Wisata  

Pelajari Mitos Anak Nakal Di Dieng, Jawa Tengah

Jika Anda penggemar lagu-lagu reggae, tentu Anda mengenal Bob Marley. pria berambut gimbal adalah salah satu penyanyi reggae terbaik.

Gaya rambutnya menjadi salah satu trend di kalangan masyarakat tertentu, termasuk para penggemar musik reggae. Rambut bengkok sering disebut sebagai gimbal.

Namun, ada anak yang terlahir dengan rambut gimbal di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Masyarakat percaya banyak mitos tentang bau daerah ini.

Anak-anak Dieng, dengan rambut acak-acakan dan bau, sebenarnya dianggap istimewa. Menurut mitologi yang berkembang di wilayah Dieng, mereka adalah penjelmaan dari Kayai Kolodite, dewa penjaga yang hidup di masa lalu.

Eki Satria menulis dalam Color Journal terbitan Juni 2017 bahwa anak-anak dengan rambut gimbal memiliki linuwih (kelebihan) dibandingkan dengan anak-anak gimbal. Orang Dieng tidak sembrono atau sombong dalam hal aroma.

Dalam jurnal Dieng berjudul Tradisi Ruwatan Rambut Gimbal, kehadiran rambut gimbal dalam keluarga dianggap sebagai berkah sekaligus pelindung dari mara bahaya. Tak heran jika semua permintaannya selalu dituruti.

Eki Satria menulis dalam jurnal ”Fenomena semacam ini sering terjadi pada masyarakat tradisional Jawa, mengingat masyarakat tradisional Jawa masih mempercayai kekuatan di luar manusia.”

Namun, fenomena bau di Dieng tampak aneh. Rambut ini tidak bisa dihilangkan dengan memotongnya. Ketika rambut mulai tumbuh lebih panjang, rambut gimbal tumbuh kembali.

Untuk menjadi normal, Anda harus melalui ritual ruwatan memotong anak gimbal. Perawatan ini tidak bisa dilakukan sewaktu-waktu karena memerlukan persiapan khusus dan tentunya membutuhkan biaya untuk pelaksanaannya.

Ruwatan biasanya dilakukan dengan mengadakan acara selamatan dan persembahan tumpeng. Orang tua juga harus mencari pengobatan atau mengikuti permintaan anak, yang biasa disebut vebono.

Arti dari memotong wewangian itu sendiri adalah upaya dan tradisi untuk menyucikan tubuh dan pikiran seseorang dari pengaruh jahat, sehingga menghindari campur tangan kekuatan gaib dalam kehidupan dan perkembangan seseorang.

Rangkaian dimulai beberapa hari sebelum ruwatan selesai. Para tetua adat berziarah ke tempat keramat dan membawa air dari tujuh mata air di Dataran Tinggi Dieng.

Untuk meringankan beban warga yang mengasuh anak bermasalah, masyarakat setempat berinisiatif menggelar acara Luwatan skala besar. Anda dapat berbagi sebagian biaya pemeliharaan keselamatan dengan Ruwatan.

Bahkan, belakangan ini kegiatan Luwatan ini menjadi kegiatan budaya yang bernilai jual. Banyak wisatawan yang ingin melihatnya di Dieng Cultural Festival.

Kisah Kyai Kolodite di halaman selanjutnya

Masyarakat Dataran Tinggi Dieng percaya bahwa bocah berambut gimbal itu adalah jelmaan Kyai Kolodite. Sosok ini dianggap sebagai sosok suci di masa lalu dan penjaga masyarakat.

Kyai Kolodete yang garang ini adalah anak dari Kyai Badar, wali kota pada masa kejayaan Mataram. Keajaiban Kyai Badar jauh melampaui kesaktian Kyai Kolodite.

Ketika ada pemilihan walikota, Kyai Kolodite didorong untuk memimpin masyarakat. Namun ternyata hal itu tidak disetujui oleh penguasa Mataram. Hal itu membuat Kyai Kolodite kecewa dan kesepian.

Dalam doa dan meditasi, Kyai Kolodite memohon kepada Tuhan kesempatan untuk terus melindungi umatnya.

Mereka bahkan bersumpah jika keinginan mereka tidak menjadi kenyataan, mereka akan mencurahkan jiwa mereka pada anak yang baru lahir atau anak yang baru mulai berjalan. Sebagai tanda kemunduran, anak tersebut memperoleh rambut gimbal dan dianggap sebagai cucu dari Kyai Kolodete yang memiliki kesaktian.