KASUS SUPORTER TEWASKAN WARGA, POLRES TEMANGGUNG BIDIK 10 OKNUM BCS

Senin, 31 Juli 2017 10:49:43 Berita Utama
TEMANGGUNG (MERAPI)- Polres Temanggung memastikan pelaku penyerangan yang menewaskan warga Temanggung adalah oknum suporter PSS Sleman dari kelompok Brigata Curva Sud (BCS). Polisi pun meminta pelaku lain, yang ditengarai berjumlah 10 orang untuk segera menyerahkan diri karena identitas mereka sudah diketahui. 
 
"Polisi sudah kantongi daftar nama berikut alamat rumah mereka yang melakukan penganiayaan. Maka itu pada anggota BCS yang melakukan penganiayaan untuk menyerahkan diri. Tidak perlu sembunyi atau melarikan diri," kata Kapolres Temanggung AKBP Maesa Soegriwo kepada wartawan, Sabtu (29/7).
 
Kapolres mengatakan, 10 orang yang jadi buron termasuk pelaku penusukan yang menewaskan korban. Sedangkan dua tersangka yang sudah diamankan, hanya ikut dalam rombongan itu.
 
Seperti diberitakan, satu orang meninggal dan tiga orang lainnya mengalami luka akibat dikeroyok suporter bola dari Sleman di jembatan Kembar Desa Bengkal dan di Desa Kranggan Kecamatan Kranggan, Temanggung, Minggu (23/7) dinihari lalu.
 
Awalnya, rombongan suporter PSS itu melintas di Temanggung dalam perjalanan dari Banyumas menuju Sleman. Sesampainya di dekat jembatan Kembar di Desa Bengkal, mereka mendapati tiga pemuda, Marga Damar Sabyoto (21), Ricky Ari Setyawan dan Andre Nur Rahmat semuanya warga Kranggan di tepi jalan. Tanpa alasan jelas, rombongan suporter ini menyerang ketiga korban menggunakan senjata tajam. Para korban menderita luka tusuk dan memar-memar.
 
Kemudian, rombongan suporter itu melanjutkan perjalanan. Sesampainya di pertigaan Desa Pare Kecamatan Kranggan, mereka mendapati ada dua pekerja pengepul cabe yang sedang menunggu truk pengangkut cabe. Keduanya juga dianiaya tanpa sebab. Akibatnya salah satu korban, Nanda (25) warga Secang, Magelang mengalami luka tusuk kemudian meninggal dunia dalam perjalanan ke rumah sakit. Sedangkan seorang temannya bisa melarikan diri. Usai kejadian itu, polisi mengamankan dua orang dan langsung dijadikan tersangka. Kepada polisi, kedua tersangka mengaku menganiaya korban karena busnya dilempari batu. Padahal, para korban bukanlah pelaku pelemparan batu itu.
 
Dia mengatakan, dua tersangka yang sudah diamankan memiliki peran berbeda dalam penyerangan itu. Seorang tersangka berperan memukul dan menendang dengan tangan kosong. Sedangkan seorang tersangka lagi memukul menggunakan pralon yang sudah diberi paku. Keduanya beraksi di Bengkal dan Pare. "Mereka beraksi bersama teman-teman yang lain yang kini melarikan diri," ujar AKBP Maesa. Untuk itu, pihaknya mengimbau pada terduga pelaku, yakni oknum Suporter PSS Sleman Brigata Curva Sud (BCS) yang masih berkeliaran untuk menyerahkan diri.
 
Dikemukakan, dimungkinkan tersangka akan lebih banyak lagi. "Setidaknya ada 10 orang (kemungkinan tersangka tambahan). Merekalah yang berperan melakukan penganiayaan hingga penusukan. Saksi-saksi yang dimintai keterangan juga menguatkan, kedua tersangka yang ditangkap bukan pelaku penusukan, tetapi memang terlibat penganiayaan," ujarnya. 
 
"Pelaku penusukan dan pelaku lainnya belum tertangkap dan kami terus memburunya," tambahnya. 
Dia mengemukakan, berdasar keterangan kedua tersangka yang sudah dibekuk, aksi penganiayaan dikerenakan mereka marah busnya dilempari batu oleh orang tak dikenal. Kemudian mereka menganiaya masyarakat yang ada di sekitar tempat itu sebagai pelampiasan kemarahan. "Jadi penyerangan itu salah sasaran," katanya.
 
Dikemukakan, dua bus diamankan di Mapolres Temanggung untuk dijadikan barang bukti kejahatan termasuk pralon berpaku dan sepeda motor. Dua bus yang diamankan, yakni Kopkar dan Aspada jalan beriringan bersama sepeda motor lain saat kejadian. Mereka mengangkut puluhan suporter PSS.
"Tersangka bakal dijerat pasal 351 KUHPidana tentang penganiayaan dengan ancaman lima tahun penjara," katanya. (Osy)

Related Post