Serat Wulangreh Iku Anggitane

Serat Wulangreh Iku Anggitane – Serat Wulangreh (bahasa Jawa: ꧋겱까ꦠꦫ꧀ꦮꦧꦭꦁꦫꦃ꧉) lahir pada tanggal 9 November s/d 8 September Raja IV Surakarta. Ini adalah karya yang ditulis oleh Sri Susuhunan Pakubuwana dalam bentuk tembang macapat. 1 Oktober 1820.

Kata wulang mirip dengan kata pitutur yang artinya mengajar. Kata reh berasal dari bahasa Jawa kuno yang berarti cara, aturan dan tata cara bagaimana mendapatkan apa yang dibutuhkan. Wulang Reh dapat diartikan sebagai mengajarkan cara melakukan sesuatu. Hal lain yang dimaksud dalam karya ini adalah belajar hidup seimbang atau sempurna. Untuk lebih jelasnya, lagu berikut ini memiliki arti kata tersebut:

Serat Wulangreh Iku Anggitane

Serat Wulangreh Iku Anggitane

Artinya ilmu bisa dipahami/dimiliki dengan cara lain, cara mendapatkannya adalah uang tunai, yaitu berusaha memperkuat karakter uang, kuat pikiran (karakter) menjauhkan diri dari sifat keengganan.

Pdf) Critical Analysis Of Javanese Epistemology And Its Relevance To Science Development In Indonesia

Berdasarkan makna lagu tersebut, latihan merupakan langkah atau cara untuk mencapai perilaku yang baik, bukan ilmu pengetahuan yang sering kita jumpai saat ini. Institusi pendidikan lebih fokus pada pembelajaran ilmiah dan mengesampingkan ajaran moral dan etika.

Salah satu keistimewaan karya ini adalah tidak menggunakan bahasa Jawa kuno (kuno), sehingga mudah dipahami pembaca.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan karena karya ini bukanlah sinkretisme Islam-Kejawen atau murni ajaran Islam untuk memberikan pandangan berbeda kepada pembaca yang berbeda etologi.

Seperti yang ditunjukkan oleh sifat tulisannya, Wulang Reh dapat ditemukan dalam disertasi, tesis, disertasi, makalah, dunia maya. Tulisan-tulisan Wulang Reh sering mengkaji isi atau makna yang akan mengarah pada interpretasi isi Wulang Reh, seperti akhlak yang baik, akhlak dan etika (ada yang menyebutnya etika), nilai-nilai agama, ajaran tentang kepemimpinan.

Modul Bahasa Jawa Kl 7 K13 Smt Gasal Fik

Melakukan penelitian dari perspektif kepemimpinan di Serat Wulang Reh. Kesimpulannya: Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tidak malas, lemer, tergesa-gesa, angrong pasanakan, nyumur gumiling, kapak sembunyi, adigang, adigung, dan adiguna. Sebaliknya, pemimpin harus jujur, tidak mengharapkan hadiah dari orang lain, aktif beribadah dan aktif melayani masyarakat.

Serat wulangreh pupuh gambuh, serat wulangreh pupuh pangkur, serat wulangreh, terjemahan serat wulangreh

close