Bandung Bagian Selatan Dibumihanguskan Supaya

Bandung Bagian Selatan Dibumihanguskan Supaya – Peristiwa di Bandung Lautan Api terjadi pada tanggal 23 Maret 1946 dan menjadi salah satu momen penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

Peristiwa Bandung Lautan Api terjadi pada tanggal 23 Maret 1946. Salah satu momen penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia adalah penghancuran dan pembakaran Bandung oleh rakyat dan tentara agar tidak dijadikan markas Sekutu. pasukan dan NICA (kepala).

Bandung Bagian Selatan Dibumihanguskan Supaya

Bandung Bagian Selatan Dibumihanguskan Supaya

Operasi Bumi Hangus di Bandung dianggap taktik yang paling ideal dalam situasi saat ini, karena kekuatan pasukan Republik Indonesia tidak tertandingi oleh pasukan sekutu dan NICA.

Ips Terpada Kelas 9 By Wico Wicaksono

Bandung Lautan Api menjadi salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah pertahanan kemerdekaan Indonesia dan diabadikan dalam berbagai bentuk seni seperti lagu atau film.

Beberapa minggu setelah Indonesia merdeka, pasukan Sekutu yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces of the Dutch East Indies) tiba di Indonesia menyusul kemenangan mereka dalam Perang Dunia II melawan Jepang.

Mohamad Ulli Purvasatriya, dalam kajiannya berjudul “Peran Sukanda Bratanggala dan Sevaka di Bandung Utara dalam Mempertahankan Kemerdekaan 1945-1948” (2014), mengatakan awalnya mereka datang hanya untuk membebaskan tentara Sekutu dari tahanan Jepang.

Namun ternyata Belanda atau NICA mendukung pasukan Sekutu dan ingin menguasai kembali Indonesia. Perlawanan tentara dan rakyat Indonesia disebabkan oleh kehadiran Belanda.

Jurnal Al Albab Tahun 2008 By P3m Stain Pontianak

Kronologis Peristiwa Bandung Lautan Api Pasukan sekutu mulai menyebarkan propaganda. Orang Indonesia diperingatkan untuk meletakkan senjata mereka dan menyerahkannya kepada sekutu mereka. Pihak Indonesia tidak mendengarkan ultimatum tersebut.

Tentara Indonesia membalasnya dengan menyerang markas Sekutu di Bandung utara, termasuk hotel Homan dan Preanger yang merupakan markas Sekutu, pada malam tanggal 24 November 1945.

Pada tanggal 27 November 1945, Kolonel Macdonald selaku Panglima Sekutu kembali mengeluarkan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat, Mr. Datuk Jamin agar rakyat dan tentara segera meninggalkan kawasan Bandung Utara.

Bandung Bagian Selatan Dibumihanguskan Supaya

Peringatan sampai pukul 12.00 pada tanggal 29 November 1945 dapat dilaksanakan. Jika tidak, sekutu akan bertindak kasar.

Alasan Kota Bandung Bagian Selatan Dibumihanguskan Oleh Pasukan Tkr Dan Rakyat Bandung Adalah

Ultimatum kedua diabaikan sama sekali. Beberapa pertempuran terjadi di Bandung Utara. Sasaran penyerbuan itu adalah pos-pos Sekutu di Bandung.

Pada tanggal 17 Maret 1946, Panglima AFNEI di Jakarta, Letjen Montague Stopford, memperingatkan Soetan Sjahrir selaku Perdana Menteri Republik Indonesia bahwa Tentara Indonesia harus segera mundur dari selatan Bandung dalam radius 11 kilometer dari pusat kota. Hanya pemerintah sipil, polisi, dan warga sipil yang dapat bertahan.

Setelah ultimatum tersebut, pada tanggal 24 Maret 1946 pukul 10.00 WIB, Tentara Republik Indonesia (TRI) di bawah pimpinan Kolonel A.H. Nasution memutuskan untuk membakar Bandung sampai rata dengan tanah.

Orang-orang mulai mengungsi. Sebagian besar menuju selatan rel kereta api ke arah selatan sejauh 11 kilometer. Setelah matahari terbenam, gelombang pengungsi meningkat.

Bandung Bagian Selatan Dibumihanguskan Supaya??​

Bumi hangus Bandung telah dimulai. Warga yang ingin keluar rumah dibakar terlebih dahulu. Pasukan TRI punya rencana lebih besar lagi.

TRI berencana membakar semuanya pada tanggal 24 Maret 1945 tengah malam, namun rencana ini tidak berjalan dengan baik, karena dinamit pertama meledak di gedung restoran Indische pada pukul 20.00.

Karena tidak sesuai rencana, pasukan TRI terus meledakkan gedung dan membakar rumah-rumah penduduk di Bandung Utara.

