DAMPAK KONFLIK INTERNAL, SISWA NGUNGSI, Hari Pertama Masuk, Siswa BTI Terusir dari Sekolahnya

Sugiyanto@ Selasa, 18 Juli 2017 17:47:44 Yogyakarta
Sekitar 45 siswa SD dan SMP Bhineka Tunggal Ika melakukan kegiatan belajar mengajar di Ndalem Notoprajan akibat polemik internal antara guru dan yayas

KRATON (MERAPI)- Di hari pertama masuk tahun ajaran baru 2017/2018, sekitar 45 siswa SD dan SMP Bhineka Tunggal Ika (BTI) Kranggan, Jetis, Yogya harus mengungsi ke pendopo Ndalem Notoprajan kompleks Kraton Yogya, Senin (17/7). Dipindahkannya pembelajaran siswa itu lantaran dampak polemik internal antara pengurus Yayasan BTI dan para pengajar.
"Pengelola yayasan mengganti kunci ruangan-ruangan sekolah, sehingga kami tidak bisa masuk. Makanya kami mencari tempat untuk kegiatan belajar-mengajar siswa dan dapat bantuan di tempat ini," kata Kepala SMP BTI, Theresia Nariza Maharani kepada wartawan di Ndalem Notoprajan.
Dia menuturkan, konflik bermula pada tahun ajaran 2016/2017 kemarin saat gaji guru yang diberikan tidak tepat waktu dan ada pemotongan tak jelas. Selama tiga bulan terakhir di tahun 2017, ujar dia, gaji para guru juga sempat tidak dibayar oleh Yayasan BTI.
Diakuinya, selama ini pernah ada mediasi antara guru dan yayasan, tapi dinilai tidak pernah ada solusi. Para guru dan kepala sekolah juga sudah melaporkan persoalan dengan yayasan itu ke Dinas Pendidikan (Disdik) setempat dan ke Ombudsman Republik Indonesia (ORI) DIY.
Menurut Theresia, para guru SD dan SMP BTI juga mendapat surat panggilan untuk wawancara ulang pembaharuan kontrak kerja guru dan karyawan. Namun mereka tidak hadir karena menilai ada maladministrasi oleh oknum yayasan dan pengelolaan keuangan yang tidak transparan. Para guru yang tidak hadir atas pemanggilan itu, lanjutnya, kemudian dianggap mengundurkan diri.
"Komite dan orangtua siswa masih mempercayakan mendidik anak-anaknya ke kami. Kami harap dalam waktu seminggu nanti proses belajar siswa bisa kembali menempati ruangan di sekolah," terangnya.
Salah seorang siswa SD BTI, Komang Pebi Ayu Dewantari merasa sedikit terganggu dengan pembelajaran yang tidak seperti biasanya. Dia berharap bisa segar belajar kembali di ruang kelas seperti biasanya. “Sudah ada pemberitahuan kalau pindah belajarnya kemarin. Ya sedikit terganggu belajarnya,” ujar Komang. 
Secara terpisah, Candra selaku operasional Yayasan BTI membantah jika ruangan kelas di BTI tak bisa digunakan belajar-mengajar. Dia menyatakan sebelum masuk tahun ajaran baru, pihak yayasan sudah berusaha mengontak orangtua siswa SD dan SMP BTI bahwa pembelajaran di tanggal 17 Juli 2017 ada di kompleks sekolah BTI. Tapi diakuinya, tidak semua dapat dikontak karena semua data kontak siswa dibawa oleh para guru yang tidak mengurus perpanjangan kontrak.
“Kami menengarai ada beberapa orangtua yang tidak tahu posisi sekolah BTI tetap bisa dipakai untuk sekolah. Beberap siswa hari ini juga masuk sekolah. Kegiatan belajar mengajar jenjang SMA BTI juga masih ada, kok dibilang sekolah ini tidak bisa dipakai,” papar Candra.
Terkait pembelajaran di luar sekolah BTI, menurutnya, harusnya jika pembelajaran dipindahkan ke lokasi lain harus disertai surat keterangan dari yayasan bahwa lokasi sekolah di BTI tidak dapat dipakai untuk belajar mengajar. Pihak yayasan hanya mengakui kegiatan belajar mengajar di sekolah BTI dan diajar oleh guru yang perpanjang kontrak baru.
“Kami sudah menempuh jalur yang ada. Kami yayasan terbuka. Saya mohon kebaikan hati pembina (guru) kalau ada masalah datang ke yayasan. Daripada murid jadi korban karena tidak tahu,” ucapanya.
Dia mengaku pihak yayasan BTI sudah memberikan tiga kali perpanjangan waktu untuk memperbarui kontrak. Tapi para guru itu tidak hadir dan memperbaharui kontraknya.
Kepala Disdik Kota Yogyakarta Edy Heri Suasana membenarkan sudah komunikasi dengan para guru BTI. Termasuk mengundang kedua belah pihak tapi belum tuntas. Pihaknya juga meminta pengawas sekolah datang ke sekolah untuk mendampingi dan mempertemukan kedua belah pihak.
“Ini masih dalam proses hukum sinergi, Kami akan tetap lanjutkan untuk menyatukan kedua belah pihak. Membina sekolah secara intensif. Yang penting pembelajaran ke anak-anak tetap difasilitasi dan dilayani,” pungkas Edy.(Tri)

Related Post