Wisata  

Sejarah Dan Makna Jalan Malioboro

Kawasan Malioboro tidak boleh dilewatkan jika Anda berada di Yogyakarta. Di masa lalu, namanya ditulis berbeda.

Jalan Malioboro adalah salah satu lokasi paling ikonik dan penting di Jogja. Keberadaan Jalan Malioboro yang kini menjadi objek wisata sudah terungkap sejak Keraton Yogyakarta dibangun.

“Jalan Malioboro sebenarnya adalah jalan utama menuju keraton. Tentu pembangunannya berbarengan dengan pembangunan keraton sekitar tahun 1755,” kata budayawan Ahmad Charis Zubair.

Charis mengungkapkan, nama Malioboro sudah digunakan sejak awal jalan. Saat itu, pendiri Keraton Yogyakarta, Pangeran Mangkubumi atau Sri Sultan Hamengku Buwono I, sudah menamai jalan Malioboro.

“Itu hanya ejaan dengan Y atau Maliyabara,” katanya.

Malioboro bukan sekedar nama. Charis menjelaskan, nama itu merupakan bagian dari poros filosofis Tugu Jogja, Jalan Margoutomo, Jalan Maliyabara, dan Jalan Margomulya.

“Arti Tugu Golong-gilig atau Tugu Pal Putih menuju selatan adalah perjalanan manusia menuju Sangkan Paraning Dumadi. putih, , ” jelasnya.

Kemudian Charis berbicara melalui jalan utama selatan melalui Margatama atau melalui Jalan Maliyabara yang berarti keberanian. “Kalau ke selatan untuk memuliakan Jalan Magomulyo, ujung-ujungnya malah dikutuk atau terbawa nafsu negatif,” ujarnya.

Namun, Charis kemudian mengklaim bahwa nama Malioboro berasal dari Marlboro, sebuah bangunan milik jajahan Belanda.

Budayawan Kotagede ini menjelaskan, ”Namun sejauh ini belum ada data yang mendukungnya. Padahal Malioboro sudah ada sebagai pemecah masalah sejak awal berdirinya Keraton.”

Charis mengatakan dalam perkembangan awal, konsep Jalan Malioboro sebenarnya merupakan pusat perekonomian. Hal ini terlihat dari keberadaan pasar Beringharjo yang merupakan bagian dari gatra catur tunggal.

“Sebenarnya bagian dari Catur Gatra Tunggal pada awalnya, atau empat elemen kota, ada keraton, alun-alun, candi, dan pasar,” katanya.