran benih padi itu dilakukan para petani di Tegalrejo bekerjasama dengan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Pertanian (BPSBP) di bawah Dinas Pertanian DIY sejak tahun 2014.
“Tidak sulit karena penyediaan benihnya kerjasama dengan BPSBP. Cara mengolahnya sama saja dengan tanam padi umumnya,” kata Sugiyanto di sela kegiatan panen padi bersama Wiwitan di Tegalrejo, Senin (10/7).
Namun diakuinya, dalam menanam padi benih tertentu perlu memperhatikan kebutuhan air dan pupuk. Pada padi gogo varietas segreng misalnya, yang cocok ditanam di daerah lahan kering. Pupuk yang digunakan tidak banyak yakni cukup 75 kg/lahan 1 hektare. Beda dengan padi umumnya yang memerlukan pupuk sekitar 1 kuintal/lahan 1 hektare. Padi gogo varietas segreng adalah varietas lokal daerah Gunungkidul yang sudah sulit dicari. Padi segreng itu menghasilkan beras merah.
“Tanam padi gogo segreng ini kami malah menghemat biaya karena tidak butuh pupuk banyak. Di Gunungkidul kualitas benih padi segreng sudah tidak ada. Itu makanya mau dihidupkan lagi,” paparnya.
Hasil penangkaran padi tersebut tidak bisa dijual bebas seperti ke tengkulak gabah atau beras. Dia menyampaikan hasil penangkaran padi itu akan dibeli BPSBP lalu dijual kepada penyedia benih padi atau toko-toko pertanian. Harga beli gabah untuk benih padi di petani mencapai Rp 4.800/kg. Beda dengan harga gabah untuk konsumsi beras yang di kisaran Rp 4.300/kg.
“Memang dari BPSB sebelumnya sudah ada janji berani membeli harga gabah lebih tinggi dari harga di pasaran. Jadi petani di sini memilih menjadi petani penangkar benih padi. Lebih menguntungkan hasilnya,” terang Sugiyanto yang mengelola sawah bersama 16 anggota petani lainnya.
Selain padi gogo Segreng, para petani Tegalrejo selama ini melakukan penangkaran benih padi Ciherang dan IR64. Dia menyebut total sudah 8 kali tanam untuk kegiatan penangkaran benih padi dan semuanya berhasil.
Sebagai ungkapan rasa syukur terhadap hasil panen, para petani di Tegalrejo kemarin mengadakan kegiatan tradisi panen pertama atau Wiwitan. Panen raya itu diikuti Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti, Komandan Kodim 0734/Yogyakarta Rudi Firmansyah, Kepala Dinas Pertanian DIY Sasongko, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta dan Muspika Tegalrejo.
“Kami tetap bangga walaupun sawah semakin menciut karena alih fungsi lahan, namun kami masih dapat berbuat baik di sektor pertanian,” ujarnya.
Sementara itu Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto mengapresiasi para petani di Tegalrejo yang dalam usia sepuh masih giat mengelola lahan pertanian. Pihaknya akan mendukung terhadap kegiatan penangkaran padi itu dan akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian DIY yang berwenang dalam penyediaan benih padi.
“Padi yang dipanen dalam kegiatan wiwitan ini seluas 5,1 hektar. Hasilnya sekitar 8,4 ton, melebihi target,” tambah Sugeng.
Walikota Yogyakarta Haryadi Suyuti juga mendukung adanya kegiatan tradisi wiwitan padi yang dihidupkan kembali. Dia mengatakan kegiatan menanam padi di lahan kecil dengan tradisi wiwitan itu dapat dikemas menjadi kegiatan wisata.
“Kami harap ini bisa dijaga semua. Padi segreng beras yang cukup langka. Dan kegiatan wiwitan memilik tiga unsur budaya, religi dan wisata. Saya minta Dinas Pariwisata juga mengampu ini,” ucap Haryadi.(Tri)

Related Post