Berita  

Indonesia Negara Berpolusi Ke-17 Di Dunia, Ini Daftar 6 Kota Paling Tercemar

Jakarta-Indonesia menempati urutan ke-17 di antara negara-negara dengan tingkat polusi udara tertinggi di dunia menurut Laporan Kualitas Udara Global IQAir 2021.

Laporan tersebut juga mengungkapkan bahwa Jakarta kembali menjadi kota berpolusi nomor satu di Indonesia.

Secara keseluruhan, tidak ada negara dan hanya 3% kota di seluruh dunia yang memenuhi pedoman kualitas udara PM2.5 terbaru yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menurut Laporan Kualitas Udara Global IQAir 2021.

Laporan ini menganalisis polusi udara PM2.5 yang diukur di stasiun pemantauan udara di 6.475 kota di 117 negara, wilayah, dan wilayah.

Laporan Kualitas Udara Dunia IQAir 2021 adalah laporan kualitas udara global utama pertama berdasarkan pedoman kualitas udara PM2.5 yang diperbarui setiap tahun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan pedoman baru pada September 2021 dan telah menurunkan nilai pedoman tahunan saat ini untuk PM2.5 dari 10 g/m3 menjadi 5 g/m3.

Perlu dicatat bahwa kontaminasi partikel halus, yang dikenal sebagai PM2.5, umumnya diakui sebagai polutan paling serius.

Polutan udara ini telah dilaporkan secara luas sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap efek kesehatan manusia seperti asma, stroke, penyakit jantung dan paru-paru.

PM2.5 juga menyebabkan jutaan kematian dini setiap tahun.

PM2.5, polusi udara partikulat halus ini terdiri dari emisi dari pembakaran bensin, minyak, bahan bakar dan kayu, biasanya dari pembakaran dan pengasapan pembangkit listrik, proses industri, kompor, pemanas, asap kembang api, kayu rumah, dll.

Sumber alami PM2.5 dapat mencakup debu, jelaga, tanah, salinitas angin, spora tanaman, serbuk sari, dan asap api.

kota paling tercemar di indonesia

Kualitas udara Indonesia secara keseluruhan meningkat dari konsentrasi rata-rata PM2.5 sebesar 40,7 g/m3 pada tahun 2020 menjadi 34,3 g/m3 pada tahun 2021.

Namun, kualitas udara yang buruk di kota berpenduduk terbesar di Indonesia ini terus merusak populasinya.

Kualitas udara terburuk pada tahun 2021 adalah DKI Jakarta. Rata-rata konsentrasi PM2.5 tahunan di Jakarta pada tahun 2021 adalah 39,2 mcg/m3.

Meskipun konsentrasi rata-rata ini sedikit menurun dari 39.2μg/m3 pada tahun 2020, dipastikan bahwa konsentrasi rata-rata PM2.5, debu ultrafine yang disebabkan oleh polusi udara di ibu kota Indonesia, jauh melebihi pedoman WHO. Melebihi target.

Makassar, kota terbesar kelima di Indonesia, melaporkan penurunan 8% dalam konsentrasi PM2.5.

Terkait polusi udara yang masuk dalam Air Quality Report, dari enam kota terpadat di Indonesia yang dilaporkan di sini, Makassarman mengalami penurunan PM2.5 yang signifikan pada tahun 2021.

Penurunan konsentrasi PM2.5 di seluruh Indonesia disebabkan oleh penurunan yang signifikan di kota-kota berpenduduk jarang seperti Bogor, Pekanbaru dan Denpasar.

Hanya satu dari 26 kota di Indonesia yang dilaporkan di sini memenuhi pedoman target minimum yang direkomendasikan WHO untuk konsentrasi PM2.5 rata-rata 5 g/m3.

Dengan cara ini, kualitas udara di kota-kota terpadat di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, dan Semarang akan mengalami sedikit atau tidak ada peningkatan antara tahun 2020 dan 2021.

Di bawah ini adalah 6 kota paling tercemar di Indonesia pada tahun 2021, dengan tingkat konsentrasi rata-rata PM2.5 sesuai pengumuman IQAir 2021.