Bandung Bagian Selatan Dibumihanguskan Supaya

Kisah kepahlawanan terkait pembakaran kota Bandung oleh Nasution dan kawan-kawan kemudian melahirkan lagu perjuangan Halo Halo Bandung yang penulisannya masih diperdebatkan. Pendapat yang paling kuat menyatakan bahwa penciptanya adalah Ismail Marzouki. Alasan utamanya adalah dia adalah seorang komposer yang banyak menulis lagu-lagu nasional dan tinggal di Bandung. Ismail juga menjadi saksi mata peristiwa Bandung Lautan Api. Namun, tidak ada bukti kuat bahwa dia yang menggubah lagu tersebut. Pendapat lain yang menyanggah Ismail sebagai pencipta datang dari Pestaraj Marpaung (Bang Maung), seorang veteran perang. Dia adalah salah satu peserta dalam insiden Lautan Api Bandung. Menurut Bang Maung, seperti tertuang dalam buku Aku Memilih Mengungsi: Pengorbanan Rakyat Bandung untuk Kedaulatan (Ratnayu Sitaresmi, dkk., 2002), syair dan lagu Halo-Halo Bandung tercipta secara spontan. Anggotanya adalah para pejuang republik yang saat itu menjadi tokoh utama dalam sejarah Bandung Lautan Api. Tidak ada yang menulis lagu ini. Meski menuai kontroversi, lagu Halo-Halo Bandung menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Indonesia. Liriknya dengan irama yang menghentak juga membangkitkan semangat nasionalisme.

Aku Sangat Muda, Aku Sulut

Sementara itu, kisah Mohammad Toha dan temannya Ramdan yang tewas dalam ledakan gudang mesiu oleh pasukan sekutu, difilmkan oleh Usmar Ismail dengan judul: Toha Pahlavan Bandung Selatan.

Jokowi Jalan Sehat NU Abad I Bersama Puan, Ganjar dan Para Menteri Minggu, 22 Januari 2023, 09:12 WIB Ada sisa-sisa peristiwa Laut Api Bandung yang tersebar di berbagai penjuru Kota Bandung. Ada sekitar 10 titik tersebut yang tersebar di berbagai wilayah Kota Bandung. Mulai dari stilasi 1 yang berada di Dago hingga stilasi 10 yang berada di depan gereja Gloria.

Meskipun masyarakat Bandung pada umumnya mengetahui bahwa stilisasi Bandung Lautan Api itu ada sesuai urutan, namun stilisasi yang ada saat ini tidak menggambarkan urut-urutan peristiwa sejarah.

Berikut rangkuman jejak-jejak peristiwa Bandung Lautan Api dari satu titik stilisasi ke titik stilisasi lainnya dalam rangkaian peristiwa sejarah.

Peringatan Bandung Lautan Api, Ulas Lagi Yuk Sejarahnya!

Pihak Jepang berusaha menyembunyikan berita kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II agar tidak tersebar luas di kalangan masyarakat Indonesia, khususnya para pemuda. Aksinya gagal, Indonesia tetap merdeka, pemuda kantor berita ini langsung memuatnya di Buletin Berita Domei. Wartawan surat kabar Tjahaja Bandung menyambut baik kabar tersebut.

Rencananya adalah memuat berita proklamasi di halaman depan, tetapi rencana itu gagal karena diketahui oleh Jepang. Terakhir, para wartawan menulis berita pengumuman di papan tulis dan berdiri di depan kantor, serta membagikan selebaran dengan huruf merah yang diproduksi oleh percetakan Siliwangi. Pada hari yang sama, berita proklamasi menyebar dengan cepat ke seluruh kota Bandung.

Pengumuman itu membangkitkan semangat di antara orang-orang. Diluncurkan antara lain dengan menjaring berbagai instansi dan lembaga, antara lain Pos, Telepon dan Telegraf (PTT); Stasiun Radio, Kantor Perkeretaapian (DKA) dan Pabrik Senjata (ACW/AI). Ketika diplomasi gagal, kekuatan sering kali gagal. Dalam posisi tersebut, Hinomaru diturunkan dan digantikan oleh Merah Putih. Promosi ini rupanya sudah menyebar ke seluruh penjuru kota, seperti yang terjadi di Gedung DENIS Jl Braga. Oktober 1945.

Bandung Bagian Selatan Dibumihanguskan Supaya

Di tengah tawuran antara pemuda dan eks penghuni Belanda di gedung DENIS (De Eerste Nederlands Indische Spaarkas en Hypotheekbank), beberapa pemuda naik ke atap gedung dan menuju menara tempat bendera Belanda berkibar. Dua di antaranya, Endang Karmas dan Mulyono. Keduanya berlari melintasi atap, menaiki menara dan kemudian menaiki tiang bendera. Meski ada rintangan saat dia memanjat tiang bendera, dia mendengar suara tembakan, namun akhirnya dia bisa mengambil bayonet dan merobek bagian biru benderanya. Dan mengganti bendera putih dan merah.

