SUMBER MULAI MENGERING, Warga Girimulyo Krisis Air Bersih

Sugiyanto@ Minggu, 23 Juli 2017 15:51:34 Dinamika
Anggota Polsek Girimulyo melakukan dropping air di SDN Jatiroto.

GIRIMULYO (MERAPI) - Memasuki musim kemarau, sumber mata air yang digunakan warga wilayah pegunungan termasuk Kecamatan Girimulyo Kulonprogo mulai mengering. Akibatnya, puluhan kepala keluarga di daerah tersebut kini kesulitan air bersih sehingga membutuhkan bantuan droping.
Di Kecamatan Girimulyo, kesulitan air bersih dialami warga tiga dusun di Desa Purwosari. Tidak hanya rumah tangga, krisis air bersih juga dialami sekolah yakni SDN Jatiroto di Dusun Wonosari.
Anggota Tagana Kulonprogo wilayah Girimulyo, Sutikno mengatakan, tiga dusun yang saat ini sudah mulai kesulitan air bersih yakni Dusun Ngroto, Wonosari dan Penggung. Sumber mata air di tiga wilayah ini sudah surut bahkan mulai kering. "Sempat ada yang benar-benar kering, namun terkadang ada hujan sehingga masih bisa dimanfaatkan masyarakat," kata Sutikno di sela droping air Polsek Girimulyo di SDN Jatiroto, Jumat (21/7).
Disampaikannya, warga yang terdampak kemarau dari tiga dusun tersebut sekitar 45 KK. Di Pedukuhan Ngroto, dari 115 KK, yang terdampak sekitar 15 KK, kemudian di Wonosari dari sekitar 130 KK yang sudah kesulitan air bersih 10 KK, sementara di Penggung dari 160 KK yang sudah kesulitan air bersih sekitar 20 KK.
"Kami sedang berusaha memetakan wilayah yang mulai mengalami kekeringan untuk melaksanakan droping, namun terkendala operasional menunggu Dinsos DIY. Proposal diminta masuk Dinsos paling lambat 24 Juli, setelah itu baru bisa dialokasikan droping air," jelasnya.
Menurut Sutikno, Kulonprogo diberi kuota air 350 tangki dari Dinsos DIY, dengan kapasitas per tangki 5.000 liter. Meski demikian, daya angkut sampai ke Girimulyo hanya 3.000 liter.
"Jadi memang tidak bisa maksimal," imbuhnya.
Di SDN Jatiroto, kesulitan air bersih sudah mulai dialami sejak dua pekan lalu. Menurut guru setempat, Bambang Setiawan, stok air dari sumur tadah hujan milik sekolah sudah habis. "Sedangkan air dari mata air yang dialirkan dengan pipa juga sangat minim," keluhnya.
Disampaikan Bambang, air yang keluar dari mata air selama ini digunakan untuk kebutuhan warga. Pihak sekolah hanya minta sebagian. Karena itulah, ketika sumber mata air mulai surut, untuk pemenuhan kebutuhan warga saja sudah kesulitan.
"Padahal pemberlakuan kebijakan lima hari sekolah membuat kebutuhan air bersih lebih banyak karena siswa dan guru pulang pukul 15.00 WIB. Air sangat dibutuhkan untuk kebutuhan MCK dan wudhu," jelasnya.
Kapolsek Girimulyo, AKP Fakhrurodin mengatakan, sebagai solusi atas persoalan kesulitan air bersih, pihaknya melakukan droping. Kegiatan ini menyasar sekolah, masjid, mau pun penampungan air untuk masyarakat. "Droping air akan kami lakukan sampai musim hujan tiba. Setiap hari rata-rata dua kali droping, mengangkut air 2.200 liter mengingat medannya sulit dan jaraknya cukup jauh. Sekali pengiriman kami menyuplai air 1.050 liter," urainya.(Unt)

Related Post