KI JURU KITING PANGLIMA PERANG MATARAM, Modal Nasi Liwet Satu Kepal

Sugiyanto@ Minggu, 23 Juli 2017 13:32:48 Kearifan
 Makam Ki Juru Kiting bersama keluarganya.

Sultan Agung geram prajurit Mataram kalah oleh perang gerilya yang dilakukan Madura. Oleh karena itu ia meminta Ki Juru Kiting untuk memimpin pasukan Mataram menggempur lagi Madura. Pilihan itu membingungkan di kalangan prajurit Mataram, bahkan pada diri Ki Juru Kiting sendiri.

MEREKA bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang yang sudah usur dan lumpuh diperintahkan untuk memimpin pasukan perang. Bukankah ini kesia-siaan belaka. Namun Sultan Agung percaya bahwa Ki Juru Kiting mampu menjalankan tugas itu dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu meskipun dengan ditandu Ki Juru Kiting berangkat ke Madura bersama pasukan Mataram.
Kedatangan pasukan Mataram di bawah Ki Juru Kiting ternyata mampu menumbuhkan moral juang pasukan Mataram baik yang tetap berkubu di Madura maupun pasukan Mataram yang baru.
Untuk membangkitkan keberanian pasukan Mataram dalam berperang Ki Juru Kiting hanya meminta dibuatkan nasi liwet. Setelah nasi liwet itu selesai dibuat maka nasi liwet itu kemudian dikepel (dibuat bulatan dengan menggunakan kepalan tangan).
Nasi yang telah dikepeli itu kemudian dibagikan merata kepada semua prajurit Mataram. Ajaibnya usai menikmati nasi pemberian Ki Juru Kiting ini semangat tempur prajurit Mataram tiba-tiba bangkit dan berkobar. Mereka tidak berpikir tentang sakit dan mati.
Oleh karena itu mereka semua diperintahkan oleh Ki Juru Kiting agar segera menggempur dan menaklukkan Madura. Dengan semangat perang yang berkobar pasukan Mataram pun kembali menyerbu Madura. Waktu itu semua pemimpin Madura masih satu keluarga sehingga datangnya pasukan Mataram dilawan habis-habisan oleh Madura.
Pada waktu itu Pamekasan berada di bawah kekuasaan Pangeran Ronggosukowati yang telah berusia lanjut dan memberikan tahtanya untuk putra dari selirnya yang bernama Pangeran Purbaya. Hanya Pangeran Purbaya pada saat itu belum cukup umur sehingga Pangeran Ronggsosukowati tetap mendampinginya.
Pangeran Ronggosukowati inilah yang menyatukan seluruh pemimpin Madura baik dari Pamekasan, Arosbaya, Sumenep, Blega, Madegan, maupun Mlojo untuk menghadapi serbuan Mataram. (Albes Sartono)
 

Related Post