Berita  

Kebutuhan Pertalite Dan Solar Subsidi Melonjak, Pemerintah Belum Putuskan Penambahan Kuota

Jakarta – Pemerintah jelas belum memutuskan untuk menaikkan kuota subsidi Pertalit dan energi surya.

Direktur Utama Perusahaan Niaga dan Niaga PT Pertamina Patra Niaga milik Pertamina Alfian Nasution itu kini telah mengkonfirmasi proposal penambahan saham baru di JBT Solar.

Usulan tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPR RI ke-7 oleh Direktur Minyak dan Gas Bumi, Departemen ESDM, BPH Migas, dan PT Pertamina, Direktur Eksekutif ( Persero) Selasa (29/3) lalu.

Diusulkan untuk meningkatkan kuota solar bersubsidi menjadi 2 juta kiloliter.

Alfian mengatakan bisa menambah 1 juta kiloliter menjadi 2 juta kiloliter tanpa harus mengimpor dari Pertamina.

Sementara itu, belum ada usulan penambahan kepemilikan di JBKP Pertalite.

Alfian menjelaskan dalam diskusi virtual pada Senin (4/4) bahwa ”Tetapi jika ada indikasi akan ada lagi Pertalite, kami akan secepatnya berkonsultasi dengan BPH Migas untuk membahas penambahan stake.”

Seperti diketahui, konsumsi Pertalite meningkat terutama setelah kenaikan harga Pertamax per 1 April 2022.

PT Pertamina mencatat lonjakan konsumsi masih terjadi untuk bahan bakar pertalite (JBKP) dan solar (JBT) tertentu.

Alvian mengatakan, “Saat ini, kami memahami konsumsi Pertamax ke Pertalit sedikit bergeser 10-15%, yang mungkin karena guncangan harga.”

Konsumsi solar JBT juga meningkat dengan memperhitungkan selisih harga solar bersubsidi dan nonsubsidi sebesar Rp 8.000 per liter atau lebih. Selain itu, rasio ekuitas yang lebih rendah dibandingkan tahun lalu juga berperan.

Meski konsumsi meningkat, Alvian yakin stok Pertalite dan Solar bersubsidinya aman. Dia berada di level 19 dan 21 saya masing-masing.

Sebagai acuan, pangsa JBT Solar tahun ini ditetapkan sebesar 15,1 juta kiloliter. Sedangkan oplah hingga Februari lebih dari 2,49 juta kiloliter atau 10% dari kuota awal Februari 2022.

Hingga akhir tahun, konsumsi diperkirakan mencapai 14% dari kuota yang ditentukan, atau 16 juta kiloliter.

Tahun ini, kuota Bertalite ditetapkan sebesar 23,05 juta kiloliter. Hingga Februari 2022, konsumsi meningkat berdasarkan realisasi distribusi. Konsumsi Januari dan Februari tahun ini sebesar 4,25 juta kiloliter, 18,5% lebih tinggi dari kuota tahunan (YTD).

Hingga akhir tahun, konsumsi diperkirakan meningkat menjadi 26,5 juta kiloliter, meningkat 15% dari kuota 23,05 juta kiloliter.

Artikel ini tayang di KONTAN dengan judul Konsumsi Pertalite dan Subsidi Energi Surya, dan belum ada keputusan penambahan kuota.