DISKUSI KEBANGSAAN PWS, Majukan Pariwisata, Andalkan Budaya Lokal

Sugiyanto@ Kamis, 20 Juli 2017 15:22:34 Sleman
HM Idham Samawi saat menjadi narasumber dalam Dialog Kebangsaan

DEPOK (MERAPI) - Mengembangkan sektor pariwisata tidak boleh lepas dari budaya asli masyarakat. Keanekaragaman budaya menjadi keunggulan tersendiri bagi bangsa Indonesia untuk menarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Budaya warisan nenek moyang justru menjadi magnet tersendiri di sektor pariwisata. Untuk itu, keberadaannya harus dilestarikan, jangan sampai tergerus perkembangan zaman.
"Kita tidak boleh mengorbankan budaya hanya karena mengutamakan keuntungan semata dalam mengembangkan pariwisata. Pepatah 'Di mana bumi dipijak, disitu langit dijunjung' menjadi pedoman dalam mengembangkan pariwisata," kata HM Idham Samawi, anggota DPR RI dalam Diskusi Kebangsaan dengan tema Kebangsaan Dalam Dunia Pariwisata yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) di STIPRAM Selasa (18/7).
Dijelaskan, bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku, ras dan budaya. Perbedaan itu adalah rahmat Tuhan Yang Maha Esa. Begitu pula sektor pariwisata, setiap daerah memiliki potensi dan ciri khas yang dapat dikemas menjadi daya tarik wisatawan. Keberagaman ini justru menjadi kekuatan dan andalan Indonesia untuk memajukan pariwisata.
Begitu pula makanan tradisional, kuliner ini harus menjadi menu andalan pelaku wisata. Bagi pengunjung lokal makanan tersebut mungkin tidak terlalu menarik. Tetapi wisatawan mancanegara menjadi daya tarik tersendiri. Di sisi lain, warga setempat mendapat keuntungan dengan produk yang mereka buat dengan hasil bumi sendiri.
"Kalau pelaku pariwisata mengutamakan makanan dari bahan dasar gandum, yang untung orang luar negeri. Gandum tidak cocok ditanam di sini. Tapi kalau makanan dengan bahan baku dari singkong, sagu, jagung atau tanaman lokal, petani kita yang untung," lanjut politisi PDIP ini.
Mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, I Gede Ardhika berpendapat, pariwisata tidak hanya dilihat dan mengutamakan segi ekonomi. Sektor ini juga berdampak pada rasa toleransi dan kebhinnekaan sesama bangsa Indonesia dan negara lain. "Toleransi antarnegara dapat dibangun lewat sektor pariwisata. Rasa persaudaraan, kedekatan antar bangsa juga menjadi tujuan pariwisata," ungkapnya.
I Gede menilai, saat ini pelaku pariwisata lebih mengedepankan target jumlah pengunjung yang harus meningkat setiap tahun. Wisatawan dianggap sebagai penghasil uang atau Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Paradigma ini harus diubah, sehingga dapat berdampak pada keberlangsungan sektor wisata.
Di samping itu, pengembangan destinasi wisata harus memprioritaskan peningkatan kualitas hidup, menghapus kemiskinan, memajukan kebudayaan dengan memperhatikan kelestarian lingkungan serta meningkatkan rasa cinta terhadap bangsa. (Awn)

Related Post