Sejarah Nasional Indonesia

Pembentukan Komando I Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Jawa Barat dibagi menjadi tiga divisi. Salah satunya adalah Divisi III yang meliputi Bandung Residence. Divisi yang awalnya dipimpin oleh Kolonel Pada Oktober 1945, Aruji Kartavinata dinaikkan pangkatnya menjadi Kolonel. AH. Nasución Pada saat yang sama, resimen ke-8 yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Omon Abdurrahman dibentuk di Bandung. Markas Resimen 8 terletak di Nederlandsch Indische Levensvezekerings di Liffrente Maatschappij (NILLMIJ), sekarang gedung Asuransi Jiwasraya di sisi utara Alun-alun Bandung.

Resimen ini memiliki 6 batalion yang masing-masing bermarkas di Chikakak, Tegallega, Tsikadas, Ujung Berung – Chikalengka, Gedebaghe dan Lembang. Pada tanggal 13 Oktober 1945, pukul 09.00, saat pimpinan TKR sedang mengadakan rapat di gedung ini, konvoi pasukan komando Inggris tiba-tiba muncul. Karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya, semua otoritas kombatan mencurigai kedatangan mereka. Padahal mereka mengaku punya niat baik untuk mengorganisir tentara Jepang dan membebaskan para interniran Belanda. Ketika bumi hangus bermula saat peristiwa Lautan Api Bandung, gedung NILLMIJ menjadi salah satu gedung pertama yang terbakar.

Terlepas dari ultimatum AFNEI (Allied Forces of the Dutch East Indies), intervensi kombatan terhadap Inggris (dan NICA) di Bandung terus berlanjut. Pada 17 Maret 1946, Letjen Montague Stoford, Panglima AFNEI, mengeluarkan ultimatum kedua kepada Perdana Menteri Sjahrir agar pasukan Indonesia meninggalkan Bandung Selatan, 11 km dari pusat kota. Hanya pemerintah sipil, polisi, dan warga sipil yang dapat bertahan. Batas waktu ultimatum adalah 24 Maret 1946 tengah malam. Ultimatum kedua ini disiarkan di radio dan selebaran dijatuhkan dari udara di Bandung Selatan, membuat marah para pejuang muda.

Sjahrir kemudian mengutus Mayjen Didi Kartasasmitha (Panglima Komando Jawa Barat) dan Bapak Syafrudin Praviranger (Menteri Keuangan) ke Bandung. Syafrudin mengadakan pembicaraan dengan para pemimpin militan, sementara Didi diundang untuk meninjau kondisi kerusakan akibat serangan militan di seluruh kota. Menyusul kedatangan dua utusan Perdana Menteri Sjahrir, para pemimpin pemberontak mengadakan pertemuan untuk membahas ultimatum tersebut. Pada tanggal 22 Maret 1946 diadakan rapat di Simpangstig No. 7 di bawah pimpinan Komandan Resimen 8 Letkol Omon Abdurrahman. Dalam pertemuan tersebut muncul keinginan untuk melanjutkan perjuangan.

Minggu, 8 Februari 2015 By Beritapagi

Tempat itu digunakan sebagai kantin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan para pejuang muda dari kelompok paramiliter lainnya. Dapur ini dijalankan oleh Laskar Vanita (Lasvi), yang beranggotakan gadis-gadis yang bertarung di depan. Selain dapur umum, para pejuang wanita juga berjuang di garis depan sebagai prajurit medis. Ada juga anggota yang berperang melawan Tentara Inggris. Tentara Gurkha – pasukan India Inggris – ditakuti oleh sebagian besar tentara saat itu.

Namun dalam Pertempuran Bandung, beberapa kepala Gurkha terpotong oleh pedang para pendekar wanita. Susilavati bukan satu-satunya yang memenggal dan menyerahkan kepala prajurit Gurkha kepada Nasution. Willy, seorang pendekar Laswi, juga memenggal kepala seorang prajurit Gurkha. Dia kemudian menyerahkan kepala itu kepada Pangdam Laswa Sumira Yata. Seperti prajurit laki-laki, para pejuang wanita ini berjuang berdampingan untuk menghalau serangan Inggris. Keberanian menjadi citra tersendiri di kalangan prajurit saat Perang Bandung.

Panglima Divisi III Kolonel Nasution melakukan sederet persiapan untuk memenuhi perintah Perdana Menteri Sjahrir mundur ke selatan Bandung. Namun, Kolonel Nasution menegaskan bahwa Tentara Republik Indonesia

Bandung Bagian Selatan Dibumihanguskan Supaya

close