PERDAGANGAN ILEGAL MASIH MARAK, DNA Forensik Ungkap Asal Usul Hewan-Tumbuhan

Sugiyanto@ Minggu, 23 Juli 2017 16:05:38 Sleman
AYPBC Widyatmoko menunjukkan laboratorium DNA Forensik

PAKEM (MERAPI) - Perdagangan flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) secara ilegal semakin marak di Indonesia. Kayu-kayu ilegal yang diperdagangkan baik di pasar domestik maupun internasional diperoleh melalui cara-cara yang melanggar ketentuan perundangan, baik yang berhubungan dengan penebangan, pengangkutan, pengolahan dan jual belinya.
Demikian juga perdagangan fauna yang dilindungi tersebut bisa dalam kondisi hidup, maupun perdagangan bagian dari hewan tersebut yang memiliki nilai ekonomis tinggi seperti gading, cula, kulit, dan lain-lain.
Hal ini disampaikan Kepala B2P2BPTH Yogyakarta, Tandya Tjahjana dalam sambutannya pada Workshop DNA Forensik Flora dan Fauna di kantor setempat, Purwobinangun, Pakem belum lama ini.  Acara tersebut dihadiri sekitar 100 peserta dari berbagai instansi terkait seperti Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda DIY, Kepala Balai Besar Taman Nasional, Kepala Balai Taman Nasional, Kepala Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum LHK.
Menurutnya, walaupun Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya untuk menekan perdagangan ilegal flora dan fauna dilindungi yang tertuang dalam UU No 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, namun masih terjadi kesulitan dalam mengatasi beberapa masalah khususnya untuk mengidentifikasi jenis maupun asal-usul dari flora dan fauna yang dilindungi.
Dia berharap, workshop DNA Forensik Flora dan Fauna akan sangat bermanfaat untuk memberikan pengetahuan para peserta pentingnya DNA Forensik untuk pelestarian, pengelolaan, dan perlindungan flora maupun fauna asli Indonesia.  Masyarakat juga dapat membantu dalam penanganan kasus yang membutuhkan keakuratan dalam menentukan jenis dan asal usul flora maupun fauna asli Indonesia.
Workshop sehari ini memaparkan tentang  DNA Forensik Log Tracking untuk mendukung pengelolaan dan pengamanan flora  oleh  Anto Rimbawanto dan DNA Forensik untuk mendukung pengelolaan dan pengamanan fauna oleh AYPBC Widyatmoko. Peserta juga mendapatkan arahan dari Staf Khusus Menteri LHK Bidang Pembinaan Usaha Kehutanan Nuril Hakim Yohansyah, Staf Khusus Menteri LHK Bidang Koordinasi Jaringan LSM dan Analisis Dampak Lingkungan Hanni Adiati, Staf Khusus Menteri LHK Bidang Media Komunikasi Nova Harivan.(Awn)

Related Post