Serat Wulangreh Iku Anggitane

Serat Wulangreh Iku Anggitane – Serat Wulangreh (Jawa: ꧋ಱಕ್ಟಿಕ್ಗುಕುಗುಗಿದಿದಿಕಿಕ್ಕ್ಕ್ಕುಕುಕುಕುಕುಗುಕ್ಕ್ಕ್) adalah karya sastra dalam bentuk lagu Macapat oleh Sri Susuhunan Pakubuwana IV, raja Surakarta, lahir 1786-1992. 1 Oktober 1820.

Kata Wulang identik dengan kata pitutur yang berarti ajaran. Kata Reh berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti jalan, aturan dan tingkah laku seperti memperoleh atau meminta. Wulang Reh dapat diartikan sebagai ajaran untuk mencapai sesuatu. Sesuatu yang dimaksudkan dalam karya ini adalah amalan menuju kehidupan yang harmonis atau sempurna. Untuk lebih jelasnya berikut lagu beserta arti kata tersebut :

Serat Wulangreh Iku Anggitane

Serat Wulangreh Iku Anggitane

Artinya ilmu dapat dipahami/dikuasai dengan cara, cara mendapatkannya melalui uang tunai, artinya uang berusaha untuk memperkuat karakter, pikiran (karakter) yang kuat akan menjauhkan diri dari sikap kurang ajar.

Serat Wulangreh Pupuh Gambuh (accessibility View)

Dari makna lagu tersebut, perilaku merupakan langkah atau cara untuk mencapai akhlak mulia, bukan ilmu dalam arti ilmu, seperti yang sering kita jumpai saat ini. Institusi pendidikan lebih fokus pada kajian ilmu pengetahuan dan mengesampingkan pengajaran moral dan etika.

Salah satu ciri karya ini adalah tidak banyak menggunakan bahasa Jawa kuno (kuno), sehingga lebih mudah dipahami pembaca.

Namun ada hal yang perlu dicermati karena karya tersebut merupakan sinkretisme Islam-Kejawen, atau bukan sepenuhnya ajaran Islam, sehingga akan menimbulkan perbedaan sudut pandang bagi pembaca yang berbeda etologi.

Jika dilihat dalam bentuk tulisannya, Wulang Reh banyak ditemukan dalam disertasi, tesis, tesis, term paper, bahkan bisa ditemukan di dunia maya. Tulisan tentang Wulang Reh umumnya menggali isi atau makna yang kemudian mengarah pada interpretasi isi Wulang Reh, seperti nilai-nilai luhur, akhlak dan budi pekerti (ada yang menyebutnya etika), nilai agama, dan ajaran kepemimpinan. .

Tolong Jawab Pertanyaan Aksara Jawa No 37 Dan 39​

Melakukan penelitian dari aspek kepemimpinan dalam Serat Wulang Reh. Kesimpulannya : Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak bermalas-malasan, lemer, gendut, angrong pasanakan, nyumur gumiling, sergap celurit, adigang, adigung dan adiguna. Sebaliknya, seorang pemimpin harus jujur, tidak mengharapkan hadiah dari orang lain, rajin beribadah dan rajin melayani masyarakat.

Serat wulangreh, terjemahan serat wulangreh, serat wulangreh pupuh pangkur, serat wulangreh pupuh gambuh

close