Satradar 215 Congot Punya Radar Baru

Sugiyanto@ Minggu, 23 Juli 2017 15:49:52 Kulon Progo
Anggota Satradar 215 Congot berpartisipasi dalam donor darah.

TEMON (MERAPI) - Satuan Radar TNI AU (Satradar) 215 Congot, Kecamatan Temon, Kulonprogo, memiliki radar baru. Alat utama sistem persenjataan ini dipastikan lebih canggih dari radar yang terpasang saat ini, dengan radius jangkauan lebih jauh.
Rangkaian yang terdiri atas tiga kontainer, tiga truk, serta beberapa alat pendukung lain telah menempuh perjalanan darat dari Mako Kohanudnas Jakarta menuju Satradar 215 Congot, Kamis (20/7), dengan pengawalan POM Mabes TNI AU dan Korlantas Mabes Polri Jakarta. Radar baru ini juga datang bersama tim teknis dan tim operasionalnya. Pihak TNI AU kemudian memasang radar baru tersebut tanpa menurunkan radar lama sampai melewati masa uji coba.
"Setelah diinstalasi dan melaksanakan trial sampai selesai, radar baru ini akan mengantikan radar lama. Jadi masih menunggu sampai benar-benar siap beroperasi, baru radar lama diturunkan," kata Komandan Satradar TNI AU 215 Congot, Mayor Lek Joko Dwi Maryanto ST di sela acara donor darah memperingati Hari Bhakti TNI AU ke-70 di Aula Angkasa Kompleks Satradar 215 Congot kemarinn
Penggantian radar ini, menurut Mayor Joko lantaran mempertimbangkan kondisi radar lama yang sudah mulai mengalami degradasi. Radar lama Plessey AWS II dibuat tahun 1962 dan hanya bisa menampilkan target secara 2D. "Kalau yang baru ini produksi Denmark dengan harga sekitar Rp 190 miliar," ungkapnya.
Dijelaskan Mayor Joko, radar yang baru berjenis Weible. Ini merupakan radar terbaru di Indonesia dengan tahun produksi 2014. Kelebihannya memiki dua komponen besar yang terpisah, yakni Primery Survilance Radar (PSR) dan Secundery Survilance Radar (SSR).
PSR diketahui mampu menangkap dan mengidentifikasi target bergerak di wilayah udara tanpa transponder. Artinya, radar ini bisa mendeteksi seluruh pesawat atau media yang terbang di udara dalam radius 15nm atau sekitar 300 kilometer. "Radar ini bisa mendeteksi infiltirasi atau pesawat yang dengan sengaja terbang melewati batas wilayah udara NKRI dengan mematikan transponder. Karena itulah, terbilang sangat penting untuk mendukung tugas kami bidang pertahanan udara dalam mengamankan perbatasan laut dan udara," jelasnya. (Unt)

Related Post