Lestarikan Sumber Air, Ratusan Warga Ngarak Dadap

Sugiyanto@ Selasa, 18 Juli 2017 16:57:04 Bantul
Prosesi penanaman pohon dadap serep di Dusun Dlingo 1 Desa Dlingo

DLINGO (MERAPI)- Belik Dadap selama ini menjadi sumber mata air yang berada di tengah Dusun Dlingo 1 Desa Dlingo Kecamatan Dlingo, Bantul. Sejak Abad ke-18 sumber air ini dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk segala keperluan setiap harinya.
Seperti namanya, di sekitar sumber air berbentuk sumur ini banyak ditumbuhi pohon dadap. Namun keberadaan pohon dadap yang dipercaya sebagai pengikat air tanah tersebut mati karena usia. Setelah mati warga menggelar ritual Ngarak Dadap untuk menanam kembali pohon yang baru. Penanaman yang dirangkai dalam acara Merti Dusun, Sabtu (15/7) ini  merupakan upaya warga untuk melestarikan keberadaan sumber mata air tersebut.
Wilayah Kecamatan Dlingo yang berbukit memiliki potensi kekeringan saat musim kemarau seperti saat ini. Sehingga kebutuhan warga akan air cukup tergantung dengan kelestarian sumber mata air. Tak ayal, ritual menanam pohon dadap di Dusun Dlingo Satu digelar dengan sangat meriah.  Ratusan warga pawai mengelilingi kampung dengan tujuh buah gunungan. Bregada dengan seragam adat berada di barisan depan mengarak pohon dadap yang akan ditanam. Alat musik tradisional menjadi tetabuhan yang menambah semarak perjalan sejauh hampir 3 km tersebut. “Arak-arakan menuju ke tengah-tengah kampung di samping belik dadap untuk ritual,” terang Ketua Panitia, Sukasno.
Sukasno melanjutkan, setelah diarak keliling dusun beberapa tarian dipentaskan. Salah satunya sendratari yang menggambarkan tentang aktivitas masyarakat seperti bertani dan memlihara ternak dengan memanfaatkan air yang bersumber dari Belik Dadap. Lalu bregada membawa pohon dadap ke samping sumber air untuk ditanam oleh sesepuh kampung. Tiga gadis dengan pakaian layaknya penari keraton berada di barisan belakang dengan membawa sebuah kendi berisi air yang berasal dari Belik Dadap.
Ritual penanaman pun dimulai. Sesepuh Kampung membacakan doa di depan pohon dadap berbalut kain putih. Doa-doa ini diikuti oleh warga dalam ritual penanaman pohon saat itu. Barulah pohon dadap ditancapkan dan disiram menggunakan air dari kendi. “Dalam doa sebelum menanam tadi, kami memohon kepada Tuhan agar pohon yang kita tanam ini bisa lestari dan berumur panjang, sehingga sumber mata air di dudun kami tidak surut,” jelas Sukasno.
Dukuh Dlingo 1, Seno menuturkan bahwa pohon dadap atau biasa disebut oleh warga dengan dadap serep ini memiliki banyak manfaat. Salah satunya digunakan oleh warga untuk menurunkan demam pada anak yang sedang sakit. Daun pohon dadap yang berbentuk lebar itu akan di rendam dan ditempelkan pada dahi anak. Tidak lama, suhu anak yang sedang demam tersebut akan turun. Dadap serep bagi masyarakat Dlingo secara filosofi dijelaskan Seno dipercaya akan membawa ketenteraman dan kenyamanan. “Kalau pohon ini tidak mati, warga juga memanfaatkan untuk keperluan lain,” ungkapnya.
Sementara, salah satu warga, Markus mengatakan bahwa ritual ini memang tidak rutin dilaksanakan setiap tahun. Penanaman pohon dadap dilakukan ketika pohon dadap yang berada di samping belik mati. Sehingga ritual ini digelar dengan beberapa upacara sebelumnya. Markus menceritakan aliran air Belik Dadap sebelumnya sempat mati sesaat setelah terjadi bencana gempa bumi di Yogyakarta. Namun berjalannya waktu air kembali muncul dan berangsur-angsur debitnya kembali normal. “Setelah gempa tahun 2006 air belik mati, padahal seumur-umur meskipun kemarau panjang tetap mengalir,” ujarnya. (C1)

 

Related Post