1- Jakarta (39.2)

2- Surabaya (34,8)

3- Bandung (33.4)

4 – Semarang (28,6)

5- Palembang 26

6- Makassar (13,5)

Sementara itu, beberapa kota yang masuk dalam daftar kota paling tidak berpolusi di Asia Tenggara adalah Samarinda, Kayo Agung, Banda Aceh, dan Palangkaraya.

Frank Hammes, CEO IQAir, mengatakan mengejutkan bahwa tidak ada kota atau negara besar yang menyediakan udara yang aman dan sehat bagi warganya sesuai dengan pedoman kualitas udara terbaru WHO.

Laporan ini menyoroti jumlah pekerjaan yang perlu dilakukan untuk memastikan udara pernapasan yang aman, bersih, dan sehat bagi semua orang.

Demikian disampaikan Hammes dalam keterangan tertulis yang diterima pada Selasa, 22 Maret 2022.

Manajer kampanye Greenpeace India, Avinash Chancha, menambahkan bahwa mengatasi krisis polusi udara membutuhkan pengembangan energi terbarukan, sumber daya, dan transportasi umum yang bersih dan mudah diakses. Solusi untuk polusi udara juga merupakan solusi untuk krisis iklim.

“Itu harus menjadi hak asasi manusia, bukan hak istimewa,” katanya.

Masalah kualitas udara di Indonesia

Kualitas udara yang buruk di Indonesia merupakan fenomena yang relatif baru. Sebelum 2013, perkiraan konsentrasi rata-rata tahunan PM2.5 tetap di bawah 15 g/m3.

Peningkatan konsentrasi PM2.5 meningkat secara signifikan pada tahun 2016, dengan level tertinggi pada tahun 2019 sebesar 51,7 g/m3.

Pada tahun 1999, pemerintah Indonesia memberlakukan Kebijakan Pengaturan Kualitas Udara yang menetapkan standar kualitas udara dasar dan batas emisi untuk mobil dan sumber daya industri.

Namun, kebijakan regulasi saat ini sudah ketinggalan zaman dan tidak cukup untuk melindungi kesehatan masyarakat di kota-kota besar Indonesia.

Contoh kebijakan yang tidak efektif termasuk praktik pembakaran untuk pengelolaan limbah dan deforestasi.

Pembakaran di udara terbuka dilarang berdasarkan Undang-Undang Kehutanan 1999, tetapi kedua proses tersebut umum dilakukan.

Tuduhan terhadap para aktivis memuncak pada putusan September 2021 oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat bahwa Presiden Joko Widodo, anggota kabinetnya, dan tiga gubernur setempat telah lalai memerangi polusi udara di Jakarta.

Pada tahun 2021, pemerintah Indonesia akan merevisi Standar Kualitas Udara Nasional (Peraturan Pemerintah No. 22/2021) yang akan menurunkan batas konsentrasi PM2.5 tahunan menjadi 15 g/m3.

Sorotan Masalah Kualitas Udara Indonesia Aspek penting dari laporan kualitas udara Indonesia ini adalah bahwa pembakaran terbuka masih sangat umum di Indonesia, meskipun ada kebijakan yang melarang praktik.

Sebagian besar lahan Indonesia diketahui telah dibuka dengan pembakaran terbuka untuk menggantikan hutan dengan tanaman komersial seperti kelapa sawit.

Jika Anda terus menebang hutan, tanah akan mengering dan mudah terbakar.

Akibatnya, kebakaran hutan sering terjadi di banyak wilayah di Indonesia, tidak hanya berdampak pada wilayah ini, tetapi juga wilayah sekitarnya dan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Provinsi Riau adalah wilayah pemadam kebakaran paling vegetatif di Indonesia, terhitung 60% dari total Indonesia.

Kebakaran hutan di Indonesia ini semakin meningkat frekuensi dan keparahannya serta paparan jangka pendek terhadap tingkat polusi yang parah.

Hal ini erat kaitannya dengan risiko dampak yaitu masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang, serta berbagai sektor termasuk ekonomi, masyarakat dan sektor lain yang akan terkena dampak masalah ini. (Elevon Pranetta / Kartika Suci Nurwigati Sumartingtyas)

Artikel ini telah diterbitkan dengan judul “Pencemaran Udara di Indonesia: Ini Daftar Kota Terpolusi. Jakarta dan Bandung Masuk 6 Besar”.