KASUS DI SLEMAN TERTINGGI, KULONPROGO TERENDAH, Kekerasan Perempuan Rambah Masa Pacaran

Sugiyanto@ Minggu, 23 Juli 2017 15:48:00 Kulon Progo
Psikologi Rifka Annisa, Budi Wulandari

WATES (MERAPI) - Tindak kekerasan terhadap perempuan yang semula banyak dialami dalam rumah tangga, kini mulai terjadi pada masa pacaran. Hingga pertengahan tahun 2017 saja, sedikitnya ada sembilan kasus kekerasan dalam berpacaran yang ditangani organisasi pendamping perempuan, Rifka Annisa.
Dalam diskusi konselor Rifka Annisa bersama wartawan di Wates Kulonprogo, Kamis (20/7) terungkap, hingga pertengahan tahun ini sudah ada 140 kasus kekerasan yang ditangani organisasi tersebut. Berdasarkan data yang dijabarkan, selama Januari hingga 10 Juli 2017, kasus yang ditangani Rifka Annisa didominasi kekerasan terhadap istri (KTI) yakni sebanyak 104 kasus.
"Ini dialami perempuan usia 18 hingga 65 tahun," kata Konselor Psikologi Rifka Annisa, Budi Wulandari.
Sementara jumlah kasus kekerasan lainnya, selisih cukup jauh dengan KTI. Perkosaan yang ditangani Rifka Annisa berjumlah 17 kasus, kekerasan dalam berpacaran (KDP) sembilan kasus, pelecehan seksual lima kasus dan kekerasan dalam keluarga lima kasus. "Kekerasan yang dialami perempuan pada masa berpacaran memang ada. Kami menangani sembilan kasus, dialami perempuan usia 18 hingga 45 tahun," imbuh Wulan.
Jika dilihat dari lokasi kejadian, menurut Wulan kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan ke Rifka Annisa banyak terjadi di wilayah Sleman. Sementara angka paling rendah di Kulonprogo. Perempuan yang mengalami hal ini diminta tidak segan mengadukan ke Rifka Annisa untuk mendapatkan pendampingan.
"Karena kasus ini seperti fenomena gunung es. Pastinya banyak yang terjadi namun tidak dilaporkan kepada kami," sesalnya.
Wulan kemudian menjabarkan, ada 15 bentuk kekerasan yang dialami perempuan. Ini terdiri dari penghukuman bernuansa seksual, pemaksaan kehamilan, pemaksaan pernikahan, penyiksaan seksual, perdagangan perempuan, pemaksaan aborsi, eksploitasi seksual, perbudakan seksual, sunat perempuan, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan berbusana, prostitusi paksa, perkosaan, ancaman perkosaan dan pelecehan seksual. Beragam jenis kekerasan ini, dapat menimbulkan berbagai dampak. Selain dampak fisik, kekerasan juga menimbulkan dampak psikologis, kesehatan reproduksi, perilaku, bahkan sosial dan ekonomi.
"Korban bisa mengalami luka di bagian tubuh, ketakutan, keguguran, sensitif dan mudah marah, mengisolir diri, bahkan dijual, diterlantarkan juga dieksploitasi," ungkap Wulan.
Menariknya, dalam kesempatan tersebut Wulan juga mengungkapkan bahwa ada pula kekerasan yang dialami laki-laki. Biasanya, mereka datang ke Rifka Annisa lantaran mengalami kekerasan batin. "Misalnya istrinya selingkuh," ujarnya.
Meski demikian, jumlah kekerasan terhadap laki-laki masih sangat sedikit bila dibandingkan kekerasan terhadap perempuan. Sebagai upaya pencegahan dan solusi, Wulan mengimbau agar masyarakat terutama suami istri selalu menjaga komunikasi. "Harus saling terbuka dan menjaga komunikasi dengan baik agar keutuhan rumah tangga bisa terjaga," ujarnya. (Unt)

Related Post